Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 165


__ADS_3

"Aku mau—"


"Mau melahapku," potong Xena membuat Adit tertawa kecil.


"Kamu mau?" tanya Adit masih menyunggingkan tawanya.


"Apa boleh, Sayang?" tanya Xena polos.


"Boleh saja asal kamu tidak keberatan dan merasa nyaman," jawab Adit.


"Enggak mau ah, jorok. Katakan, kamu mau apa, apa mau makan?" tawar Xena.


"Boleh, Sayang. Suapin, ya."


"Manja," Xena langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk mengambilkan makan malam untuk Sang Suami. Sedangkan dirinya sudah kenyang. Setelah mendapatkan makanannya, Xena langsung membawanya kembali ke lantai atas, seorang pelayan membantu Xena mengantarkannya.


Tiba di kamar, Xena menyuapi Adit makan dengan telaten. Setelahnya, Xena pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Adit masih mengistirahatkan tubuhnya karena rasa sakit baru menghampirinya.


***


"Sayang, kamu mau mandi?" tanya Ziva pada Lolan yang memang siap akan masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, Sayang. Ada apa? Apa mau mandi bersama?" tawar Lolan tersenyum penuh arti. Melihat senyaman menakutkan itu, Ziva menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apa butuh sesuatu?" tanya Lolan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, aku ingin duduk di balkon."

__ADS_1


"Sekarang?"


"Iya, sekarang," jawab Ziva.


"Baiklah, Sayang. Apa pun untukmu," Lolan langsung mengangkat tubuh mungil Ziva, membawa Sang Istri tercinta hingga tiba di balkon.


"Apa ingin aku temani?" tanya Lolan sebelum pergi mandi.


"Tidak, aku sendiri saja. Kamu pergilah mandi," usir Ziva yang kini duduk dengan santainya.


"Baiklah, Sayang. Panggil saja aku bila membutuhkan sesuatu."


"Iya," sahut Ziva dan Lolan pun langsung masuk kembali ke kamar.


Lolan tahu Ziva menghindar darinya, Lolan juga tahu bahwa aroma tubuhnya setelah mandi menjadi daya tarik sendiri bagi Sang Istri hingga begitu menginginkannya.


Sadar akan semua hal itu, Lolan mengurungkan niatnya untuk mandi. Lolan meraih ponselnya yang tergelatak di atas nakas. Kemudian duduk di pinggir ranjang sambil menelpon sahabatnya, Adit.


"Halo, tumben kamu telpon. Ada masalah apa?" tanya Adit to the point.


"Ini masalah aku dan Ziva. Apakah tidak apa-apa bila aku melakukannya?" tanya Lolan juga to the point.


"Sialan, kau bertanya kepadaku tentang hal itu," kesal Adit pada Lolan. Bayangan tubuh seksi polos Xena langsung mengusai pikirannya ketika Lolan malah mengajaknya traveling.


"Aku bertanya serius."


"Ziva masih semester pertama," tegas Adit dengan suara kesalnya.

__ADS_1


"Aku libur, kau juga harus libur," batin Adit tersenyum licik.


"Jadi, tidak boleh?"


"Tentu saja tidak boleh. Semester pertama terlalu rentan, apalagi kondisi Istrimu yang lemah," jelas Adit berkilah.


"Ya sudah," Lolan yang kesal langsung memutuskan panggilan sepihak. Sedangkan Adit malah tertawa puas di seberang sana.


Lolan memiringkan kepalanya sambil berpikir keras, Lolan merasa ada yang aneh dengan Adit. Bahkan, Lolan masih ragu akan jawaban Adit. Untuk itulah, Lolan langsung membuat panggilan dengan Dokter Albern.


"Iya, Tuan Lolan. Ada yang bisa saya bantu?" sambut Dokter Albern di seberang sana.


"Dokter, apakah saya tidak boleh menyentuh Istri saya?"


"Sebenarnya tidak boleh karena kondisi Nona masih belum stabil." jawab Dokter Albern yang langsung paham dengan pertanyaan Lolan.


"Kecuali—" lanjut Dokter Albern menggantung.


"Kecuali apa Dokter?" sambung Lolan bertanya mendesak.


"Kecuali Nona sendiri yang menginginkannya, dengan catatan Tuan Lolan harus bisa mengendalikan diri. Artinya, Tuan tidak boleh bermain kasar apalagi membuat Nona tak nyaman, durasinya juga harus dikurangi," terang Dokter Albern bertentangan dengan penjelasan Adit.


"Begitu, ya, Dokter. Baiklah, terima kasih banyak Dokter."


Setelah mengakhiri panggilannya, Lolan langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan penuh semangat. Lolan mandi terburu-buru, tapi dengan sabun yang berlimpah agar tubuhnya lebih harum dari biasanya.


Setelah selesai membersihkan diri dan telah siap dengan piyama tidurnya. Lolan segera menuju balkon untuk menjemput Sang Istri tercinta.

__ADS_1


"Say ....


__ADS_2