Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 92


__ADS_3

Di bawah umur tolong skip. Emak-emak cari bapak dulu. Yang cukup umur belum punya paksu tolong siapkan minuman dingin kesukaan, jangan lupa kipas anginnya juga😌💃


***


"Uuuhhhh ..." rintih Ziva menahan geli dan dua kenikmatan sekaligus, ketika Lolan menekan cuping tengah di kedua gundukannya sambil tetap men yesap ceruk lehernya.


"Ge-geli," ringis Ziva membuat Lolan menyingkirkan mulutnya dari ceruk leher Ziva.


"Tapi kamu suka, kan?" Lolan tersenyum lembut menatap Ziva sedangkan tangannya masih memainkan gundukan itu, membuat wajah Ziva begitu memerah kala nafsunya semakin membuncah.


"Jang-an me-lihat-ku," Ziva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lolan tersenyum menatap Ziva, otak liarnya bekerja, dia ingin membuat Ziva melayang di udara dengan permainan tangan nakalnya.


"Ahh, pelan!" ringis Ziva langsung menurunkan tangannya, mendaratkan kedua tangannya di tangan Lolan yang terus me re masnya, membutanya merasakan sensasi lebih dari saat berciuman tadi.


Lolan tak peduli, dia terus me re mas kedua gundukan Ziva yang masih terbungkus kain itu. Membuta Ziva serba salah saat geli dan nikmat itu terus menghujamnya lagi dan lagi.


"Keluarkan saja, jangan ditahan," imbuh Lolan meminta Ziva untuk tidak menahan lenguhannya.


"Lo-lan," panggil Ziva saat Lolan mulai memebuka resleting gaun yang dia kenakan.


"Tidak perlu malu," bisik Lolan lembut di telinga Ziva, Ziva menghela napas beberapa kali, meyakinkan hatinya bahwa dirinya benar-benar telah siap.


Ketika resleting itu mulai turun sepenuhnya, Lolan mecari ujung gaun Ziva, menyingkapnya ke atas secara perlahan. "Angkat tanganmu," pinta Lolan, awalnya Ziva ragu, tapi pada akhirnya dia pasrah.


Ketika Ziva mengangkat kedua tangannya, Lolan menaikan gaun yang Ziva kenakan, hingga gaun itu berpisah dari tubuh mungil Ziva. Lagi-lagi Lolan terbelalak kala menatap tubuh indah Ziva membuatnya semakin menggila.


Karena malu saat melihat Lolan yang terus menatap tubuhnya, Ziva langsung melipat kakinya, menutup kedua gundukannya yang sedikit menyembul dari bra berwarna merah yang kini menutupinya.


Lolan melempar gaun Ziva ke sembarang arah, dengan tangannya, dia menyingkirkan tangan Ziva yang menghalangi pemandangan indah yang kini ada di hadapannya.


Lolan menuntun Ziva hingga terbaring di ranjang, sedangkan dirinya berada di atas mengukung tubuh Ziva. Lolan mengangkat kedua tangan Ziva ke atas, mengunci tangan itu agar tak lagi menggangunya.


Lolan memandang Ziva penuh cinta, begitu pun sebaliknya, Ziva juga memandang Lolan penuh cinta. Tapi, dengan kedua pipinya yang sudah semerah tomat kala malu karena tubuhnya hanya mengenakan bra dan juga cd berwarna merah menantang.


"Aku mencintaimu, Zivanya," ujar Lolan lembut.


"A-aku ju-juga," balas Ziva terbata.


"Juga apa?" goda Lolan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Lolan!" tegas Ziva langsung mengalihkan pandangannya ke samping karena malu dengan pengakuannya barusan. Sedangkan Lolan merasa sangat senang mendengar pengakuan Ziva. Dia memposisikan wajah Ziva untuk kembali menatapnya. Lolan mengecup kening yang dipenuhi peluh keringat, kemudian mengecup kedua mata, hidung, kedua pipi, dan berakhir kembali me lu mat bibir ranum Ziva yang menjadi candu baginya.


Setelah menari ria di rongga mulut Ziva, Lolan kembali turun ke bawah. Bukan ke ceruk leher, melainkan langsung ke dua gundukan bulat Ziva yang berukuran begitu ideal baginya, tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, yang pasti Lolan sudah lama mendambakan bagian sensitif itu.


