Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 153


__ADS_3

Adit membawa Xena masuk kembali ke dalam kamar, menyuruh Xena berbaring sedangkan dirinya langsung mengambil peralatan Medisnya yang terletak di atas nakas.


"Angkat bajumu dulu, Sayang," titah Adit meminta Xena untuk menyingkap bajunya.


"Buka saja ah," jawab Xena langsung membuka bajunya, hingga kini dia hanya memakai bra berukuran D. Melihat itu Adit menghela napas kasar, melihat tubuh Xena pasti senjatanya di bawah sana akan merespon dengan cepat. Padahal, Adit sering menangani pasien lainnya, tapi tidak pernah merasakan hal seperti saat melihat Xena. Entah magnet apa yang tertanam di tubuh Xena hingga bisa membuatnya seakan tertarik.


Adit mengeluarkan tensimeter, sebuah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah. Adit melingkarkan alat itu ke lengan Xena, Xena terlihat memejamkan matanya kala merasakan alat itu mengecil dengan sendirinya.


"Apa saja gejala yang kamu rasakan, Sayang?" tanya Adit sambil menunggu alat itu melonggar.


"Kram perut, lesu, lelah, pusing, mual dan biasanya aku juga akan insomnia," Adit mendengarkan sambil menekan pelan perut Sang Istri.


"Tekanan darahmu rendah, Sayang. Mulai besok aku akan mengatur zat besi yang masuk ke tubuhmu," ujar Adit meletakkan kembali tensimeter itu ke atas nakas.


"Minum pil penambah darah dan pil pereda nyeri saja. Biasanya aku akan baik-baik saja," jawab Xena.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu tidak boleh minum obat itu," Xena mengerutkan keningnya.


"Maksudmu, aku harus menikmati sakit ini," Xena mencebikkan bibirnya.


"Pil itu tidak baik untuk pertumbuhan rahimmu, Sayang. Aku akan mengambil alat kompres untuk mengompres perutmu, tunggulah di sini sebentar," Adit bangkit, dan segera keluar dari kamar meninggalkan Xena seorang diri.


Huuffff ....


Xena menghela napas berat.


"Dia sangat perhatian. Menjaga pertumbuhan rahimku, apakah dia juga menginginkan agar aku cepat Hamil?, itu pasti, dia pasti juga meginginkan keturunan. Tapi, Apakah aku bisa hamil?, usiaku baru delapan belas tahun. Apakah tidak akan terjadi hal yang buruk, astaga kenapa aku merasa takut," oceh Xena yang merasa belum siap untuk hamil. Tapi, Xena tidak mungkin mengecewakan Mommy Adna yang sangat menginginkan seorang Cucu.


Beberapa menit kemudian, Adit pun tiba bersama dengan seorang pelayan yang membawa steak yang beraroma begitu lezat, aroma yang mampu memecahkan saliva Xena hingga dirinya merasa tak sabar ingin melahap steak itu segera. Setelah pelayan meletakkan hidangan itu ke atas nakas, dia pun langsung pamit pergi.


"Minumlah teh ini dulu," ujar Adit mengulurkan teh chamomile yang khusus dia buatkan sendiri untuk Sang Istri.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," Xena menerimanya antusias, karena dengan minum teh hangat, nyeri di perutnya akan sedikit berukurang. Xena pun langsung meneguk teh itu hingga habis.


"Aku mau makan," imbuh Xena sambil menatap steak dengan banyak sayuran segar yang mengelilinginya.


"Berbaringlah, aku akan pasang dulu kompres ini di perutmu. Setelah itu aku akan menyuapimu," kata Adit meminta Xena untuk berbaring. Xena pun langsung kembali berbaring dengan patuh dan Adit mengompres perut datar Sang Istri.


"Punya Suami ternyata sangat menyenangkan. Mana Suaminya tampan, pintar, perhatian, baik, lembut, mesum juga."


"Sayang, kondisikan kata-kata terakhirmu," tekan Adit.


"Haha ... Baiklah Dokter mesum," goda Xena.


"Xena!" Adit menekan suaranya.


"Iya-iya, enggak mesum kok. Hanya pandai memuaskan Ist—" Xena langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Akhirnya kamu mengakuinya," sahut Adit bangga.


"Sebenarnya lebih hebat aku," balas Xena.


__ADS_2