Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 28


__ADS_3

"Bagaimana, Nona?" tanya seorang desainer pilihan Nyonya Nata.


"Bagus, Kak. Hanya saja, apa ini tidak terlalu seksi?" Ziva menutupi belahan dadanya yang terlihat juga punggungnya yang terlalu terbuka menurutnya.


"Kalau soal itu biasa, Nona. Desain ini Nyonya Nata sendiri yang memilihnya, kalau ada yang Nona tidak sukai akan saya perbaiki secepatnya," ujar Desainer cantik itu seraya tersenyum manis.


"Ini saja, Kak. Gaun ini sangat bagus sekali dan saya sangat menyukai desainnya. hanya saja, sepertinya tidak cocok bila saya yang memakainya, terlalu mewah untuk saya," tutur Ziva merasa tak pantas mengenakan gaun indah berbalut berlian hitam dan putih yang langka, hingga Ziva merasa dirinya tidak cocok dengan Gaun mewah itu.


"Aduh, kenapa Nona bisa berpikir begitu. Menurut saya, Nona adalah adalah pengantin yang paling pantas menggenakan Gaun ini, selain karena Nona sangat cantik, desain ini saya buatkan khusus dan yang terbaik untuk Nona. Lihatlah, tanpa make up saja Nona sudah terlihat sangat cantik. Gaun ini sangat cocok untuk Nona Ziva," puji Desainer itu tak berhenti mengagumi keindahan tubuh ideal Ziva juga wajah cantik Ziva yang alami.


"Terima kasih Banyak, Kak. Terima kasih karena sudah membuatkan gaun seindah ini khusus untuk saya," ucap Ziva tulus.


"Sama-sama Nona, saya senang kalau Nona menyukainya."


Setelah selesai mencoba gaun pernikahan, Ziva langsung pulang ke rumah diantar kembali oleh Supir yang menjemputnya tadi.


Tiba di rumah, Ziva masuk ke dalam kamarnya. Duduk ranjang, Ziva mengulurkan tangan membuka laci di meja samping ranjang. Ziva mengambil selembar foto dari laci itu.


"Ibu, Ayah, Ziva rindu. Tidak lama lagi Ziva akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak Ziva cintai. Ibu, Ziva berjanji akan berusaha untuk menjadi Istri yang baik seperti yang selama ini Ibu ajarkan kepada Ziva. Ayah, Ayah tidak usah khawatir, Ziva akan berusaha bersikap baik agar Suami Ziva menyayangi Ziva sama seperti Ayah menyayangi Ziva," Ziva mengusap pelan foto ibu dan Ayahnya di dalam sana. Air matanya mengalir begitu saja tanpa dapat dia bendung.

__ADS_1


"Aw!" Ringis Ziva sambil menekan perutnya erat, kala merasakan sakit yang teramat sangat.


Ziva meraih gelas berisi air di atas meja lalu meminumnya cepat dengan sekali tegukan. Ziva terbaring di ranjangnya, terus meringis saat penyakitnya kambuh. Ziva hanya dapat menahan sakit itu. Harusnya, hari ini adalah jadwal dirinya mendapatkan perawatan dari Dokter Adit.


Ketakutannya akan bertemu sahabat Dokter Adit lebih besar, hingga dia lebih memilih menahan sakit daripada harus menjadi Asisten Dokter Adit.


***


"Mau lagi nggak, Dokter?" tanya Xena menggoda.


"Kenapa kamu ke sini dan dari mana kamu mengetahui bahwa saya bekerja di sini?" tanya Dokter Adit murka.


"What!"


"Tidak perlu kaget, Dokter. Bukankah bagus kalau aku menjadi Asistennya Dokter, aku bukan hanya pandai menyiapkan segala keperluan Dokter. Tapi, aku juga pandai memuaskan Dokter," Xena berdiri lalu berjalan menggoda dengan meliuk-liukan tubuh semoknya hingga mendekat pada Dokter Adit.


Jak*un dokter Adit turun naik, kala kesusahan menelan salivanya yang tercekat. Dia adalah pria yang normal, sedikit banyak dirinya benar-benar tergoda pada keindahan lekuk tubuh Xena yang membuatnya menggila.


Sama seperti Ibunya, Bibi Aslin. Xena juga memiliki lekuk tubuh menggoda bak gitar spanyol meski usianya baru menginjak delapan belas tahun.

__ADS_1


"Di mana Ziva? Kamu siapanya Ziva?" tanya Dokter Adit menyingkirkan diri dari Xena.


Dokter Adit memilih duduk di kursinya, tak mau kalah, Xena pun ikut ke mana pun Dokter Adit pergi. Kini, Xena berada di belakang Dokter Adit.


"Kak Ziva ada di rumah. Katanya, dia merasa tidak enak badan dan selama Kak Ziva sakit, akulah yang akan menggantikan posisinya sementara," jawab Xena dengan nada suara yang melembut.


"Jadi, kamu adalah Adiknya Zivanya?" tanya Dokter Adit penasaran.


"Bukan. Saya adalah Sepupunya, semenjak Ibu dan Ayahnya Kak Ziva meninggal. Kak Ziva tinggal bersamaku dan Ibuku," jelas Xena membuat Dokter Adit menganggukan kepala mengerti.


"Besok bawa Kakakmu kemari, dia harus dirawat karena penyakitnya semakin parah," ujar Dokter Adit membuat Xena bingung.


"Penyakitnya parah? Dokter, Kak Ziva hanya demam biasa saja, bukannya penyakitan," saut Xena.


"Apa kamu tidak tau? Kakakmu itu mengalami penyakit mematikan."


"Mana mungkin, Dokter. Om Dokter jangan asal bicara, selama ini Kak Ziva baik-baik saja. Jadi, mana mungkin Kak Ziva penyakitan."


"Ziva mengalami penyakit diabetes serta gagal ginjal," sambung Dokter Adit membuat Xena kaget.

__ADS_1


Astaga, kalau calon mertuanya tahu bahwa Kak Ziva penyakitan. Pasti mereka akan membatalkan pernikahan dan itu artinya, aku dan ibu akan kembali hidup melarat.


__ADS_2