
"Begini saja, Sayang," Lolan menarik tengkuk Ziva, menempelkan bibir tipisnya di bibir manis Ziva. Ciuman lembut pun terjadi, membuat sesuatu di bawah sana seketika berdiri tegap, seperti siap akan bertempur.
"Sudah cukup," ucap Dokter Adit meminta Lolan untuk mengakhiri ciumannya.
"Hemp ...." bukannya melepaskan Ziva, tapi Lolan malah terus melanjutkan ciuman hingga Ziva berontak minta dilepaskan karena hampir kehabisan napas.
Dokter Adit hanya menggelengkan kepalanya, tak peduli atas apa yang kedua sejoli itu lakukan.
"Aku harus cepat menyelesaikan terapi ini agar bisa cepat melakukan itu bersama Xena," batin Dokter Adit yang iri dengan keromantisan Lolan dan Ziva. Seketika bayangan indah tubuh seksi Xena melintas dalam pikirannya, membuatnya menggelengkan kepala cepat agar bisa kembali fokus.
"Lolan, hentikan atau Ziva yang akan mati karena kehabisan napas," cela Dokter Adit karena tak tega melihat Ziva yang terus berontak tapi Lolan tak juga melepaskanya.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Dokter Adit, barulah Lolan melepaskan Ziva. "Maaf, Sayang. Habisnya terlalu manis dan membuatku ingin lagi dan lagi," ucap Lolan pada Ziva yang kedua pipinya sudah semerah tomat. Bibir manis Ziva sudah menjadi candu baginya. Lolan mengulurkan tangannya, menyeka salivanya yang tertinggal di bibir ranum Ziva.
"Di sini saja, Sayang," cegat Lolan kala Ziva akan pergi. Ziva menurut, tetap berdiri di samping Lolan. Tidak punya pilihan lain, memaksanya harus kembali melihat benda yang membuat semua rambut halus ditubuhnya berdiri kala merinding takut.
"Tidak perlu takut, Sayang," ujar Lolan lembut.
"Nona Ziva, bisa tolong pegang jarum ini sebentar," pinta Dokter Adit meminta bantuan kepada Ziva. Tidak adanya Suster yang membantu memang sulit baginya. Namun, tidak mungkin juga bila harus membawa Suster. Untungnya ada Ziva, jadi, Dokter Adit bisa meminta bantuan kepada Ziva.
Ziva menyambut jarum suntik yang Dokter Adit berikan. Membayangkan jarum itu akan menembus kulit benda pusaka milik Lolan, membuat Ziva memegang jarum itu dengan tangan bergetar.
"Belum pasti akan ada berapa tahapan lagi. Yang pasti, kau jangan gunakan dulu sebelum izin dariku. Aku perlu mengeceknya lagi besok. Kau tau selama ini ada berbagai jenis-jenis obat yang masuk ke sana, takutnya zat-zat yang mengendap didalamnya sudah menjadi penyakit. Sebelum aku izinkan atau sebelum aku mengatakan aman, kau harus menahannya dulu, karena takutnya akan berbahaya bagi Ziva," jelas Dokter Adit membuat Lolan menghela napas berat. Sedangkan Ziva menarik napas lega, setidaknya dirinya akan aman untuk beberapa hari ke depan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menahanya. Lakukan dengan baik dan cepat," balas Lolan seketika tak lagi bersemangat.
Kenapa harus sesulit dengan langkah yang serumit itu? Senjatanya memang bernasib sangat malang. Lihatlah, ketika dia sudah berdiri sekali pun tidak bisa langsung digunakan. Dia harus melewati berbagai macam tahapan test rumit dan menyakitian terlebih dahulu.
"Tapi, kau tau rasanya sangat menyiksa kalau dia berdiri. Apa yang harus aku lakukan ketika itu terjadi? Aku tidak ingin terus menyusahkan Ziva, Istriku," keluh Lolan lantang kepada Dokter Adit yang masih fokus di bawah sana.
"Main sendiri saja. Pergi ke kamar mandi, ambil sabun, lalu gunakan sebagaimana mestinya," jawab Dokter Adit asal.
Uhuk!
.
__ADS_1
.
.