Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 111


__ADS_3

Xena memundurkan langkah kakinya. Sedangkan Ana terus maju sambil mengarahkan pisau di tangannya ke arah Xena.


"Ana, gue sahabat Lo. Gue mohon jangan lakukan itu, sadarlah Ana!" Xena berteriak kencang, berharap Ana sadar atas apa yang kini dia lakukan.


Ana berhenti sejenak, menajamkan penglihatannya ke arah belakang Xena. Xena menelan saliva sambil tetap mundur perlahan. Beberapa detik kemudian, Ana kembali fokus menatap Xena dan bersiap menancap pisau itu ke arah Xena.


"Lo harus mati!"


DOR!


DOR!


"Aakkhhh!" terima Xena langsung berjongkok dengan kedua tangan menutup wajahnya, seakan itu cukup untuk melindungi dirinya.


"Apa aku sudah mati?" tanya Xena dalam hati. Setelahnya Xena merasakan ada seseorang yang menyentuh kepalanya lembut, tubuh Xena langsung bergetar.


"Xena bangunlah, kita harus cepat pergi dari tempat ini," ucap Ana membuat Xena kaget. Saat itu juga Xena langsung mengangkat wajahnya, Xena menatap Ana linglung.


"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Ana lembut, Xena mengerutkan alisnya karena semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"Lo tadi ... Bukannya tadi Lo mau bunuh gue?" tanya Xena masih dengan suara yang bergetar takut.


"Mana mungkin gue setega itu bunuh sahabat sendiri," jawab Ana tersenyum kecil.


"Lalu, tadi itu suara apa?" tanya Ana masih mengintrogasi.


"Lihat di belakang Lo," titah Ana dan Xena pun langsung memutar kepalanya ke belakang. Xena kaget kala melihat ada dua orang pria bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam, terbujur kaku di lantai dengan darah segar mengalir di sekitar perut dan juga mulutnya.


"Lo—" Xena menatap Ana syok.


"Tanya-tanyanya sambung nanti aja. Takutnya masih ada musuh yang berkeliaran, kita harus keluar dari tempat ini secepatnya!" ajak Ana menarik Xena hingga berdiri.


Ana menyingkap rok pendeknya, menyisipkan pisau tadi di saku stokingnya, Xena memperhatikan Ana dengan tatapan takjub. Benarkah perempuan yang ada di hadapannya itu adalah Ana? Bagaimana mungkin Ana terlihat begitu hebat persis seperti gangster girl yang sangat tangguh.


"An, gue enggak tau cara makainya gimana," balas Xena ragu menerima pistol itu.


"Lo kira gue tahu? Gue juga enggak tahu kali. Tadi aja gue asal tembak aja, nggak taunya gue ahli juga nembak, hehe ... Nih, Lo pegang aja, kita harus keluar dari tempat ini secepatnya. Di luar sana masih banyak musuh yang mengintai, setidaknya Lo bisa asal tembak aja kalau ada yang mendekat. Tepat sasaran syukur, kalau nggak tepat sasaran yang penting kita sudah berusaha," jelas Ana, bukannya menjadi lebih tenang, tapi Xena malah semakin ketakutan.


"Ayo kita pergi!" Ana menyeret Xena.

__ADS_1


"Gue takut!" ucap Xena menahan tangan Ana.


"Bantuan udah datang, kok. Kita hanya perlu berlari menuju jalan raya, karena sudah ada mobil yang menunggu di sana. Jadi, Lo nggak usah takut," bujuk Ana tapi Xena tetap ketakutan hingga tak bisa menahan air matanya.


"Ayo Xena, kita lagi dalam bahaya. Ini bukan waktunya untuk cengeng-cengengan," cela Ana yang geram dengan kelakuan Xena yang terus mengulur waktu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Nanti akan gue jelasin," Ana kembali menyeret Xena, tapi lagi-lagi Xena menahannya.


"Ana, tiga hari lagi gue akan menikah dengan Adit. Gue nggak mau mati sekarang, gue mau nikah dulu, bahagia dulu. Lo enak udah masuk full, lah gue ... separuh doang, An."


Ana menepuk jidat frustasi, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Bagaimana mungkin Xena masih sempat-sempatnya berpikir akan hal itu dalam kondisi yang sangat genting dan menegangkan seperti sekarang ini.


"Nggak usah banyak bacot, ayo kita pergi!"


"Aaaaakhhh ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2