
"Jangan Dokter, aku mohon jangan!" pekik Xena histeris saat Dokter Adit berhasil merobek gaunnya hingga tergelatak tak berdaya di lantai, setelah Dokter Adit lempar ke sembarang arah.
Xena terus berontak hingga tenaganya terkuras habis. Xena terdiam, mencengkaram kuat rambut Dokter Adit hingga berantakan dan beberapa tercabut olehnya. Xena memejamkan matanya kala tak sanggup melihat kelakuan Dokter Adit yang terus memberikan tanda kepemilikan bergantian di kedua gundukkan sintalnya.
Xena menutup mulutnya rapat, berusaha menahan agar suara anehnya tak lolos. Namun, kelakuan buas Dokter Adit benar-benar membuatnya tak dapat berbuat apa pun. Segela macam cara dan tindakan sudah Xena usahakan, tapi satu pun tidak membawakan hasil. Xena bisa melihat betapa besar cinta Dokter Adit untuk Kakaknya, benar-benar besar hingga tidak menyisakan sedikit pun ruang untuknya. Jika Dokter Adit hancur, maka Xena lebih hancur lagi. Wanita mana yang tidak sakit hatinya bila diperlakukan seperti dirinya.
Kini Xena pasrah, pasrah akan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Tuhan benar-benar mengabulkan keinginannya untuk ditiduri oleh lelaki yang dicintai. Namun, kenapa harus sekarang? Kenapa ini harus terjadi setelah dirinya menyadari bahwa apa yang dia inginkan adalah salah.
Benar apa yang orang-orang katakan, semakin seorang umat ingin memperbaiki diri, maka akan semakin banyak pula ujian yang akan dia dapatkan dan jalani. Apa hal seperti itulah yang kini Xena alami?
Saat dirinya menginginkan agar Dokter Adit memilikinya, tapi tidak terjadi bahkan setelah dirinya menggoda Dokter Adit dengan beragam cara. Namun saat dirinya tidak menginginkannya lagi, Dokter Aditlah yang memaksa untuk merenggutnya secara paksa.
__ADS_1
Xena yang tak lagi berontak membuat Dokter Adit dengan mudah melancarkan aksinya. Puas menjelajah di atas, dia mulai turun semakin ke bawah. Pemandangan indah tak biasa itu mampu menarik tubuhnya. Dia menginginkan hal lebih selain menatap.
Bukan pertama kali baginya melihat benda indah itu. Tapi, hanya milik Xena yang dapat menariknya bagai magnet. Namun sayang, karena dia malah mengira itu adalah milik Ziva. Tak kuasa menahan hasrat yang terus membuncah, Dokter Adit mulai mengarahkan miliknya.
Xena tak lagi sanggup membendung air matanya saat benda keras milik Dokter Adit mulai dia rasakan di sekitar intinya.
"Dokter ... jangan," lirih Xena dengan suara lemah karena benar-benar sudah tak sanggup lagi berontak. Bahkan untuk berucap pelan dia harus mengelurkan segala sisa tenaga yang ada.
"Xena," imbuh Dokter Adit kaget dengan mata membulat sempurna menatap Xena yang menangis sejadinya-jadinya tepat di bawah kuk*nganya.
Sadar akan apa yang telah dia lakukan, Dokter Adit langsung beringsut mundur dari tubuh Xena. "Syukurlah belum terlalu dalam," ucapnya memeriksa sebelum benar-benar menyingkir.
Dokter Adit menjauh, membelakangi Xena dengan tubuh polosnya. Sedangkan Xena berusaha beringsut perlahan dengan sisa tenaga yang ada. Menarik selimut guna menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
"Pergilah," usir Dokter Adit seraya melemparkan kaos milikknya ke belakang. Karena melempar tanpa melihat, Dokter Adit tak sengaja melemparkan kaos itu tepat ke arah wajah Xena.
Xena kaget dengan sikap kasar Dokter Adit kepadanya, Xena mengambil kaos di wajahnya dengan kasar. Lalu memasangnya dengan isakan yang terdengar begitu pilu di telinga Dokter Adit.
"Cepatlah pergi!" bentak Dokter Adit melukai hati Xena yang paling dalam.
.
.
.
__ADS_1