Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 90


__ADS_3

Lolan tertegun kala menatap Ziva yang terbaring di atas ranjang dengan taburan bunga-bunga indah mengelilingi tubuhnya.


Ziva memegang setangkai bunga berwarna putih bercampur pink, dia menengadah saat merasakan ada seseorang yang menatapnya terpesona "Lolan Sa-sayang ... A-ku siap, malam ini, aku adalah milikmu."


Lolan terbelalak kaget ketika mendengar kalimat pasrah yang keluar dari mulut merah merona milik Ziva. Kata-kata yang tidak seberapa itu mampu membuatnya seakan melayang di udara. Perlahan Lolan berjalan mendekat, menghitung setiap langkah pelannya.


Ya, Lolan memutuskan untuk bersikap tenang dan tidak terlalu terburu-buru karena tidak ingin membuat Ziva ketakutan. Di samping itu, berdasarkan pengalamannya, setiap kali ingin melakukan dengan jiwa yang terlalu menggebu-gebu selalu berakhir dengan kegagalan. Untuk itulah, kali ini Lolan memilih untuk bersikap lebih tenang.


Melihat Lolan yang berjalan mendekat, Ziva menelan saliva bersusah payah. Walau dia telah menyiapkan dirinya, tapi tatap saja Ziva merasa gugup. Padahal, Mommy Nata sudah membantu membuatnya merasa begitu percaya diri.


Sebelumnya, Mommy Nata membawa Ziva menuju ke sebuah spa kecantikan. Di sana, Ziva diperlakukan bak Putri kerajaan, di pijat dan dibersihkan tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bahkan, mereka juga menyingkirkan rambut-rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh Ziva, termasuk rambut yang tumbuh di pangkal pahanya. Hingga kini, Ziva menjadi begitu bersinar dan Lolan juga merasakan sinar itu.


Lolan merasa dirinya telah dihipnotis oleh kecantikan Ziva, sungguh dirinya ingin terus memandang Ziva, tak ingin berpaling. Ada begitu besar kebahagiaan yang dia rasakan saat memandang wajah rupawan Ziva yang entah kenapa malam ini terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.


"Ziva, kamu sangat cantik dan luar biasa cantik malam ini," Ziva yang awalnya menengadah menatap Lolan, seketika menundukkan wajahnya dalam saat merasa malu ketika mendengar pengakuan Lolan.


Lolan duduk di pinggir ranjang, menatap Ziva dari ujung kaki hingga ujung rambut. Walau Ziva tetap memakai gaun berwarna putih yang panjang dan tertutup, tapi tetap saja Ziva terlihat begitu menggairahkan di matanya.

__ADS_1


Bagian tubuh Ziva yang paling dekat dengannya adalah kaki mulus nan mungil itu, Lolan tersenyum melihat kaki indah yang putih bersih dan sedikit merona itu. Astaga, hanya dengan memandang kaki indah itu, tubuhnya dapat menegang kala hasratnya semakin membuncah.


Walau hasratnya sudah di ubun-ubun, tapi Lolan tetap berusaha untuk bersikap tenang dan lembut. Dia tidak ingin malam bersejarah yang selama ini dia tunggu-tunggu harus kembali terulur hanya karena Ziva yang takut.


Perlahan, Lolan mengulurkan tangan kekarnya, mendaratkan jemarinya tepat di pucuk kaki Ziva, menyentuh, menge lus dan mera ba kaki merona itu. Membuat Ziva menggerakkan kakinya karena merasa geli. Astaga, kakinya saja semerona itu, bagaimana dengan bagian lainnya? Kakinya saja sesensitif itu, bagaiamana pula dengan bagian tubuh indah lainnya? Sungguh Lolan tak sabar ingin mengetes dan melihatnya sendiri secara nyata. Tapi, lagi-lagi dia menghela napas agar kembali tenang seperti rencana awal.


Karena merasa tidak nyaman pada kelakuan Lolan yang terus mengelus kakinya, Ziva pun menarik kakinya cepat. Dia sudah tidak lagi tahan, menahan rasa geli di sana.


Lolan tersenyum melihat Ziva yang menarik kembali kakinya, membuat Lolan memutuskan untuk maju hingga tubuhnya berada tepat di samping tubuh Ziva yang masih terbaring di ranjang dengan tak lepas memegang setangkai bunga.


Lolan kembali mengulurkan tangannya, merebut setangkai bunga yang Ziva genggam erat. "Kamu lebih indah dari bunga ini," Lolan melemper bunga itu kesembarang arah.


"Tatap aku, tidak perlu malu," titah Lolan membuat Ziva kembali menaikkan pandangan matanya.


"Aku memcintaimu, Zivanya. Aku sangat-sangat, benar-benar, sungguh-sungguh, mencintaimu. Aku mencintaimu begitu besar hingga aku merasa akan meledak saat ini juga," Lolan mengucapkan kalimat menggetarkan hati itu tepat saat Ziva memandangnya. Ziva menelan saliva sambil merasai dadanya yang berdetak tak beraturan.


Ziva memejamkan matanya saat Lolan membelai pipi mulusnya yang merona. menyelipkan rambut gelombang Ziva ke telinga, dengan begitu, Lolan dapat melihat wajah cantik Ziva yang mampu menggetarkan tubuhnya.

__ADS_1


Lolan kembali membelai wajah Ziva, dari rambut, kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir mendarat di bibir ranum Ziva. Lolan mengusap bibir merah merona itu perlahan, Ziva hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan Lolan yang seakan mengandung listrik bertegangan tinggi hingga mampu memberikan sensai menghangatkan hingga ke ulu hatinya, membuat bunga-bunga bermekaran dan sana.


Tanpa Ziva sadari, Lolan mendekatkan wajahnya ke wajah Ziva, mengikis jarak diantara mereka. Merasakan hembusan napas seger aroma mint khas Lolan, Ziva semakin mengeratkan pejaman matanya. Meyakinkan dirinya bahwa dia memang telah ikhlas menyerahkan diri sepenuhnya untuk Lolan.


Lolan terus mendekat, hingga bibirnya menyentuh dan merasakan bibir kenyal milik Ziva. Hanya menempel saja Lolan dapat merasakan nikmatnya bibir Ziva yang hangat dan manis tanpa gula. Sungguh tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan dia diabetes saking tingginya puncak gairah yang dia capai.


Lolan merasa ingin menerkam Ziva, tapi lagi-lagi dia berhasil menyadarkan dirinya. Mengingat ini pertama kalinya bagi Ziva, Lolan tidak ingin menggagalkannya apalagi meninggalkan kenangan buruk untuk Ziva.


Beberapa detik kemudian, Lolan mulai ******* bibir manis Ziva dan ....


.


.


.


Dan tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan 💃💃💃

__ADS_1


Senin, Guys. Sebelum part hot mulai, jangan lupa vote, kopi dan mawarnya. Mani Calangeo😘


__ADS_2