
"Pengantin pria sudah diperbolehkan mencium pengantin wanita!" seru pendeta.
Lolan mendekat, menarik pinggang ramping Ziva dan langsung mel*mat bibir Ziva kasar. Hal itu sontak membuat Ziva marah dan reflek menampar Lolan dengan kerasnya.
Semua tamu undangan terdiam, suasana tiba-tiba mencengkam, Ziva yang baru menyadari kesalahannya langsung menundukkan wajahnya karena takut menatap Lolan yang memberikan tatapan tajam.
"Pengantin prianya sudah tidak sabar, haha ...." seru pembawa acara membuat para tamu ikut menertawakan Lolan yang tidak sabaran ingin melahap istrinya.
"Berani menamparku, lihat apa yang akan aku lakukan padamu malam ini," ancam Lolan berbisik di telinga Ziva.
Setelah turun dari panggung, Xena langsung bergabung bersama Ibunya.
"Ada apa dengan Kakakmu?" tanya Bibi Aslin pada Putrinya, Xena.
"Aku tidak tau, Bu. Tapi, tadi Kak Ziva ketakutan."
__ADS_1
"Halah, mana mungkin ketakutan. Dia hanya gugup saja, benar-benar membuat malu. Kamu lihat tadi, bagaimana romantisnya Putra Nyonya Nata menggendong Kakakmu menuju altar. Lihat, dijodohkan juga tidak seburuk itu. Nanti Ibu akan kenalkan kamu kepada Kabut Louise, dia adalah Putra Tuan Hadden. Dia juga kaya raya," bujuk Bibi Aslin yang ingin menjodohkan Xena.
"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak mau dijodohkan, Ibu!" Bentak Xena menghentakkan kakinya dan langsung pergi meninggalkan Ibunya.
Saat akan pergi dan mengambil makanan, Xena tak sengaja melihat Dokter Adit yang duduk menyendiri dengan beberapa botol anggur di hadapannya. Xena begitu terkejut melihat keadaan Dokter Adit yang sangat kacau dan terlihat sudah mabuk karena kebanyakan minum anggur.
Xena melihat ke mana arah pandangan mata Dokter Adit, betapa hancur hatinya saat melihat pandangan mata yang telah basah itu terus menatap ke arah panggung melihat Ziva tak biasa.
Xena menutup kedua mulutnya tak percaya. Namun, melihat kekecewaan dan betapa hancurnya hati seorang pria yang dicintai membuat hatinya juga ikut bersedih.
"Dokter Adit masih mencintai Kak Ziva dan sangat mencintai Kak Ziva," ucap Xena dengan setetas air mata yang lolos karena tak sanggup melihat kenyataan.
Melihat Dokter Adit yang akan pergi, Xena langsung mengikuti dari belakang. Dokter Adit terlihat berjalan dengan terhuyung-huyung hingga tiba di parkiran. Walau sedih dan kecewa, tapi rasa cinta yang terlalu dalam mampu mengalahkan egonya. Xena tidak akan membiarkan Dokter Adit pergi sendirian dalam keadaan mabuk berat.
Xena tidak takut sama sekali, tanpa Dokter Adit sadari, Xena juga ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. "Ziva, aku mencintaimu," kini, rentetan air mata menyapu deras kedua pipi Xena, dia tidak dapat menahan rasa sakit di hatinya saat mendengar pengakuan Dokter Adit yang begitu jelas di telinganya.
__ADS_1
"Dan aku mencintaimu, Dokter Adit," gumam Xena dengan suara yang bergetar namun pelan.
Duduk di kursi belakang, Xena dapat melihat dan mendengar semua ocehan Dokter Adit yang melampiaskan kekecewaannya. Xena hanya melihat tanpa dapat melalukan apa pun.
"Kenapa harus Lolan? Dia akan membuatmu menderita, Ziva," pekik Dokter Adit melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul stir kemudi dengan keras.
"Apa maksud ucapan Dokter Adit barusan? Kenapa dia mengatakan Kak Ziva akan menderita," pikir Xena berusaha mencerna ucapan Dokter Adit.
Beberapa menit kemudian, Dokter Adit memutuskan tancap gas dan pulang ke rumahnya dengan membawa mobil dengan kecepatan tinggi membuat Xena memejamkan mata ketakutan.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya Xena dapat bernapas lega setelah berhasil tiba di tempat tujuan. Xena merasakan kepalanya begitu pusing karena entah berapa kali Dokter Adit hampir menabrak mobil orang lain.
Melihat Dokter Adit yang telah keluar dari mobil, Xena pun juga ikut keluar dari mobil. Xena mengekor di belakang Dokter Adit hingga masuk ke dalam kamar di Apartemennya.
"Ziva, kamu datang ...."
__ADS_1
Selamat hari Senin semuanya, jangan lupa votenya🥰 Terima kasih banyak 🙏🏻❤️❤️