Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 89


__ADS_3

Setelah kepergian Ziva, Lolan lebih memilih menyibukkan diri dengan berbagai macam dokumen yang harus dia baca, analisis, dan yang pasti mencari letak keuntungan untuknya, setalah sesuai, barulah Lolan membubuhkan tanda tangannya yang berharga.


Menyibukkan diri dengan bekerja adalah cara bagi Lolan untuk menepikan pikirannya yang terus membayangkan Ziva. Lihatlah bagaimana dia tetap sulit untuk fokus, sesekali dia merasai bibirnya, entah kenapa bibir kenyal Ziva yang terasa manis sulit untuk dia lupakan. Lolan merasa bahwa dirinya telah gila, gila akan Ziva.


Beberapa jam kemudian, Lolan mengusap pelan matanya yang perih. Tidak terasa senja telah tiba. Karena merasa tubuhnya sangat lelah, Lolan bangkit, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara patahan dari otot-otot tubuhnya yang kaku.


Lolan menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Tapi, Ziva masih juga belum kembali, entah kemana Sang Mommy membawa Ziva pergi? Lolan benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin Mommy-nya tega membawa pergi Ziva.


Menggelengkan kepalanya agar dapat melupakan Ziva sejenak. Lolan mengambil gelas berisi kopi hitam yang isinya tinggal separuh. Membawa kopi itu bersamanya menuju balkon. Berdiri di balkon, Lolan memandang jingganya senja yang indah.


Tiba-tiba saja Lolan melihat wajah cantik Ziva yang terukir dari awan-awan lembut. Sangat cantik, sungguh Lolan tak sabar menunggu Ziva pulang, tak sabar menunggu malam tiba di mana Ziva akan menyerahkan diri seutuhnya kepada dirinya.


Membayangkan malam panjang itu, tanpa sadar Lolan melengkungkan bibir tipisnya hingga membentuk senyuman yang begitu menawan bak madu yang terlewat banyak yang dapat memabukan semut-semut kelaparan.

__ADS_1


Lolan menatap ke bawah, pandanganya fokus ke gerbang yang jauh di depan sana. Berharap ada mobil yang masuk yang akan menjadi pertanda Ziva telah pulang. Karena bosan menunggu, Lolan kembali masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu yang terhubung ke balkon karena merasakan angin mulai berhembus kencang.


Tiba di kamar, Lolan meraih handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dipenuhi keringat yang terasa begitu lengket.


Tiba di kamar mandi, Lolan langsung melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Kemudian, Lolan menghidupkan shower. Gemercik air mulai membasahi kepalanya yang berlanjut pada sekujur tubuh kekarnya.


Mengingat malam ini akan menjadi malam panjang untuknya dan Ziva, Lolan membersihkan tubuhnya dengan begitu detail. Setiap inchi di tubuh kekarnya dia bersihkan dengan sabun khusus untuk kulitnya.


Setiap jengkal tak luput dari pandangan Lolan, dia benar-benar memperhatikan tubuhnya. Tidak boleh ada sedikit kotoran pun yang menempel, semua harus bersih dan wangi pastinya.


Setelah merasa tubuhnya sudah benar-benar bersih sempurna, barulah Lolan membilas tubuhnya menggunakan shower. Hampir satu jam Lolan di kamar mandi, itu adalah waktu mandi paling lama baginya, karena biasanya Lolan hanya butuh waktu lima belas menit untuk membersihkan tubuhnya. Namum, kali ini Lolan melakukan semua yang terbaik.


Setelah selesai membilas tubuhnya hingga tidak lagi terasa licin, Lolan meraih handuk mini yang tadinya di bawa. Lolan melilitkan handuk mini itu di pinggang kekarnya. Karena handuk itu sangat mini, jadi hanya dapat menutupi bagian pangkal pahanya saja.

__ADS_1


Kemudian, Lolan keluar dari kamar mandi seraya menyeka rambutnya yang masih basah. Tiba di luar kamar mandi, Lolan menghentikan langkahnya kala hidung tajamnya mencium aroma khas tubuh Ziva.


Saat itu juga, Lolan mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Melihat seorang gadis cantik terbaring dengan gaun putih seksi di atas ranjang, Lolan membulatkan matanya sempurna, jak*nnya turun naik karena hasratnya kembali membuncah.


"Lolan Sa-sayang ... A-ku siap, malam ini, aku adalah milikmu ....





.

__ADS_1


.


.


__ADS_2