Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 38


__ADS_3

Hampir tengah malam, dan acara pun berakhir, para tamu undangan satu persatu mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Tak hanya tamu undangan, tapi Hadden, Nasa, Kabut dan Lolin juga harus kembali ke negara A karena harus kembali beraktifitas seperti biasa. Apalagi Lolin yang ada jadwal ujian besok paginya. Sedangkan Bibi Aslin juga sudah pulang lebih dulu diantar oleh orang suruhan Daddy Jackson.


Setelah kepergian semua orang. Kini, saatnya untuk Lolan yang akan pamit karena memilih tinggal di Mansion sendiri yang telah dia persiapkan sendiri beberapa waktu lalu tanpa sepengetahuan Mommy Nata dan Daddy Jackson.


"Mommy tidak setuju, apa pun alasannya Mommy tidak setuju. Kamu dan Ziva menantu Mommy, akan tetap tinggal di rumah ini," tegas Mommy Nata menentang keinginan Lolan.


"Aku tetap akan pergi bersama Istriku karena ini sudah menjadi keputusan kamu berdua," keukeuh Lolan langsung menggenggam tangan Ziva, membuat Ziva semakin dingin ketakutan.


"Ziva kamu nggak mau kan, Sayang? Kamu tetap mau tinggal di sini bersama Mommy, kan?" bujuk Mommy Nata.


Seketika Ziva meringis menahan sakit saat Lolan menggenggam tangannya semakin erat, membuat Ziva tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Lolan katakan sebelumnya.


"Mo-mmy, a-aku sudah punya Suami. Apa pun keputusan Suamiku, aku akan menurutinya," jawab Ziva pasrah.


"Apa dia mengancammu, Sayang?" tanya Mommy Nata mendekat pada Ziva yang berdiri di samping Lolan.


"Tidak Mommy, bukan seperti itu yang terjadi," bohong Ziva.


"Baiklah, kalau itu memang sudah keputusan kalian berdua. Maka, pergilah," potong Tuan Jackson yang mengizinkan untuk Lolan pindah ke rumah sendiri.


"Sayang," panggil Mommy Nata menatap tajam Daddy Jackson.


"Putra kita sudah dewasa, Sayang. Setelah menikah dia punya tanggung jawab sendiri. Biarkan dia menjadi lebih dewasa dengan tinggal di rumah sendiri," jelas Daddy Jackson tidak bisa Mommy Nata terima.

__ADS_1


Sebagai seorang Ibu, tentu dia tau apa yang kini direncanakan oleh putranya. Mommy Nata sangat yakin, kalau Lolan ingin bersikap sesuka hati kepada Ziva tanpa ada tentangan dari dirinya.


"Tapi, Sayang—"


"Sssttt, kamu bisa datang ke rumah mereka kapan pun yang kamu mau, Sayang," potong Daddy Jackson.


Mendengar ucapan Suaminya, Mommy Nata menghela napas lalu berkata.


"Biaklah, Mommy setuju. Tapi ingat, kalau sampai kamu macam-macam pada Ziva, maka kamu akan berurusan dengan Mommy," ancam Mommy Nata pada akhirnya mengalah. Namun, dalam hati dia sudah menemukan rencananya sendiri. Jangan salah, jiwa seorang Cecelia Humeera masih ada dalam dirinya. Mana mungkin Cecilia dapat dikalahkan. Lihat apa saya yang akan dia lakukan nantinya.


"Bagus, Sayang," puji Daddy Jackson karena tau isi di kepala Istrinya itu.


"Oh iya, Mommy akan mengirimkan beberapa pelayan untuk membantu di sana," tutur Mommy Nata dan kepala pelayan pun mengangguk mengerti apa yang akan dilakukan.


"Tidak perlu, Mommy. Aku yakin Mommy memilihkan Istri yang paling terbaik di dunia ini. Istri terbaik tidak perlu pelayan yang membantunya untuk mengurusku. Lagipula, rumah yang aku pilih tidaklah sebesar rumah ini, tentu masih sanggup diurus oleh kamu berdua, kami berdua akan berbagi tugas dengan baik. Mommy tidak perlu khawatir," sahut Lolan benar-benar telah mempersiapkan dan memperhitungkan segalanya.


"Astaga, yang menjadi anaknya aku, atau wanita sialan ini," geram Lolan dalam hati.


"Baik, Mommy." jawab Lolan langsung memberikan pelukan selama tinggal untuk Sang Mommy juga Daddynya. Kemudian, giliran Ziva yang pamit kepada kedua mertuanya. Karena merasa tidak rela dengan kepergian Ziva, Mommy Nata langsung memeluk erat Ziva sambil berbisik meminta agar Ziva untuk mengatakan kepadanya bila Lolan bersikap buruk.


"Ayo sayang," ajak Lolan dengan suara lembut, mengajak Ziva untuk pergi. Ziva hanya mengikut tanpa dapat melawan.


***

__ADS_1


Ziva merasa tubuhnya terombang-ambing kala Lolan mempercepat laju kendaraan ketika telah menjauh dari Mansion Talsen Baldev.


Ziva merasa begitu pusing dan sakit pada bagian perutnya. "Akhh!" pekik Ziva saat mobil tiba-tiba mengerem mendadak, membuat keningnya memar lantaran terbentur dinding mobil.


"Turun!" Titah Lolan membentak.


"I-ini di hutan, Tuan," keluh Ziva sambil memegang keninganya yang memerah.


"Siapa yang mengatakan ini pasar? Sekarang, Turun!" bentak Lolan lagi.


"Ta-tapi, Tu—"


"Keluar atau aku akan membunuhmu di sini dan menguburkan mayatmu ke hutan sana!" Ziva langsung keluar dari mobil dengan cepat. Lebih baik dirinya keluar dari mobil daripada di bunuh oleh pria kejam yang kini berstatus sebagai Suaminya.


"Ambil kopermu!" titah Lolan dan Ziva reflek membuka pintu belakang dan langsung mengeluarkan koper lusuhnya.


"Berjalan lurus 3 kilometer, maka kamu akan tiba di Mansion. Aku beri waktu 40 menit, kalau dalam waktu 40 menit kamu tidak sampai, maka aku akan memberikan hukuman yang lebih berat untukmu."


Setelah mengatakan itu, Lolan langsung tancap gas meningal Ziva seorang diri di jalan yang dikelilingi hutan lebat itu.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2