Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 101


__ADS_3

"KAK ZIVA! AKU TIDAK BERHALUSINASI!" teriak Xena langsung menerobos masuk ke dalam kamar Ziva yang pintunya tidak dikunci.


"Eh, ter-ternyata a-ku salah pa-ham," lanjut Xena lagi sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Kamu tu, ya, selalu aja buat masalah. Ayo kembali ke kamarmu," bentak Bibi Aslin menarik telinga Xena dan membawa Xena pergi.


"Lolan, obati saja luka Ziva. Tidak usah pedulikan Xena," sambung Bibi Aslin sebelum pergi.


"Astaga, apa Adikmu itu selalu seperti itu?" tanya Lolan heran.


"Dia masih remaja. Tapi aku senang dia kembali lebih baik selama mengenal Dokter Adit," jawab Ziva menatap kepergian Xena dan Bibi Aslin. Sedangkan Lolan hanya mengagguk dan kembali fokus pada luka di kaki kanan Ziva.


"Aw perih, pelan-pelan."


"Tahan sedikit, Sayang. Ini juga sudah pelan-pelan," balas Lolan seraya menesteskan obat merah ke luka Ziva, kemudian Lolan mulai membalut luka itu dengan kasin kasa.


"Selesai. Apa mendingan?" tanya Lolan menghela napas lega.


"Iya, sudah lebih baik."


"Aku akan ambilkan pakaianmu," Lolan berdiri, berjalan menuju lemari dan mencari gaun tidur Ziva yang sederhana.

__ADS_1


"Akan aku pasangkan," Ziva pasrah, apa lagi yang bisa dia sembunyikan dari Lolan Suaminya. Bahkan, Lolan sudah merasakannya, bukan hanya sekadar melihatnya.


"Angkat bo kongmu," titah Lolan, Ziva menurut dan membiarkan Lolan memasangkan cd-nya yang berwarna putih.


Dari wajah Lolan yang memerah, urat-urat leher yang mengencang persis seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu, dari pandangan mata yang terselip nafsu, dan dari helaan napas Lolan yang berat, dari semua itu Ziva tahu bahwa Lolan sedang berusaha menahan hasrat yang terus membuncah ketika memandang serta menyentuh tubuh polosnya.


"Angkat tanganmu," titah Lolan lagi, tapi kali Ziva tidak menurut membuat Lolan mengerutkan alis.


"Kenapa?" tanya Lolan heran.


"Bra-nya mana?" tanya balik Ziva.


"Tidak baik untuk kesehatan payu dara bila tidur menggunakan bra," jelas Lolan pada Ziva.


"Mulai sekarang kamu harus biasa," tekan Lolan membuat Ziva mencebikan bibirnya imut.


"Angkat tanganmu atau akan aku lanjutkan kegiatan tadi," ancaman Lolan sukses membuat Ziva langsung mengangkat tangannya pasrah. Ketika Ziva mengangkat kedua tangannya, Lolan langsung memasangkan gaun sederhana itu ke tubuh mungil Ziva.


Lolan membenarkan posisi berbaring Ziva. "Sekarang tidurlah," titah Lolan ikut berbaring di samping Ziva dengan memeluk Ziva erat. Salah satu tangannya berada di tempat yang tidak seharusnya, membuat Ziva merasa semakin tidak nyaman.


"Sial, jadi ini alasannya menyuruhku tidur tanpa bra," rutuk Ziva dalam hati.

__ADS_1


"Apa kamu mengumpatku dalam hati?"


"Bagaimana kamu bisa tahu? Eh ... Maksudku, tidak. Mana mungkin aku begitu," ralat Ziva karena kelepasan saat bicara.


"Di saat seseorang sedang dalam kondisi terdesak, maka jawaban pertama adalah jawaban yang paling tepat," sahut Lolan malah menambah satu lagi tangannya yang mendarat di tempat yang tidak seharusnya, membuat Ziva menahan suara erotisnya agar tidak lolos.


"Tidurlah," titahnya lagi.


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur, kalau tanganmu masih di sana," keluh Ziva mencoba menyingkirkan tangan Lolan, tapi Lolan menahan tangannya hingga Ziva tak sanggup menyingkirkan tangan kekar yang masih betah berada tepat di kedua gundukannya.


"Emm Lo-lan ahhh ... Lolan hentikan!"


"Tidak akan," jawab Lolan malah me re mas gemas benda kenyal itu.


"Apa kamu lupa aku sedang terluka?"


"Yang luka, kan, kakimu sayang. Bukan yang ini."


"Aaahhhh ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2