
"Apa Mommy terlambat?" tanya Mommy Nata yang baru datang bersama dengan Daddy Jackson.
"Tidak terlambat sama sekali, Mom. Baru saja akan dimulai terapinya, silahkan duduk Mommy, Daddy," ujar Dokter Adit dan kedua sejoli yang sudah tak lagi muda itu langsung duduk di sofa. Sedangkan Lolan berdiri mengekor di belakang Dokter Adit yang menuju ke sebuah ruangan khusus.
"Karena terapi ini berpasangan. Jadi, Nona Ziva juga harus ikut membantu Suami Nona," Dokter Adit berbalik, memanggil agar Ziva juga ikut.
Ziva pun berdiri walau ragu. "Semangat Sayang!" seru Mommy Nata memberi semangat kepada Menantunya, Ziva.
Tiba di dalam ruangan, seperti biasa Lolan langsung berbaring di ranjang. Sedangkan Dokter Adit menyiapkan beberapa alat yang tidak Ziva ketahui kegunaannya.
"Nona berdiri saja di samping Suami Nona, tidak perlu malu," kata Dokter Adit memberitahu Ziva sambil tetap fokus pada alat-alat medis dihadapannya. Ziva kagum akan tindakan Dokter Adit yang begitu profesional, Dokter Adit tampak biasa saja, Ziva merasa lega akan hal itu.
Meski terlihat biasa, sebenarnya Dokter Adit begitu hancur hatinya. Mengetahui Ziva menikah dengan Lolan saja dia sangat hancur hingga hampir memp*rkosa wanita lain. Entah sehancur apa hatinya kini, saat harus melihat sendiri tetapi intim yang akan dilakukan wanita yang dia cintai.
Walau hatinya sakit, Dokter Adit harus tetap profesional dalam bekerja. Dia dituntut harus bisa mengendalikan hatinya demi bisa menyembuhkan pasiennya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Berdiri di samping ranjang, Ziva dapat melihat dengan jelas apa-apa saja yang dilakukan oleh Dokter Adit kepada Lolan. Dimulai dari memeriksa detak jantung, memeriksa denyut nadi, memeriksa mata, dan lainya. Semuanya Ziva perhatikan dengan seksama.
Ketika Dokter Adit siap membuka celana yang Lolan kenakan, saat itu pula Ziva mengalihkan pandangan ke arah lain karena tidak ingin melihat benda itu. Bisa dibayangkan bagaimana gugupnya perasaan Ziva. Ada dua orang laki-laki di dalam ruangan itu, sedangkan dirinya perempuan seorang diri. Entah kenapa Ziva merasa dirinya telah ditidas, Padahal pria yang dibuka celananya adalah Suaminya sendiri.
__ADS_1
"Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Dokter Adit, sedangkan Ziva masih tetap mengalihkan pandangan, tidak ingin melihat apa yang kedua pria itu lakukan, walau sebenarnya dia merasa sedikit penasaran. Benarkah benda pusaka itu tidak bisa berdiri? Sulit Ziva percaya.
"Tidak, aku tidak merasakan apa pun?" jawab Lolan santai.
"Apa sakit?" kembali Dokter Adit bertanya, membuta Ziva kembali membayangkan hal-hal aneh. Apakah Dokter Adit mencubitnya? Astaga, Ziva merutuki pikirannya yang tiba-tiba tercemar.
"Tidak juga, aku masih belum bisa merasakan sesuatu," jawab Lolan lagi.
"Nona Ziva," panggil Dokter Adit.
"Iya, Dokter," jawab Ziva enggan menoleh.
"Lolan, kau tidak boleh begitu. Dia Istrimu," sahut Dokter Adit membela Ziva.
Terdengar helaan napas berat Ziva, setelahnya berulah Ziva berbalik dan langsung menghadap ke wajah Dokter Adit, Ziva menahan kepalanya agar tidak melihat ke bawah.
"Saya membutuhkan bantuan Nona," ujar Dokter Adit menatap Ziva penuh arti seakan meminta maaf kepada wanita yang ada di hatinya itu.
"Katakan saja Dokter, apa pun akan saya lakukan. Saya siap melakukan apa pun," jawab Ziva yakin.
__ADS_1
"Tapi maaf, karena mungkin hal ini akan membuat Nona merasa tidak nyaman," sahut Dokter Adit.
"Katakan saja, Dokter. Apa yang harus saya lakukan," tegas Ziva yakin.
"Membuka seluruh pakaian ....
.
.
.
Guys, terapi yang diceritakan dalam novel ini adalah terapi berdasarkan HALU. Jadi, JANGAN DICONTOH!
Impoten harus langsung ditangani oleh Dokter Andrologi, jangan ikuti kisah sesat ini🤣 Latar Novel ini juga bukan Indonesia, jadi jangan kaget lihat tingkah aneh temen-temennya Xena.
INI NOVEL FIKSI!
Jangan lupa berikan dukungan agar Othor makin semangat Crazy Upnya. Like, komen, hadiah, dan votenya. Selamat membaca, Lope reader semua🙏🏻😘😘😘
__ADS_1