Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 77


__ADS_3

"Yes, Berhasil!" batin Xena gembira karena rencananya berhasil. Pengakuan, sebenarnya hanya sebuah pengakuan yang Xena ingin dengarkan dari Dokter Adit sebelum benar-benar menikah dengan Dokter tampan itu.


Xena hanya ingin memastikan, benarkah Dokter Adit mencintainya dan tulus ingin menikahinya? Bukan hanya karena merasa bersalah karena sudah memperk*sanya. Bak sekali tepuk dua nyamuk mati, Xena tak hanya mendapatkan pengakuan dari Dokter Adit, tapi dia juga mendapatkan restu dari Ibunya. Ya, walaupun Ibunya tetap mementingkan harta, tapi yang paling penting dia tidak akan jadi dijodohkan.


"Apakah Dokter tulus?" tanya Xena antusias.


"Tentu saja, kalau tidak serius mana mungkin aku memberi tahu kedua orang tuaku, bahwa aku ingin menikahimu," jawab Dokter Adit jujur.


"Apa Dokter benar-benar tulus mencintaiku? Apa ... Apa Dokter tidak lagi mencintai Kak Ziva?" tanya Xena membuat Lolan, Ziva, dan Bibi Aslin kembali kaget.


"Mencintai Ziva!" ucap Lolan menekan kalimatnya.


"Itu dulu, Lolan. Kalau sekarang aku benar-benar sudah sangat mencintai Xena, aku berani bersumpah tidak sedikit pun lagi mencintai Ziva. Aku ... Aku hanya merasa Ziva punya kemiripan dengannya (masa lalu). Tapi, sekarang aku ingin melupakannya. Jadi, aku serius kepada Xena," jelas Dokter Adit.


"Baguslah," jawab Lolan singkat. Sedangkan Ziva di sebelah sana mengelus dadanya lega setelah mengetahui bahwa Dokter Adit tidak lagi mencintainya, dirinya senang akan kebersihan keponakannya itu dalam misi mendapatkan hati seorang Dokter Adit.

__ADS_1


"Tapi, Putriku Xena masih sekolah. Aku tidak mau dia meninggalkan sekolahnya hanya karena ingin cepat-cepat menikah," sanggah Bibi Aslin.


"Aku dan Dokter Adit akan menikah secara diam-diam, Ibu. Seperti di drama-drama populer itu, ah tidak sabarnya. Aku senang menjadi pemeran utama dalam sebuah drama," jawab Xena membuat semua orang menggelengkan kepala serentak.


"Iya, Ibu. Karena Xena masih sekolah kami akan menikah secara diam-diam, setelah Xena lulus baru akan diadakan resepsi. Seharusnya Daddyku yang mengatakan hal ini, tapi sudahlah lebih cepat dikatakan lebih baik," tutur Dokter Adit yang begitu merasa geram akan kepolosan Xena.


"Baiklah, tidak apa-apa menikah secara diam-diam dulu. Yang penting, jangan sampai Xena hamil duluan," imbuh Bibi Aslin.


"Baik, Ibu. Ibu tidak perlu khawatir," kata Xena menunjukan barusan giginya yang rapi.


Setelah semua drama yang terjadi. Saat suasana tiba-tiba lengang, saat itulah Xena buang angin dengan suara yang kencang, bukannya malu, Xena malah tertawa-tawa sendiri kala merasa lucu dengan suara aneh yang mengejutkan semua orang.


Jika Xena di suapi oleh Ibunya, maka Ziva di suapi oleh Lolan. "Bagaimana rasanya, Sayang? Enak bukan?" tanya Lolan sambil menyuapi Ziva dengan makanan khusus yang rumah sakit siapkan.


"Hambar, tidak ada rasa sama sekali," jawab Ziva jujur.

__ADS_1


"Benarkah?" Lolan langsung mencicip makanan milik Ziva dan benar saja, bubur yang dia suapkan kepada Istrinya benar-benar tidak ada rasanya.


"Haha ... Oh iya, apa Dokter Adit mengatakan berapa lama aku dan Xena akan di rawat di rumah sakit ini?" tanya Ziva yang tampak mulai bosan, padahal belum sehari berada di rumah sakit.


"Hanya dirawat selama tiga hari di rumah sakit, setelahnya kamu akan di rawat di rumah selama satu hingga dua minggu," jawab Lolan menjelaskan.


"Dua minggu, Kenapa lama sekali?" sahut Ziva.


"Apa kamu sudah tidak sabas, Sayang?" goda Lolan.


"Tidak sabar apa?" tanya Ziva heran.


"Tidak sabar ingin melewati malam panjang bersamaku."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2