
"Kamu yang pasang sendiri atau aku yang akan memasangkannya ke tubuhmu," ancam Adit.
"Kamu saja yang pasangkan. Sekalian kita main sebentar di dalam ruang ganti," balas Xena tersenyum smirik, sedangkan Adit langsung menghela napas berat. Bagiamana mungkin dia melupakan siapa Xena sebenarnya. Xena adalah gadis yang bukan sembarang gadis, mana bisa diancam dengan cara begitu.
Mulai sekarang, Adit merasa harus banyak-banyak bersabar menghadapi Xena yang sifatnya sulit dijelaskan.
"Ganti sekarang atau aku akan membatalkan pernikahan kita!" Adit tertawa senang dalam hati kala ancamannya sukses membuat Xena kaget.
"Baiklah-baiklah, aku akan ganti sekarang. Tapi, kamu beneran tidak mau ikut ke dalam, Sayang? Bantu aku melepaskan pengait bra," tawar Xena menggoda.
"Pergi," dengus Adit dengan tatapan tajamnya. Tentu saja tatapan itu tidak akan mempan untuk Xena.
"Yakin? Masih ada waktu lima menit. Masuk separuh lagi, bagaimana? Tidak-tidak, lima menit cukup masuk full. Apa mau?"
Melihat emosi Adit yang memuncak, Xena menghitung dalam hati. "Satu, dua, ti—"
"XENA!" teriak Adit dan Xena pun langsung berlari masuk ke dalam ruang ganti.
"Tuan kenapa?" tanya seorang pelayan butik mendekat dan bertanya, tapi Adit malah mengusirnya.
__ADS_1
Tak lama Kemudian, Xena keluar dari ruang ganti dengan memakai seragam baru yang tak lagi memamerkan tubuh seksinya.
"Berikan kepadaku seragam itu," pinta Adit dan Xena pun mengulurkan seragam lamanya. Adit mengambil seragam itu dan langsung memasukannya ke dalam tong sampah yang berada di sebelahnya. Xena mencebikan bibirnya seakan mengucapkan selamat tinggal kepada seragam seksi yang salama ini dia kenakan.
Adit membawa Xena kembali ke mobil. Di perjalanan menuju sekolah, Xena hanya diam, dia sudah terbiasa menggunakan seragam seperti tadi, cukup berat baginya. Karena dia tidak akan lagi bisa memamerkan lekuk tubuh seksinya yang selama ini membuat namanya melambung di sekolah.
"Kenapa diam?" tanya Adit sesekali melihat Xena lalu kembali fokus lagi ke jalanan.
"Belum menikah saja sudah tidak boleh ini tidak boleh itu. Bagaimana kalau menikah nanti," keluh Xena enggan menoleh.
"Aku tidak suka berbagi dengan orang lain. Mulai sekarang, tubuhmu adalah milikku dan hanya aku yang boleh memandangnya," jawab Adit membuat Xena tertegun kala mendengar alasan Adit sebenarnya. Tadinya Xena mengira Adit ingin mempermalukan dirinya dengan berpenampilan jelek. Tidak disangka alasan Adit mampu membuatnya merasa sangat terharu.
"Turunlah, kamu hanya punya waktu satu menit untuk tiba di gerbang sebelum ditutup," Xena membulatkan matanya sempurna, terburu-buru dia langsung keluar dari mobil tanpa sempat berpamitan dengan Calon Suaminya. Adit tersenyum kecil melihat Xena yang berlari kencang hingga berhasil lolos dari gerbang yang mulai tertutup otomatis.
Setelah Xena sudah hilang dari pandangannya, barulah Adit pergi ke perusahaannya, karena mulai saat ini dia akan kembali sebagai Tuan muda Adit dan bukan lagi Dokter Adit.
***
Di kelas.
__ADS_1
"Cristi, Ana mana?" tanya Xena langsung duduk di kursinya karena guru mata pelajaran sudah masuk, beruntung dia masuk lebih dulu hingga tidak terlambat.
"Gue nggak tahu, tadi gue ke rumahnya, tetangganya bilang dia pergi, tapi mereka nggak tahu pergi ke mana," jawab Cristi pelan.
"Apa mungkin ke rumah sakit? Lo udah coba telpon?"
"Sudah, tapi nomornya nggak aktif. Kayaknya, dia nemenin Ibunya di rumah sakit."
"Kita jenguk yuk," ajak Xena, namum Cristi menggeleng.
"Ibunya pindah rumah sakit, gue enggak tahu di mana. Hari ini gue juga ada job, nggak bisa jenguk dia," sahut Cristi membuat Xena memutuskan untuk menjenguk Ana seorang diri.
.
.
.
Spill
__ADS_1
"Lo harus mati!"