
Setelah mengoleskan salep pada Ziva, Lolan langsung duduk di pinggir ranjang tepat di samping Ziva. "Sayang, berbaliklah," titah Lolan pada Ziva.
"Untuk apa?" tanya Ziva bingung.
"Berbalik atau tidur dengan posisi menyamping saja," Ziva memilih menyamping dan Lolan langsung mendekatinya.
"Sayang aku—"
"Tidak usah mengatakan apa pun, istirahat saja, aku akan memijat pinggangmu sebentar," Lolan memijat pelan pinggang Ziva, Ziva memejamkan matanya menikmati, rasa letih dan lelah yang sebelumnya dia rasakan, kini sudah sedikit berkurang.
"Bagaimana, Sayang? Apa lebih baik?" tanya Lolan masih memberikan pijatan terbaiknya.
"Hem, sudah lebih baik sekarang."
Tok, tok, tok ....
"Siapa?" teriak Lolan dari dalam.
__ADS_1
"Ini Mommy, Sayang. Mommy datang bersama dengan Dokter Albern," sahut Mommy Nata, Lolan berdiri, berjalan menuju pintu kamar dan langsung membukanya.
"Silahkan masuk Dokter, Mommy," sambut Lolan menyingkir ke samping untuk memberi jalan.
Keduanya langsung masuk ke dalam kamar dan berhenti di samping ranjang di mana Ziva terbaring lemah di sana.
"Sayang, minumlah teh jahe ini," Mommy Nata mengulurkan segelas teh jahe pada Ziva yang sudah beringsut duduk.
"Terima kasih, Mommy," ucap Ziva tulus, kemudian langsung meneguk minuman itu hingga habis.
"Bagiamana keadaanmu, Nona?" tanya Sang Dokter.
"Saya periksa dulu, ya." Sang Dokter meminta izin dan Ziva langsung mengangguk.
"Bagaimana kondisi Istri saya, Dokter? Baik- baik saja bukan?" tanya Lolan tak sabaran.
"Kurang baik, Tuan. Sebentar, saya akan memasangkan infus karena Nona kekurangan cairan," mendengar ucapan Dokter itu, Lolan dan Mommy Nata sama-sama kerasa bersalah.
__ADS_1
Ziva melihat ekspresi Mommy Nata dan Lolan yang merasa bersalah, Ziva pun berusaha meyakinkan keduanya bahwa dirinya baik-baik saja. "Lolan, Mommy, aku baik-baik saja. Aku hanya kekurangan cairan saja," imbuh Ziva menatap Lolan dan Mommy Nata bergantian.
"Iya, Sayang. Mommy tahu kamu baik-baik saja, ada Dokter Albern di sini, Mommy merasa sangat tenang," jawab Mommy Nata mengelus pelan kening Ziva.
Ziva berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya, ketika Dokter Albern terus menusuk lengannya dengan jarum karena tak kunjung menemukan yang dia cari. Dokter Albern pindah ke lengan kanan Ziva, di sana barulah dia menemukannya dan infus langsung terpasang. Setelah itu Dokter Albern menyuntikan banyak cairan ke selang infus Ziva.
"Karena kondisi Nona yang kurang baik. Maka, terapi ramuannya akan ditunda dulu, kalau besok kondisi Nona sudah membaik, maka terapi akan kita lakukan besok. Ramuannya akan saya tinggalkan di sini," jelas Dokter Albern, seorang pelayan membawa sebuah kotak masuk dan kotak itu berisi ramuan yang Dokter Albern maksud.
"Baik, Dokter. Terima kasih," ucap Lolan tulus.
"Sama-sama, kalau begitu saya akan langsung pulang. Tapi, saya akan mengirimkan seorang Suster untuk memantau infus Nona. Kalau sudah mau habis, bisa panggil Suster itu untuk membantu." pamit Dokter Albern lalu segera pergi karena masih ada urusan lainnya.
Seperginya Dokter Albern dah Mommy Nata. Lolan kembali mendekat dan duduk di samping Istrinya, dia kembali memijat pinggang Ziva.
"Maaf, Sayang. Karena aku dan Mommy terapimu terpaksa diundur. Lain kali, kalau sakit katakan padaku, tidak usah berbohong lagi," tekan Lolan membuat Ziva tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Sayang, kenapa menangis?" Lolan akan menyeka air mata Ziva, tapi Ziva mencegat tangan Lolan agar tak berhenti memberikan pijatan.
__ADS_1
"Pinggangku sakit, sangat sakit, aku mohon pijatlah. Maaf karena aku selalu berbohong kepadamu," imbuh Ziva yang akhirnya jujur akan sakitnya.
"Sayang," panggil Lolan lembut. Mendengar rintihan Istrinya, Lolan merasa begitu bersalah.