
Tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata dan telinga yang melihat dan mendengarkan semua perbincangan yang mereka diskusikan.
"Dasar Ibu, Zaman sekarang apa yang ingin ditakutkan?, pokoknya aku mau hamil sekarang walau aku sendiri pun ragu. Tapi, aku adalah perempuan, mengandung dan melahirkan adalah kodratku. Aku tetap akan hamil, lihat saja nanti."
Xena langsung pergi dan kembali ke kamarnya dengan terburu-buru. Sedangkan Adit melanjutkan kembali perjalananya menuju ruang makan untuk mengisi perutnya. Setelah merasa cukup, Adit kembali ke lantai atas.
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Adit melihat Xena yang tengah memainkan ponselnya. Adit mendekat, naik ke atas ranjang dan duduk di samping Sang Istri yang telah bersandar di kepala ranjang. Dari raut wajah Adit, tersirat kekhawatiran, Adit khawatir Xena mendengar perbincangannya bersama dengan Ibu Mertuanya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Adit was-was.
"Aku mendengarnya," Xena mengalihkan pandangannya, sedangkan Adit menghela napas berat, diguannya benar. Xena mendengar semuanya.
"Benar apa kata Ibumu, Sayang. Akan berisiko bagimu bila hamil di usia yang masih muda. Kalau pihak sekolah mengetahui pernikahan kita, itu juga akan berbahaya bagimu, Sayang. Aku tidak ingin kamu terluka," tutur Adit memeluk Sang Istri erat.
"Tapi, kasihan Mommy Adna dan Daddy Jonas. Mereka pasti sudah sangat berharap aku akan memberikan Cucu kepada mereka berdua," balas Xena mencebikan bibirnya. Berakting menyedihkan adalah hal yang utama untuk membujuk Suami.
"Mommy dan Daddy juga setuju dengan keinginan Ibumu, mereka berdua memang sangat mengharapkan kehadiran seorang Cucu. Tapi, bagi mereka kamu yang lebih diutamakan. Kehadiran kamu sudah lebih dari cukup bagi mereka berdua. Mengertilah Sayang, aku juga tidak ingin kehilanganmu," terang Adit pelan-pelan agar Sang Istri cerdasnya itu dapat mengerti dengan perkataannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju. Tapi, aku tidak mau mengonsumsi pil KB, aku tidak mau gemuk," tegas Xena melepaskan Adit dari pelukannya, dan langsung berbaring dengan posisi nyamannya.
"Terima kasih, Sayang." Adit mencium pucuk kening Sang Istri dengan penuh kelembutan.
"Aku juga tidak setuju kamu mengonsumsi jenis pil seperti itu karena tidak bagus untuk pertumbuhanmu," sahut Adit mengelus pipi Xena dengan lembut, membuat sang pemiliknya merinding.
"Lalu, bagaiamana caranya agar aku tidak hamil?, jangan bilang kalau kamu memilih tidak akan menyentuhku," Xena menekan kalimatnya, seakan tidak setuju bila Sang Suami tidak menyentuhnya.
"Kamu lucu sekali, Sayang. Tidak disentuh cemberut, sekalinya disentuh malah takut. Perempuan memang unik dan sulit ditebak," Adit tertawa kecil.
"Sayang, aku jamin kamu tidak akan menyentuh pil itu. Tapi, aku juga akan tetap menyentuhmu. Ingat, kamu masih punya hutang kepadaku, kamu belum menyerahkan dirimu kepadaku, bagaimana mungkin aku harus menunggu lagi."
"Kalau begitu, bagaiamana caranya agar kamu tetap menyentuhku tapi aku tidak akan hamil?, apa kamu akan menggunakan sarung tinju?"
"Sarung tinju?" Adit mengerutkan alisnya bingung.
"Itu, Sayang. Sabuk pengaman."
__ADS_1
"Sabuk pengaman?" Adit semakin bingung.
"Pengaman senjatamu. KOND*M!" pekik Xena geram.
"Oh, benda sejenis itu. Tidak sayang, aku akan melakukan metode vesektomi," Xena kaget mendengarnya.
"Tidak, aku tidak setuju kamu begitu. Aku pernah mendengarnya dari Cristi, katanya itu kamu akan dipotong. Tidak, pokoknya aku tidak setuju," tegas Xena tak dapat dibantah.
"Sayang—"
"Tidak, aku tidak setuju."
"Lalu apa?, pakai sarung tinju seperti yang kamu katakan tadi."
"Iya, Cristi bilang ada yang berduri, dia bilang enak."
"Sayang, kamu jangan terlalu percaya kepada dua sahabatmu itu. Jangan terlalu polos Sayang."
__ADS_1