Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 100


__ADS_3

Tok, tok, tok ....


"Kak Ziva!" teriak Xena di luar sana.


"Kamu yang buka, kamu masih pakai baju lengkap," Ziva mendorong Lolan dari tubuhnya. Mengambil handuk, memasangnya kembali, kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Lolan terdiam, mengelap mulutnya, dan langsung berjalan menuju pintu dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Tiba di pintu, Lolan memutar ganggang pintu dan langsung menariknya ke dalam.


"Ada apa?" tanya Lolan singkat.


"Eh Kakak Ipar yang buka, Kak Ziva di mana?" Xena mencari celah guna memeriksa di mana Kakaknya berada.


"Ziva lagi mandi, kamu ada perlu apa?" tanya Lolan dingin membuat Xena tiba-tiba merinding.


"Oh, Kak Ziva mandi. Aku kira tadi lagi ... Tidak-tidak. Maksudku, tadi itu aku mendengar suara aneh dari dalam kamar sini, aku cuma mau mengatakan agar Kak Ziva mengecilkan volume suara anehnya, hehe ...."


"Suara aneh apa?" tanya Lolan berpura-pura tidak mengerti.


"Suara aneh, pokoknya aku tidak bisa mengikutinya. Tapi yang pasti suaranya mirip dengan suara yang aku lihat di video Dokter Adit," jawab Xena polos.

__ADS_1


"Itu hanya khayalanmu saja. Itu kutukan karena kamu nonton video yang tidak benar, makanya jadi berhalusinasi," jelas Lolan membuat Xena mengerutkan alisnya antara percaya dan tidak percaya.


"Benarkah?" tanya Xena penasaran.


"Tentu saja, lebih baik kamu cepat tidur agar tidak terus berhalusinasi," kilah Lolan menakuti Xena. Walau caranya tidak masuk akal, tapi Xena yang memang kurang se-on, akhirnya pergi begitu saja menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Ziva.


Lolan terkikik karena merasa lucu dengan kelakuan Xena. Tubuhnya seketika menegang ketika mengingat apa yang barusan dia lakukan bersama Istrinya itu. Lolan pun segera mengunci pintu kamar, berjalan cepat menuju kamar mandi yang pintunya masih tertutup. Dia ingin melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


"Ziva Sayang," panggil Lolan seraya mengetuk pintu pelan.


"Lo-lan, a-aku, hiks—"


"A-aku—"


"Kenapa, Sayang. Ayo cepat buka pintunya," Lolan menaikan sedikit volume suaranya.


"Aku tidak bisa membukanya. Aku terpeleset, kaki-ku sakit, hiks ...."


"Astaga, tenang sayang. Aku datang, kamu menjauhlan dari pintunya," Lolan mundur dari pintu, mengambil ancang-ancang kemudian langsung menabrakkan tubuh kekarnya ke pintu kamar mandi. Beruntung pintu itu tidak terlalu kuat hingga Lolan dapat mendobraknya hanya dengan sekali percobaan.

__ADS_1


Beruntung dia cepat menangkap pintu rusak itu sebelum terjatuh dan menimbulkan suara. Lolan menyingkirkan pintu, lalu segara masuk ke dalam kamar mandi yang sempit itu.


"Sayang," panggil Lolan panik saat melihat Ziva yang tergelatak tak berdaya di lantai kamar mandi dengan kondisi setengah telan jang.


Perlahan, Lolan mengangkat tubuh mungil Istrinya, dia tidak lagi peduli pada senjatanya yang semakin berdiri di bawah sana kala melihat Ziva yang tidak berbusana.


Keluar dari kamar mandi, Lolan membaringkan Ziva ke atas ranjang. "Di mana kotak p3knya, Sayang?" tanya Lolan cepat.


"Di bawah meja ruang tamu," jawab Ziva. Lolan pun segera keluar dari kamar. Tak lama kemudian, Lolan kembali dengan terburu-buru hingga lupa menutup pintu kamar, Loaln berjalan cepat menuju ranjang dengan membawa kotak p3k. Ziva menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut dan hanya mengulurkan kakinya yang terluka kepada Lolan untuk diobati.


"Tahan sebentar, aku akan membersihkan darahnya," ujar Lolan membasahi kapas dengan alkohol.


"Aw, ahhh, sakittt ... Aw ...." Ringis Ziva.


"KAK ZIVA! AKU TIDAK BERHALUSINASI!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2