Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 58


__ADS_3

Ziva keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun transparan berwarna putih yang hanya di tutupi dengan rajutan bunga-bunga yang tampak indah. Lolan terdiam kaku melihat Ziva yang begitu menggoda di matanya, sungguh dirinya ingin menerkam Ziva saat itu juga.


Namun, nyalinya ciut kala mengingat rasa sakit yang dia rasakan saat di rumah sakit. Bila rasa sakit akibat luka yang berdarah atau apa pun itu, mungkin masih sanggup Lolan tahan. Tapi, tidak dengan rasa sakit yang membuatnya merasa begitu ngilu, bahkan hanya dengan membayangkan saja. Sungguh rasa sakit itu sangat menggangu hasratnya, rasa sakit itu mampu membuat rambut-rambut halus yang tumbuh di kulit tubuhnya seketika berdiri.


Lolan menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, berharap nafsunya dapat dikendalikan. Lolan beringsut mundur saat Ziva berjalan mendekat sambil menyeka rambut indahnya yang bergelombang. Terpaan angin malam yang masuk lewat jendela yang sedikit terbuka, menerpa rambut itu hingga berterbangan dengan cantiknya.


Rambut gelombangnya berterbangan ke belakang, membuat leher jenjang putih nan mulus itu terlihat oleh kedua bola mata Lolan yang sebentar lagi akan terlepas dari tempatnya. Ya Tuhan, sungguh Lolan ingin mendaratkan bibir dan lidahnya di sana. Pasti akan sangat nyaman.


Waktu benar-benar seakan berhenti, Jak*n Lolan turun naik kala tercengang melihat Ziva yang naik ke atas ranjang, dia menunduk hingga kedua gundukan berukuran sedang itu menyembul di balik gaun bertali tipis itu, membentuk belahan yang membuat Lolan begitu menggila, lihatlah bagaimana CEO arogan itu salah tingkah, bahkan Menghirup oksigen pun dia kesusahan, berada di dekat Ziva benar-benar membuatnya sesak. Tidak hanya sesak di atas, tapi juga sesak di bawah.


"Kau mau apa!" bentak Lolan mundur dengan meraih selimutnya, mendekap selimut itu di dada seakan selimut itu adalah tempatnya berlindung.

__ADS_1


"Saya mau tidur, Tuan. Saya sangat lelah," jawab Ziva mengerutkan alis karena heran dengan tingkah Lolan.


"Kau tidur di sofa, ini ranjangku!" ketus Lolan mengusir Ziva dengan kasar.


"Aneh. Tadi malam saat aku ingin tidur di sofa dia melarangku, sekarang malah kebalikannya. Saat aku ingin tidur di ranjang, dia malah mengusirku dan menyuruh tidur di sofa. Sepertinya, kecelakaan lima tahun lalu bukan hanya menyebabkan dia menjadi lelaki impoten, tapi juga membuat otaknya sedikit tergeser hingga tidak waras. Dosaku di masa lalu sungguh besar." batin Ziva yang malah mengasihani Lolan.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat pergi!" bentaknya membuyarkan lamunan Ziva. Ziva segera turun dari ranjang, lalu berjalan perlahan menuju sofa. Ziva duduk di sana sambil menatap Lolan yang juga terus menatapnya aneh.


Jika Ziva sudah tertidur, maka beda lagi dengan Lolan yang justru malah terus menatap betis jenjang serta paha Ziva yang mulus. Ziva berbaring menyamping hingga belahan dada menggoda itu kembali menjadi pemandangan indah yang lagi-lagi membuat lib*do seorang Lolan seketika bangkit.


"Aw!" ringis Lolan ketika rasa ngilu itu datang tiba-tiba. Beruntung rasa sakit itu tidak separah saat di rumah sakit. Tidak ingin rasa sakit itu semakin manjadi, Lolan langsung menyelimuti tubuhnya hingga menutupi kepala agar tak lagi dapat melihat Ziva.

__ADS_1


Lolan berusaha menyingkirkan tubuh indah Ziva yang terus membayang-bayanginya, rasa nyeri di bawah sana masih dia rasakan. Namun, beberapa menit kemudian rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Saat itu juga Lolan langsung memejamkan matanya paksa hingga akhirnya terlelap menyusul Ziva yang telah lebih dulu mengarungi dunia mimpi.


.


.


.



__ADS_1


__ADS_2