
"Tapi Sayang, aku—"
"Percayalah kepadaku, aku hanya minta dukungan dari kamu sebagai Suamiku. Kamu yang begini membuatku merasa sangat kecewa," tutur Xena dengan mata berkaca-kaca membuat Adit merasa tak tega.
Tapi, Adit juga dibuat keheranan kala baru merasakan ada sedikit perubahan pada Xena. Entah kenapa Adit merasa Xena polosnya berubah menjadi agak sedikit lebih pintar. Apakah kehamilan yang telah mengubahnya? Tapi, Adit tidak menemukan hal seperti itu kepada pasien-pasien yang biasanya dia tangani, mungkin itu karena perempuan se-ons di dunia hanya satu yaitu Istrinya, Xena.
"Baiklah, mulai sekarang aku percaya kepadamu, Sayang. Aku akan menjagamu dan memberikan begitu banyak perhatian selama kamu hamil, aku berjanji," Adit membaringkan tubuhnya di samping Xena, lalu memeluk Sang Istri dengan eratnya.
"Aku harus mengatakan apa lagi, ya? Ah, aku melupakan kata selanjutnya!" kesal Xena dalam hati. Adit salah mengira, dia kira Xena sedikit lebih cerdas karena kehamilannya saat ini, Adit salah menebak karena Xena memang telah mempersiapkan segalanya, termasuk jawaban yang akan dia katakan seperti saat ini.
Melihat Sang Istri masih diam dan tak menjawab, Adit pun mengira Xena masih marah kepadanya. Adit kembali bangkit dan mencoba membalikkan badan Xena dengan begitu perlahan, Xena masih diam tak bergeming.
__ADS_1
"Apakah perut bawah sini yang terasa kram, Sayang?" tanya Adit sambil mengusap pelan bagian bawah perut Xena. Adit tersenyum manis kala Xena menganggukan kepalanya, itu artinya Sang Istri sudah tidak lagi marah kepadanya.
"Apakah masih kram?" Xena menggeleng, Adit kembali tertawa kecil. Xena yang pendiam dan tenang tampak dua kali lipat lebih seksi dari biasanya, hal itu membuat Adit tiba-tiba menginginkan sesuatu. Tapi, Adit harus menahannya untuk kali ini karena usia kandungan Xena yang baru memasuki trimester pertama, tentu sangat berisiko bila dia nekat melakukan hal semacam itu.
"Kalau sudah tidak kram lagi, sekarang kamu istirahat lagi, ya. Aku temani," Xena benar-benar merasa kaku ketika dipeluk oleh Adit. Seharusnya dia masih cemberut dan marah seperti rencana yang sudah dia rancang. Namun, perlakuan lembut Adit benar-benar membuatnya tak kuat hingga menyerah dan memaafkan Adit begitu saja.
"Daddy dan Mommy, apakah sudah tahu?" tanya Xena dengan suara yang begitu pelan, tapi masih bisa Adit dengar.
"Sudah, tadi aku sudah mengatakan info bahagia ini kepada Mommy dan Daddy."
"Tentu saja tidak, Sayang. Mereka berdua sangat senang, terutama Mommy," jawab Adit mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Hum, yang belum tahu hanya Ibumu. Aku akan langsung memberitahunya ketika dia pulang nanti. Sekarang kamu istirahatlah," Xena pun memeluk Adit tak kalah eratnya.
"Usap perutku, itu sangat nyaman," pinta Xena bersikap manja. Tanpa berkata apa pun Adit segera mengusap lembut perut datar Sang Istri sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Xena mulai memejamkam matanya dan terlelap dengan nyenyak.
***
Sore menjelang malam, Lolan dan Ziva memilih untuk langsung pulang ke rumah mereka kala tak ingin mengganggu Adit dan Xena.
"Sayang, kenapa kita malah pulang, sih? Kan aku masih ingin berbicara banyak hal dengan Xena," protes Ziva cemberut.
__ADS_1
"Adit dan Xena butuh waktu berdua, Sayang. Kita tidak boleh mengganggu waktu mereka," jawab Lolan yang tetap fokus pada kemudi. Kini, mobil mulai memasaki jalanan yang disekelilingnya di tumbuhi hutan lebat, membuat Lolan semakin mempercepat laju kendaraan.
"Sayang awas! Aakkhh ....