Lolan menyelinapkan tangan nakalnya, mencari pengait bra yang ada di belakang tubuh Ziva, begitu menemukanya, Lolan langsung melepaskan ikatan itu sambil tetap men yesap gundukan yang sedikit menyembul.


Lolan mengangkat tubuhnya, kemudian menarik perlahan bra yang menutup gundukan kenyal Ziva. Mata Lolan seakan terhipnotis dan tak berpaling dari pandangan gundukan sintal dan kencang milik Ziva. Tak sabaran Lolan langsung me re mas lembut, membuat Ziva serba salah kala rasa nikmat menjalar ke seluruh aliran darahnya.


"Uuuhh ..." lenguh Ziva saat Lolan meng ulum cuping tengahnya yang berwarna coklat kemerahan, membuat benda berbentuk chocohip itu menggerus sempurna.


"Lo-lan pelan, emm ..." mohon Ziva tak kuasa menahannya.


Lolan seakan tuli tak mendengarkan permohonan Ziva, dia terus saja me re mas, men yesap, me lu mat, meme lintir, bahkan meng gigit, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Lolan begitu amat sangat puas, rintihan Ziva mampu membuat hasratnya kian membuncah seperti akan meledak.


Permainan lidah Lolan semakin turun ke bawah, berhenti di perut Ziva, tak lupa memberikan tanda kepemilikan di sana. Tangan kirinya masih me re mas salah satu gundukan Ziva, sedangkan tangan kanannya menyelinap masuk ke dalam cd yang kini Ziva kenakan.


"Uuuhhh ..." Ziva kembali mengerang saat Lolan mengusap pelan bagian intinya di bawah sana. Mendengar lenguhan Ziva membuat Lolan semakin bersemangat untuk memberikan pelayan terbaiknya kepada Istrinya tercinta, Ziva.


Lolan berhenti bermain di gundukan Ziva juga di perut Ziva, kini dia hanya fokus mengelus pelan bagian inti Ziva, membuat Ziva mengangkat tubuhnya seakan menggapai rasa nikmat yang kini ada puncak tubuhnya.


Lolan menghentikan gerakan tangannya, membuat Ziva dapat kembali bernapas lega. Perlahan, Lolan menurunkan kain terakhir yang membalut bagian paling inti tubuh Ziva.


"Jangan melihatnya terus," bukannya menutup pangkal pahanya, tapi Ziva malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seakan melihat ekspresi wajah Lolan adalah yang paling menakutkan baginya.


Lolan tersenyum melihat Ziva yang masih malu-malu, dia mendekat ke pangkal paha Ziva, membuka paha Ziva lebar-lebar. Kemudian memainkan tangannya di sana.


"Ahhhh, Lo-lan," lenguh Ziva saat Lolan kembali mengusap bagian intinya.


"Lolan, sakitt," Ziva meringis ketika Lolan menancapkan salah satu jarinya di sana.


"Lalan, sakit. Kumohon hentikan," kembali Ziva meringis tapi Lolan tetap fokus dan mempercepat ritme permainan jarinya. Ziva melengkungkan tubuhnya saat berhasil menggapai rasa ternikmat yang melanda dirinya.


Lolan mencium kening Ziva lembut, sedangkan Ziva masih terpejam sambil mengatur napasnya usai mendapatkan pelepasan pertamanya.


Ketika Ziva membuka kedua matanya, Lolan menyambutnya dengan tersenyum kecil. "Tidak sakit, bukan?" goda Lolan membuat Ziva semakin merasa malu.


"Apa boleh dilanjutkan?" tanya Lolan setelah mencium lembut kening Ziva. Ziva yang masih terengah hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab.


Lolan kembali bengkit, menyingkirkan handuk mini yang melingkar di tubuhnya, kemudian langsung mengarahkan senjata pusakanya yang telah berdiri sempurna.

__ADS_1


Ziva mengalihkan pandangan ke samping, menatap benda keras berukuran jumbo itu sungguh membuatnya ragu untuk lanjut. "Aku akan melakukannya perlahan, tidak perlu takut," imbuh Lolan menuntun wajah Ziva untuk kembali menghadap padanya. Hingga Ziva mau tak mau harus melihat apa saja yang dilakukan senjata siap tempur berukuran tak biasa itu.


Ziva melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Lolan mengarahkan benda keras itu ke dalam tubuhnya, siap membuat penyatuan yang menggelora. Ziva masih bisa bernapas lega saat Lolan hanya mengeluskan benda keras itu pada intinya.


