
Beberapa hari kemudian, berita tak sedap datang dari Cristi yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya untuk selama-lamanya setelah mengalami kecelakaan pesawat ketika akan pulang dari luar kota.
Kaget mendengar berita kehamilan Sang Putri, keduanya pun pulang dengan terburu-buru. Tak disangka, keduanya malah dinyatakan tewas setelah pencarian beberapa hari tidak ditemukan.
Cristi begitu terpukul akan berita tersebut, hingga membuatnya dirawat di rumah sakit, karena kondisinya dan kondisi calon bayinya yang tidak baik-baik saja. Jika Cristi terpukul, maka Aldri tersenyum puas mendengar berita itu.
"Mereka memang pantas mati." batin Aldri yang kini juga berada di dalam kamar rawat inap Cristi. Tak hanya ada Aldri yang diminta datang oleh Cristi. Tapi, juga ada Ana, Xena dan Adit. Sedangkan anggota keluarga lainnya telah pulang setelah memastikan keadaan Cristi baik-baik saja.
"Kenapa memanggilku ke sini?" tanya Aldri duduk di sofa dengan santai. Hanya dia sendiri yang duduk, Ana, Xena dan Adit lebih memilih berdiri di samping ranjang di mana Cristi terbaring lemah.
"Nikahi aku!" seru Cristi tapi dengan suara lemahnya.
__ADS_1
Ana, Xena dan Adit hanya dapat menghela napas berat mendengar permintaan Cristi yang menurut mereka telah buta karena cinta.
"Kau memintaku bertanggung jawab untuk anak yang bukan darah dagingku. Aku tidak mau!" tegas Aldri.
"Ini darah dagingmu, kamu juga sudah mengakuinya dihadapan Xena. Kamu tinggal pilih, mendekam di penjara atau nikahi aku!" tutur Cristi keukeuh.
"Hanya pengakuan tanpa bukti. Apa kamu kira hukum hanya mendengarkan dan tidak melihat. Haha ... jangan harap aku akan menikahimu."
Mendengar dan melihat itu, Aldri terlihat begitu kaget, wajahnya tiba-tiba memerah dengan urat-urat di lehernya yang kencang seakan ada begitu besar kemarahan pada dirinya.
"Nikahi aku atau mendekam di penjara. Kamu hanya punya dua pilihan itu," bukan tanpa alasan Cristi mengambil pilihan berat itu. Cristi memang mencintai Aldri, tapi dirinya tidak sebuta itu dengan rela menikahi laki-laki yang kapan saja bisa mengambil nyawanya.
__ADS_1
Cristi punya alasan sendiri, dan alasannya hanya ingin melindungi sahabatnya Xena. Setelah mengetahui bahwa Aldri menyukai dan terobsesi dengan Xena, Cristi pun rela mengorbankan dirinya. Dengan menikah dengannya, setidaknya Aldri punya batasan dan tidak terlalu gesit untuk mengejar obsesinya.
Cristi juga bisa memantau pergerakan Aldri selama menjadi Istri dari pria kejam itu. Setelah kehilangan kedua orangtuanya, Cristi tak lagi punya semangat untuk melanjutkan hidupnya. Cristi bahkan siap bila nyawanya juga di ambil saat ini juga.
Tapi sebelum itu, setidaknya Cristi ingin melindungi sahabatnya Xena. Sebelum nyawanya direnggut, setidaknya dia bisa berguna dengan melindungi Xena. Tapi, sedikit banyak Cristi juga berharap. Cristi berharap Aldri akan berubah dan bisa mencintainya dan juga calon bayi yang ada dikandungannya kini.
"Baik, aku akan menikahimu. Tapi, jangan harap ada resepsi dan pesta." ujar Aldri kemudian langsung pergi begitu saja.
"Cristi," tangis Xena pecah saat itu juga, Xena langsung memeluk Cristi erat. Ana pun begitu, ketiganya saling memeluk dan menguatkan satu sama lain. Ana dan Cristi kini tengah mengahadapi ujian terberat dalam hidup mereka. Sedangkan Xena tak kuasa menahan sedih melihat kondisi kedua sahabatnya, apalagi Cristi yang terlihat begitu rapuh saat ini.
Adit pun juga sedih akan kesedihan yang kini melanda Sang Istri dan sahabatnya. Tapi, Adit lebih sedih lagi karena belum juga mendapatkan jatahnya sebagai Suami meski Xena sudah tak lagi menstruasi.
__ADS_1
Sekarang, Xena selalu sedih dan lebih banyak diam. Tidak ada Xena yang bisanya selalu ceria dan bodoh. Melihat hal itu, tentu Adit tak mungkin seegois tega menyentuh Istrinya. Dengan penuh kesabaran, Adit kembali menunggu hingga Xena kembali ceria seperti biasanya.