
Setelah melewati lorong yang begitu sepi, sempit dan minim cahaya itu, akhirnya Xena tiba di depan sebuah kontrakan sederhana yang menjadi tempat tinggal Ana sahabatnya.
Di sekitar rumah Ana sama sekali tidak ada rumah lainnya. Xena tak habis pikir bagaimana Ana bisa betah tinggal di lingkungan yang sekitarnya hanya hutan dengan pohon-pohon tinggi yang lebat. Tidak ada satu rumah pun di kiri dan kanannya, sedangkan di belakang kontrakan itu hanya ada sebuah gedung 2 lantai yang dulunya adalah pabrik yang gagal beroperasi. Dan sekarang gedung itu dijual tapi tidak ada orang yang mau membelinya.
Xena memutar kepalanya, melihat sekitarnya yang begitu gelap. Terpaan angin malam yang menerpa kulitnya, terasa begitu dingin, membuat Xena merinding, menyebabakan seluruh pori-pori di sekujur tubuhnya bangkit. Xena memeluk tubuhnya sendiri hingga merasa nyaman dari angin yang terus berhembus.
Angin malam di lingkungan rumah Ana berbeda dari angin malam di lingkungan rumahnya. Angin malam di sekitar rumah Ana bukan hanya sangat dingin seperti es, tapi juga memberikan efek yang begitu menyeramkan bagi Xena.
Xena dan Cristi memang jarang main ke rumah Ana, biasanya mereka akan berkumpul di rumah Cristi atau di rumahnya. Xena pernah beberapa kali ke rumah Ana. Tapi, hanya siang hari saja, ini adalah pertama kalinya bagi Xena datang ke rumah Ana pada malam hari dan seorang diri.
"Siapa di sana?" teriak Xena langsung berbalik badan dan bersandar ketakutan di pintu rumah Ana. Xena tak sengaja mendengar suara langkah kaki seseorang yang berlari, tiba-tiba saja Xena merasa sangat ketakutan. Keringat dingin kini terus mengucur dari tubuhnya.
Xena memandang ke segala arah, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Xena berpikir, apakah dia hanya berhalusinasi karena terlalu ketakutan?
__ADS_1
Xena menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah merasa aman dan tenang, barulah Xena memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu rumah Ana perlahan.
Tok, tok, tok ....
"Ana, apakah kamu ada di rumah?" ucap Xena sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sautan dari dalam membuat Xena merasa semakin ketakutan. Xena menelan salivanya yang tercekat, lalu kembali mencoba mengetuk pintu rumah Ana beberapa kali. Namun, tetap saja tidak ada sautan dari dalam sana.
Xena mencoba menenangkan dirinya, kemudian memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Tapi, langkah kaki Xena terhenti saat merasa sangat ketakutan. Xena berjongkok sebentar, mengikat tali sepatunya yang terlepas. Kemudian bangkit dan siap akan berlari sekuat tenaga menuju jalan raya, bila berlari hanya butuh waktu sekitar 7 menit untuk tiba di jalan raya.
Xena berbalik saat itu juga, Xena maneruk napas lega sambil mengelus dadanya saat mengetahui bahwa Ana-lah yang membuka pintu rumahnya.
"Lo ke mana aja, Ana? Udah mau habis suara gue manggil-manggil Lo, tapi Lo nggak juga datang dan buka pintunya. Gue takut tau," oceh Xena seperti biasa, Xena terdiam kala melihat ekspresi wajah Ana tidak seperti biasanya. Ana hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.
__ADS_1
"Lo kenapa, Ana?" tanya Xena curiga.
"Gue enggak apa-apa, masuklah," ajak Ana masih tanpa ekspresi. Xena pun menelan saliva meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Xena pun masuk dan Ana langsung mengunci pintu rumahnya.
Tepat saat Xena berbalik badan, Ana tersenyum smirik sambil memegang pisau di tangan kanannya.
"A ... Ana Lo ma ... mau a ... apa?" gagap Xena sambil mundur kala takut melihat Ana yang begitu menakutkan.
"Lo harus mati!"
"Aaaaakhhh ....
.
__ADS_1
.
.