Namun, Ziva memejamkan mata saat merasakan benda keras itu seakan melukai bagian intinya di bawah sana. Lolan membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Ziva, memposisikan diri, menekan semakin dalam dengan begitu perlahan.


"Sudah, Lolan. Sakiiitttt ..." mohon Ziva agar Lolan melepaskannya.


"Baru masuk dua senti, Sayang. Tanggung, maaf," sahut Lolan tetap menekan perlahan, berusaha menerobos pertahanan Ziva.


Lolan menekan lagi sekuat tenaga tapi tetap dengan perlahan. Saat baru masuk setengahnya, sekitar sepuluh sentimeter, Lolan menariknya, barulah kemudian menekannya lagi. Begitulah seterusnya hingga senti demi senti berhasil masuk. Sedangkan Ziva terus memohon agar Lolan menghentikan kegiatannya. Namum, tidak mungkin Lolan menghentikan kegiatan yang sudah dia tunggu-tunggu selama ini.


"Maaf, Sayang. Sakitnya hanya sebentar, tidak akan lama, bertahanlah," ujar Lolan kembali menekan.


"Aeeerrrrghh," erang Ziva menancapkan kuku-kukunya di punggung Lolan, saat penyatuan itu sudah merobek pertahanannya. Ziva merasakan nyeri yang begitu perihnya di bawah sana, tubuh Lolan sudah menyatu dengan tubuhnya, persatuan itu seakan membuat keduanya tak akan pernah dapat terpisahkan.


Cakaran kuku Ziva meninggalkan bekas luka di punggung Lolan. Tapi Lolan tak peduli akan hal itu. Dia tahu, rasa perih yang dia dapatkan dari cakaran Ziva tidaklah seberapa dibandingkan rasa sakit dan perih yang Ziva dapatkan dari kegiatannya saat ini.


Lolan terdiam, membiarkan tubuhnya terbenam dalam hangatnya tubuh Ziva. Pria itu menengadakan kepalanya, menatap atap rumah, menikmati sensasi pijatan di dalam tubuh Ziva yang begitu sempit.


Sakit yang ziva rasakan perlahan menghilang dan tergantikan dengan rasa nikmat yang tiada duanya saat Lolan mulai menarik kemudian menekan tubuhnya sesuai ritme yang diaturnya.


"Lolaaaan!" Ziva berteriak ketika kembali mendapatkan pelepasan yang entah sudah berapa kali. Sedangkan Lolan masih saja belum mendapatkan pelepasannya, sungguh Lolan adalah pria yang benar-benar perkasa. Ziva terus merintih agar Lolan mengakhiri, tapi Lolan benar-benar tidak peduli, hanya kata maaf yang terus dia ucapkan membuat Ziva menangis sejadi-jadinya karena sudah benar-benar tidak lagi tahan serta kelelahan.


Kasihan melihat Ziva yang terus memohon, akrhinya Lolan pun mempercepat ritme gerakannya, Lolan memeluk erat tubub Ziva, sedangkan gerakannya di bawah sana semakin liar.


"Zivaaaa!" Teriak Lolan kala tububnya bergetar serta menyemburkan cairan kehidupan hingga membuat Ziva terus meneriaki nama Suaminya.


"Aku mencintaimu, Ziva. Dan maaf sudah menyakitimu malam ini," Lolan memeluk erat tubuh Ziva, mencium kening istrinya berkali-kali. Sementara Ziva masih terisak membuat Lolan merasa sangat bersalah kepada Istrinya.


"Maafkan aku," ujar Lolan menyeka perlahan air mata Ziva, Ziva hanya mengangguk lalu memebenamkan wajahnya dalam pelukan Lolan.


.


.


.


Astoge, akhirnya lunas juga hutang Othor🤧. Bab terpanjang ini guys, please dong vote sama hadiahnya mana ini🤧. Like, komennya juga jangan lupa, Othor tu semangat nulis kalau abis baca komenan kalian yang kadang bikin ngakak🤭

__ADS_1


Tinggal hutang Xena ma Dokter Adit lagi ini🤧. Ya Tuhan, mana si Xena agresif lagi 🙈🤧. Makasih untuk yang kasih komen banyak-banyak, karena kadang Othor sedih kalau komennya dikit. Yang mendukung karya amburadul ini, Othor ucapkan beribu terima kasih. Calangeo guys😘


__ADS_2