
"Ya sudah pergi saja kamu! Tidur di luar sana! Tiba-tiba saja aku merasa sesak napas," usir Ziva membuat Lolan mengerjabkan matanya kala tak siap harus kembali tidur di kamar terpisah dengan Sang Istri.
"Sayang, aku—"
"Pergi" teriak Ziva membuat Lolan tak punya pilihan lain, selain terpaksa keluar dari kamar meninggalkan Ziva yang tengah mengurung diri. Mood seorang wanita hamil memang sulit ditebak dan Lolan harus memaklumi hal itu.
Tiba di luar, Lolan tak langsung pergi melainkan tetap berdiri di depan pintu kamar. Lolan tampak tengah berpikir keras tentang apa yang Istrinya idamkan. Tak ingin ambil pusing, Lolan pun membuat panggilan dengan Dokter Albern dan akan berkonsultasu langsung mengenai hal itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Dokter Albern di seberang sana.
"Begini, Dokter. Apakah semua ngidam harus dipenuhi?"
"Tentu, tentu harus dipenuhi apa pun itu." balas Dokter Albern membuat Lolan tertegun.
__ADS_1
"Bila hal itu berbahaya, bagaimana Dokter?" tanya Lolan lagi.
"Hal yang seperti apa dulu, Tuan?"
"Seperti menembak, Ziva ingin melakukan oleharaga berat dan berbahaya itu, Dokter. Apakah harus dipenuhi juga?" terang Lolan.
"Wah, ngidam yang unik. Menurut saya coba saja, Tuan. Karena ini cukup berbahaya, saya akan memantau kondisi Nona saat olahraga ini dilakukan. Dengan kata lain, harus ada saya yang mendampingi, untuk itu Tuan tidak perlu khawatir," Lolan menghela napas kasar.
Pada akhirnya, dia harus tetap mengizinkan Sang Istri untuk melakukan olahraga berbahaya itu. Namun, setidaknya Lolan merasa cukup tenang dan lega kala akan selalu ada Dokter Albern yang mengawasi.
"Saya yakin tidak akan terjadi hal buruk dan Nona akan baik-baik saja. Tuan tidak perlu khawatir, karena ini adalah keinginan calon bayi Tuan, maka harus dilakukan. Itu adalah keinginan calon pewaris Talsen Baldev selanjutnya, tentu tidak boleh diabaikan begitu saja." tutur Dokter Albern malah membuat Lolan merasa khawatir.
Setelah menyelesaikan perbicangan dengan Dokter Albern, Lolan segera mengetuk pintu kamar beberapa kali untuk minta izin masuk kepada Sang Istri. "Sayang aku masuk, ya. Aku menyetujui keinginanmu. Besok kita akan langsung menuju tempat pelatihan menembak.
__ADS_1
Pintu kamar langsung berderit lalu terbuka lebar hingga muncul-lah sosok Ziva dengan raut wajah cerianya. Seperti biasa, dia akan sangat mudah merubah moodnya, bila apa yang dia inginkan berhasil dia dapatkan.
"serius?"
"Iya, Sayang. Besok kita akan berangkat ke tempat pelatihan menembak," jawab Lolan dan Ziva langsung memeluknya dengan erat.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita tidur, ya. Agar kamu punya banyak tenaga untuk menembak besok," ajak Lolan dan Ziva pun menganggukkan kepalanya cepat.
Malam itu, keduanya tidur tanpa melakukan hal seperti malam-malam sebelumnya. Keduanya terlelap dengan nyenyak begitu saja. Keesokan paginya, Ziva bangun lebih dulu karena sudah tak sabaran ingin segera berangkat ke tempat pelatihan menembak bersama Sang Suami. Karena keinginan Ziva, Lolan terpaksa tidak masuk kerja demi menemani Sang Istrinya tercinta menembak.
Setelah selesai sarapan bersama, Lolan dan Ziva pun langsung berangkat ke tempat pelatihan itu. Namum, sebelum ke sana Lolan dan Ziva singgah lebih dulu di Apartemen Dokter Albern karena Dokter Albern juga akan memantau kondisi Ziva selama pelatihan berlangsung.
Beberapa menit kemudian, ketiganya pun telah tiba di tempat pelatihan menembak yang terkenal di kota. Lolan sama sekali tidak menggunakan kekuasaannya saat pergi ke sana. Namun, karena manajer di tempat itu tahu bahwa Lolan akan datang, mereka pun langsung mengosongkan lokasinya.
__ADS_1
Hanya satu orang ahli yang akan langsung mengajari Ziva cara menembak. Pria kakar itu adalah Max, Max tak lain adalah salah satu anggota Gangster Paman Hadden yang terkenal pandai menembak. Lolan pun menyerahkan Istrinya kepada pria kekar paruh baya itu. Meski Lolan sendiri bisa menembak, tapi tentu dia tidak akan bisa menyamai keahlian seorang Max.
"Baiklah, mari kita mulai pelatihan ini."