
"Lolan, kamu sudah bangun Sayang. Loh, Ziva mana?" tanya Mommy Nata bingung.
"Dia bahkan tidak bisa bergerak, itu semua karena Mommy," ketus Lolan menyiapkan makanan untuk Istrinya.
"Maksudmu?"
"Ziva terluka karena Mommy dan Daddy," jawab Lolan enggan menolah, Mommy langsung pergi dengan berlari kencang. Sedangkan Daddy Jackson santai dan masih diam ditempat semula.
Setelah mengambil sarapan, Lolan langsung membawanya ke lantai dua, menyusul Sang Mommy yang telah ke sana lebih dulu.
***
"Sayang, maafin Mommy, ya. Mommy kira Lolan tidak kuat makanya Mommy berikan obat itu untuknya. Tidak di sangka perbuatan Mommy malah menyakitimu. Maafin Mommy, Sayang," Mommy Mata Nata memeluk Ziva erat, dia merasa sangat bersalah atas apa yang telah dia lakukan. Dia mengira Lolan tidak akan kuat karena baru sembuh dari penyakitnya, tapi ternyata putranya itu begitu bias, sama seperti suaminya sendiri.
"Iya, Mommy. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja Mommy. Tidak usah khawatir," kilah Ziva.
"Wajahmu pucat begini, Sayang. Mommy pernah ada di posisimu dan Mommy tahu bagaimana rasa perihnya, maafin Mommy, ya, Sayang."
__ADS_1
"Iya, Mommy. Aku maafkan, tapi sungguh aku baik-baik saja. Setelah mandi air hangat aku merasa lebih bugar sekarang," Ziva meregangkan otot-otot tangannya.
"Tetap saja Mommy salah, Sayang," keukeuh Mommy Nata.
"Baiklah, bagaiamana kalau Mommy suapi aku sarapan. Aku pasti akan merasa sangat lebih baik," tawar Ziva karena tahu Mommy Nata tidak akan berhenti meminta maaf kepadanya.
Melihat Lolan yang datang dengan membawa sepiring roti isi daging dan sayuran, Ziva meminta Mommy Nata untuk menyuapinya agar Sang Mommy tak lagi meminta maaf kepadanya.
"Dengan senang hati, Sayang," Mommy Nata tersenyum manis, Ziva membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
"Lolan kemarikan sarapan Ziva," lanjut Mommy Nata meminta sarapan Ziva dan Lolan pun langsung mengulurkannya.
"Sangat enak, Mommy," Ziva kembali memamerkan senyuman manisnya.
"Ayo makam lagi Sayang," Mommy Nata menyuapi Ziva lagi dan lagi, walau Ziva merasa sudah sangat kenyang, tapi Ziva tidak enak hati menolak suapan Mommy Nata, tiba-tiba saja Ziva teringat masa lalu saat Ibunya masih ada.
"Oh iya, Lolan. Tolong pinta pada Daddy-mu salep untuk Ziva, Daddy-mu yang tahu mereknya, Mommy sudah lupa," titahnya seraya menyukai Ziva yang malai terserang ngantuk karena kebanyakan makan.
__ADS_1
"Salep apa, Mommy?" tanya Lolan bingung.
"Nanti kamu juga akan tahu. Katakan saja kepada Daddy salep intuk Ziva, dia pasti mengerti," imbuh Mommy Nata.
"Baik, Mommy."
Lolan pun kembali turun ke lantai bawah untuk menemui Daddynya yang masih santai makan dengan santainya.
Tak lama berselang, Lolan kembali dengan membawa sebuah salep seperti yang Mommy-nya inginkan.
"Ini Mommy salepnya," Lolan langsung mengulurkan salep itu kepada Mommy Nata.
"Ya sudah, kamu saja yang oleskan untuk Ziva. Mommy akan ke bawah dan membuat teh jahe untuk Ziva," Mommy Nata berdiri sambil membawa piring bekas makan Ziva.
"Baiklah, Mommy," jawab Lolan yang sudah mengetahui apa fungsi obat itu.
Setelah Mommy Nata pergi, Lolan duduk di pinggir ranjang di samping Ziva. "Aku oleskan, ya?" Izin Lolan.
__ADS_1
"I-iya," Ziva juga sudah tahu untuk apa obat itu digunakan. Karena tidak mampu melihat bagian mana saja yang terluka, Ziva pun terpaksa menggunakan jasa Suaminya.