
"Main sendiri saja. Pergi ke kamar mandi, ambil sabun, lalu gunakan sebagaimana mestinya," jawab Dokter Adit asal, membuat Ziva terselak salivanya sendiri.
"Apa boleh?" tanya Lolan ragu.
"Kenapa tidak?" tanya balik Dokter Adit.
"Akan aku coba," jawab Lolan membuat Ziva merasa ingin segera pergi dari ruangan terkutuk itu.
"Tolong jarumnya, Nona," Ziva memberikan jarum yang dipegangnya ke tangan Dokter Adit yang terulur.
"Dokter Adit, apa tidak bisa itu dikecilkan dulu sebelum digunakan? Bukankah ukurannya terlalu berlebihan," celetuk Ziva melontarkan pertanyaan yang membuat kedua pria di ruangan itu kaget.
"Dipotong maksud Nona?" tanya Dokter Adit dengan gerakan tangannya seakan sedang memotong sesuatu.
"Sialan! Kau ingin membunuhku!" bentak Lolan pada Dokter Adit.
"Apa bisa dipotong? Maksudnya di operasi," ralat Ziva berpikir bahwa benda itu bisa dikecilkan dengan cara dioperasi.
"Kamu ingin membunuhku, Sayang?" sahut Lolan menatap Ziva tak percaya. Bagaimana mungin Istrinya punya pemikiran seperti itu. Baru juga bisa berdiri, masak iya harus di potong. Sungguh malang nasibnya.
__ADS_1
"Pakai obat juga tidak apa, asal jangan sebesar itu," tutur Ziva meringis takut saat kembali melihat benda tegap berdiri itu.
"Sayang, obat yang akan membuatnya besar memang ada, bahkan banyak jenisnya. Tapi, kalau obat untuk membuatnya mengecil, mana mungkin ada, Sayang," lontar Lolan membuat Ziva seketika cemberut, terlihat begitu imut di mata Lolan, hal itu seketika membuat benda di bawah sana semakin membesar.
"Aku, kan, hanya bertanya saja. Siapa tau bisa, kalau tidak bisa juga tidak apa-apa. Kenapa harus marah padaku," Ziva menundukkan wajahnya sedih.
"Maaf, Sayang. Aku juga tidak bermaksud memarahimu. Maaf ya," bujuk Lolan menggenggam jemari Ziva.
"Iya," jawab Ziva singkat dan tetap menundukkan wajahnya.
"Nona Ziva, dengarkan aku. Sebenarnya, benda sebesar tidak akan sakit bila masuk, asalkan Lolan melakukannya perlahan. Jadi, Nona tidak usah khawatir apalagi takut," kilah Dokter Adit berbohong agar Ziva tak lagi takut.
"Benarkah?" tanya Ziva antara percaya dan tak percaya.
"Lolan sudah selesai, sekarang giliran Nona. Berbaringlah," potong Dokter Adit langsung mengubah topik pembicaraan.
Karena terapi untuk Lolan sudah selesai, sekarang saatnya Dokter Adit akan memeriksa luka bekas operasi sekaligus memantau perkembangan ginjal barunya.
Lolan turun dari ranjang setelah sebelumnya memasang kembali celananya. Setelah turun, Lolan langsung membantu Ziva naik ke atas ranjang yang lumayan tinggi. Ziva berbaring di ranjang.
__ADS_1
Kemudian, Lolan menyingkap baju yang dikenakan Istrinya. Dengan begitu, Dokter Adit akan langsung memeriksa luka bekas operasi Ziva. Dokter Adit membuka kain kasa yang menutup luka itu, lalu membersihkannya dengan perlahan.
"Apa masih sakit, Sayang?" tanya Lolan lembut.
"Tidak sakit sama sekali," Ziva menggelang, Lolan tersenyum lega mendengarnya.
"Lukannya sudah mulai mengering. Tapi, untuk sekarang masih belum boleh terkena cipratan air. Tunggu beberapa hari lagi," sahut Dokter Adit tetap fokus pada luka Ziva.
"Dengar apa yang Dokter Adit katakan, Sayang. Jadi, aku masih tetap harus membantumu mandi," sambung Lolan tersenyum senang. Tentu senang karena dia dapat melihat tubuh polos Isttinya yang selalu mampu membuatnya menegang. Mendengar ucapan Suaminya, Ziva hanya menghela napas pasrah.
***
Setelah menyelesaikan terapi, Lolan dan Ziva langsung kembali ke kamarnya. Karena sudah sore hari, Lolan pun langsung mengajak Ziva untuk mandi, Ziva yang merasa tubuhnya lengket langsung mengiyakan ajakan Lolan.
"Aku bantu buka, Sayang," tawar Lolan begitu pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Aaaakhh!"
.
__ADS_1
.
.