Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 31


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Ziva langsung di bawa ke ruang gawat darurat untuk penanganan lebih lanjut. Sedangkan Xena masih setia duduk di kursi menunggu di depan ruangan gawat darurat hingga beberapa jam lamanya.


"Bagaimana keadaan Kak Ziva?" tanya Xena ketika Dokter Adit keluar dengan Dokter dan Perawat lain mengekor di belakangnya.


"Sekarang sudah lebih baik, cuci darah baru saja selesai dilakukan, untuk kedepannya dia akan di rawat di rumah sakit hingga kondisinya benar-benar membaik," jawab Dokter Adit menjelaskan.


"Syukurlah," saut Xena mengelus dadanya lega. Melihat kekhawatiran di wajah Xena, entah kenapa Dokter Adit tidak bisa memalingkan wajahnya dari wajah Xena.


Ada sebuah daya tarik tersendiri pada Xena yang membuatnya ingin mendekat, menyeka air mata itu, memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Gengsinya terlalu tinggi, hingga dia lebih memilih tetap terdiam sambil terus menatap Xena yang terlihat menggoda di matanya.


Kini, Xena dan Dokter Adit telah berada di ruangan rawat inap VIP. Ziva terlelap karena merasa begitu lelah setelah menjalani terapi tadi. Sedangkan Xena dan Dokter Adit terlihat saling terdiam satu sama lain. Dokter Adit menggaruk keningnya yang tidak gatal. Xena yang diam dan tidak banyak bicara, tampak lebih cantik dan mempesona di matanya, mampu membuatnya merasa ingin menghibur dan melindungi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Adit tetap menjaga jarak dari Xena.


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Xena.


"Kakakmu sudah lebih baik. Ayo, saya antar pulang," tawar Dokter Adit tulus.


"Tidak perlu, Dokter. Aku ingin tetap di sini untuk menjaga Kak Ziva," keukeuh Xena.


"Bukankah besok kamu akan sekolah?" sambung Dokter Adit mengingatkan.


"Aku sudah meminta bantuan pada temanku untuk membuatkan surat izin," jawab Xena berjalan perlahan dan duduk di kursi samping ranjang Ziva.


"Ranjang di sini hanya ada satu, saya akan meminta perawat untuk menyiapkan ranjang untukmu," Dokter Adit akan pergi keluar dari ruangan namum di cegat oleh Xena.

__ADS_1


"Tidak perlu repot-repot, Dokter. Aku bisa tidur di sofa itu," Xena mengarahkan jari telunjuknya pada sofa berwarna hitam di sana.


"Baiklah, aku hanya akan meminta perawat untuk menyiapkan bantal dan selimut saja," kata Dokter Adit seraya berjalan menghampiri Xena lalumengelus kepala Xena tanpa sadar.


"Terima kasih, Dokter," jawab Xena bersikap imut membuat Dokter Adit hampir tersedak salivanya sendiri.


"Ehem," dehem Dokter Adit langsung menarik tangannya di kepala Xena.


"Apa jantung Dokter sudah berdegub kencang?" tanya Xena kembali bersikap imut membuat Dokter Adit semakin tak tahan.


"Kamu kira saya sudah mati hingga jantung saya tidak berdegub," oceh Dokter Adit berpura-pura tidak mengerti.


"Bukan itu maksudku, kalau seandainya jantung Dokter berdegub lebih kencang, itu artinya Dokter sudah mencintaiku," ujar Xena yang akhirnya mengeluarkan sikap aslinya. Xena yang polos, imut, dan tetap saja suka menggoda.


"Oh iya, bukankah aku sudah berhasil membawa Kak Ziva berobat. Apakah sekarang aku adalah pacar Dokter?" tanya Xena mengingat janji Dokter Adit padanya.


"Itu kalau kamu berhasil membujuk Kakakmu untuk berobat. Ini baru pengobatan pertama, masih banyak terapi lainnya yang harus Kakakmu lewati, untuk itu, kamu harus memastikan dia tetap punya semangat untuk sembuh," jawab Dokter Adit menjelaskan.


"Baiklah, Dokter tidak usah khawatir, aku pastikan Kak Ziva mau melakukan segela macam pengobatan," tegas Xena yakin.


"Baguslah," jawab Dokter memutari ranjang dan berdiri di samping kanan Ziva untuk kembali memeriksa kondisi Ziva.


"Kenapa aku merasa kasih sayang yang Dokter Adit berikan kepada Kak Ziva lebih besar. Pikiranku ini benarkah, atau hanya sebuah perasaan cemburu?" pikir Xena dalam hati sambil terus menatap Dokter Adit yang memeriksa lalu mengelus rambut Ziva dengan penuh kasih sayang.


"Istirahatlah dulu di sini, bila Kakakmu bangun nanti berikan dia makan segera," pesan Dokter Adit lalu pergi kembali menjalankan tugasnya.

__ADS_1


***


Malam harinya, Ziva telah sadar dan kini Xena tengah menyuapi Ziva makan malam. "Setelah ini, kamu pulang saja, katakan kepada Bibi bahwa Kakak baik-baik saja," Ziva mengunyah perlahan makanan khusus yang Xena suapi.


"Tidak, aku tidak pulang sebelum Kakak pulang. Aku juga akan mengatakan kepada Ibu bahwa Kakak tidak baik-baik saja," tegas Xena menolak permintaan Ziva.


"Kakak baik-baik saja, Xena. Besok kamu masih harus sekolah, tidak perlu khawatirkan Kakak. Ada Suster yang akan merawat Kakak di sini," jawab Ziva membuat Xena menggelang.


"Saat aku sakit Kakalah yang selalu merawatku, bukan Ibu. Jadi, jangan halangi aku untuk membalas kebaikan yang Kakak berikan dulu. Kakak sendiri yang mengatakan, bila kamu berbuat baik, maka kebaikan pula yang akan datang kepadamu. Anggap saja sekarang aku membalas atas kebaikan yang selama ini Kakak berikan untukku," jelas Xena masih mengingat ucapan Ziva kepadanya.


"Baiklah Kakak menyerah, kamu boleh menginap, menemani dan merawat Kakak di sini. Tapi, kamu harus meminta izin pada Ibumu dulu."


"Tentu saja, Kak," jawab Xena.


"Oh iya, kak. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Kakak," lanjut Xena lagi.


"Katakanlah, apa itu?" saut Ziva pemasaran.


"Aku ... Em, aku menyukai Dokter Adit. Tapi, sepertinya dia menyukai Kakak."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2