
Xena tersenyum penuh arti menatap pangkal paha Dokter Adit yang berada tepat di hadapannya. Dengan santainya, dia mengulurkan tangan kirinya ke pangkal paha Dokter Adit yang terbalut kain lengkap. Dari luar—Xena mengelus perlahan pedang tumpul milik Dokter Adit.
"Akh!" Pekik Dokter Adit seketika kaget saat merasakan pedang tumpulnya dieluas oleh seseorang. Saking kagetnya, kursi yang didudukinya beringsut beberapa centi ke belakang.
Dokter Adit menundukkan sedikit kepalanya ke kolong meja, dan betapa syoknya dia saat melihat Xena yang mengedipkan sebelah mata menggoda sambil meletakkan jari telunjuk di bibir sebegai isarat meminta Dokter Adit untuk diam.
"Ada apa, Dokter? Apa terjadi sesuatu?" tanya seorang pasien perempuan paruh baya yang duduk di hadapan Dokter Adit.
"Tidak ada apa-apa, Nyonya. Silahkan lanjutkan konsultasinya," jawab Dokter Adit gugup dan duduk kembali dengan tenang. Salah satu tangannya dia berikan isarat agar Xena tak lagj melakukan hal tadi.
"Ini Dokter, Coba Dokter rasakan benjolan di kedua langan saya ini. Teman saya mengatakan kalau saya harus di operasi untuk mengeluarkan gumpalannya. Tapi, kedua benjolan ini tidak sakit sama sekali Dokter. Bisakah menghilangkannya tanpa harus melakukan prosedur operasi, karena saya tidak siap untuk dioperasi, Dokter," tutur Pasien tersebut, Dokter Adit pun memajukan sedikit tubuhnya untuk memeriksa kedua lengan wanita paruh baya di hadapannya yang terdapat benjolan sebesar telur puyuh itu.
"Ini adalah tumor jinak, Nyonya. Tidak terasa sakit juga tidak terlalu berbahaya memang. Namum, gumpalan daging ini kemungkinan akan menjadi tumor ganas dan akan berbahaya bila dibiarkan begitu saja dan tidak disingkirkan. Untuk itu, harus dilakukan operasi untuk mengeluarkannya dari tubuh Nyonya. Agar lebih pasti lagi, gumpalan daging di dalamnya juga harus diperiksahh ...."
__ADS_1
"Dokter! Apa yang Dokter lakukan!" Bentak Pasien itu langsung menarik kedua lengannya karena merasa telah dilecehkan oleh Dokter Adit.
Dokter Adit kaget, namun dirinya tidak bisa menguasai diri ketika Xena mengelus senjatanya lagi, membuat hasrat yang selama ini terpendam membuncah seketika.
Pasien itu berdiri, bergidik ngeri kala melihat ekspresi Dokter Adi. Beruntung pasien itu bukan golongan orang atas, sehingga dia tidak akan mengenali siapa sebenarnya Dokter Adit.
"Nyonyahh ... Sepertinya sayah tidak enak badan, maaf ...." ucap Dokter Adit ketika pasien itu pergi keluar dari ruangannya dengan menutup pintu kuat hingga terdengar suara yang kencang.
Karena terlalu polos, atau karena gampang terpengaruh oleh kedua temannya. Entalah, entah apa yang gadis itu pikirkan. Tapi yang pasti, dia akan melakukan apa pun yang kedua temannya katakan agar tujuan dan keinginannya bisa terwujud tanpa memikirkan caranya benar atau salah.
"Lepaskan!" Bentak Dokter Adit langsung berdiri dan mendorong kursi yang didudukinya dengan salah satu kakinya.
Dokter Adit yang telah sadar, langsung berjalan cepat menuju kamar mandi dengan wajah merah, keringat bercucuran, tak lupa urat-urat wajahnya yang kencang.
__ADS_1
"Dokter mau ke mana? Belum juga keluar, kenapa sudah pergi duluan?" tanya Xena keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.
Xena berjalan menuju pintu kamar mandi dan mendengar suara erotis Dokter Adit yang samar-samar terdengar olehnya. "Ah Dokter, kenapa malah dikelurkan sendiri,," ucap Xena dengan volume suara yang keras.
"Diam kamu!" Bentak Dokter Adit di dalam sana.
"Dokter semakin tampan saat marah," saut Xena malah terkikik.
.
.
.
__ADS_1