
Tok, tok, tok ....
"Sial!" umpat Lolan kesal.
"Ziva, kamu lagi apa, Sayang?" tanya Mommy Nata di luar kamar.
"Apalagi, Mommy?" tanya balik Lolan urung mencium Ziva.
"Buka dulu pintunya, Mommy pinjam Ziva sebentar," imbuh Mommy Nata yang menginginkan Ziva. Lolan berpikir, apakah Mommy-nya itu sengaja ingin mengagalkan dia yang ingin melahap Ziva saat itu juga.
Lolan terpaksa menjauh dari tubuh Ziva, sambil meremas rambutnya kasar hingga tampak berantakan. Sedangkan Ziva langsung membenarkan posisi gaunnya yang sedikit berantakan, meninggalkan Lolan yang nafsunya sudah memuncak, Ziva berjalan terburu-buru menuju pintu dan segera membukanya.
"Mommy, masuklah," Ziva menyingkir ke samping membuka jalan agar Mommy-nya masuk ke dalam kamar.
"Tidak usah, Sayang. Mommy hanya ingin mengajakmu pergi," jawab Mommy Nata tampak begitu bersemangat, dia terlihat begitu tak sabar ingin membawa Ziva pergi meninggalkan Putranya, entah apa yang akan dilakukan, entahlah, Ziva tak mengerti.
"Mau ke mana, Mommy?" tanya Lolan ketus.
__ADS_1
"Laki-laki tidak perlu tahu, ayo sayang!" seru Mommy Nata langsung menyeret Ziva akan pergi.
"Tu-tunggu, Mommy," Ziva menahan kakinya, membuat Lolan berharap Ziva menolak keinginan Mommy-nya.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku ingin mengganti pakaian dulu, Mommy," jawab Ziva membuat Lolan lemas seketika.
"Oh iya, Mommy terlalu bersemangat hingga melupakan itu. Mommy akan menunggu di bawah, ya, Sayang," Ziva mengangguk dan Mommy Nata segera pergi dan menunggu Ziva di lantai bawah.
"A-aku pergi, apakah kamu marah?" tanya Ziva pelan karena takut Lolan akan marah padanya.
"Pergilah," ketus Lolan meraih ponselnya dan fokus pada layar terang itu.
"Apa aku boleh menolak keinginan, Mommy," ujar Ziva serba salah. Ikut pergi bersama Mommy Mertunya berarti dia harus siap didiamkan oleh Suaminya. Sedangkan menolak keinginan Mommy Mertua ... Tidak, Ziva tidak mungkin menolak.
"Aku berjanji tidak akan lama," kembali Ziva meminta izin seraya menunjukkan ekspresi memohon dengan mata berbinar indah. Tidak tahukah Ziva, kelakukannya yang seperti itu malah membuat Lolan semakin sesak karena sesuatu di bawah sana semakin memberontak ingin dilepaskan.
__ADS_1
"Pergilah, tidak akan lama, bukan? Aku akan menunggu," jawab Lolan tanpa menoleh ke arah Ziva yang berdiri tepat di hadapannya.
Melihat kondisi yang tidak mendukung, Ziva melangkah maju hingga berada begitu dekat dengan Lolan. Lolan menengadah kala melihat ada bayangan tubuh serta wajah Ziva di ponselnya.
Tanpa aba-aba, Ziva membungkukan tubuhnya, lalu mendaratkan bibirnya di bibir tipis Lolan. Lolan menyambut ciumam lembut Ziva dengan mata membulat sempurna. Tentu Lolan kaget sekaligus senang karena ini adalah pertama kalinya Ziva yang berinisiatif mencium bibirnya.
Sebelum Lolan meminta lebih, Ziva langsung menjauh. "Tunggulah aku, aku tidak akan lama. Malam ini, aku pastikan tidak akan takut untuk menyerahkan diriku kepadamu. Tunggulah aku," ujar Ziva yang berhenti di ambang pint.
Sebelum benar-benar pergi, Ziva mengedipkan sebelah matanya, membuat Lolan langsung merebahkan tubuhnya kasar ke atas kasur sambil memegang dan merasai bibirnya yang barusan bersentuhan dengan bibir ranum Ziva. Bahkan, Lolan masih dapat merasakan bibir kenyak Ziva membekas di bibirnya. Lolan tersenyum kala merasa ada bagitu banyak bunga-bunga yang bermekaran di perutnya, menggelitiknya hingga tak berhenti tersenyum seperti orang gila.
"Ternyata, begini rasanya jatuh cinta ....
.
.
.
__ADS_1