Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 97


__ADS_3

Setelah selesai masak dengan segala dramanya, Ziva dan Xena pun mulai menyajikan makanan ke atas meja makan.


Lolan, Dokter Adit, Bibi Aslin mulai duduk di kursi masing-masing. Lolan mengambil posisi di samping Ziva, Dokter Adit mengambil posisi duduk di samping Xena, sedangkan Bibi Aslin duduk sendiri di tengah-tengah.


"Hem ... dari wanginya sudah kebayang akan seenak apa. Ziva dan Xena memang sangat pandai masak," puji Bibi Aslin memandang Ziva dan Xena bangga.


"Bukan aku yang masak, Bu. Tapi, Kak Ziva yang masak, aku cuma bantu menghibur sama nyicipin doang, hihi ... Aku mana bisa masak," ceplos Xena jujur.


"Xena, jaga bicaramu!" bisik Bibi Aslin sambil menginjak kaki Xena kuat.


Bibi Aslin heran, kenapa Xena tidak meringis kesakitan. Bibi Xena pun melihat ke arah Xena yang terlihat bodoh amat dengan ocehan Ibunya.


Namun, ketika melihat ekspresi wajah Dokter Adit yang terlihat menahan sakit, saat itulah Bibi Aslin menyadari sesuatu. Dia langsung melihat ke bawah meja, dan betapa terkejutnya dia, ternyata yang diinjaknya bukanlah kaki putrinya, melainkan kaki calon Menantunya, Dokter Adit.


"Astaga, sakit sekali. Apa ini hukuman karena aku sudah dua kali hampir memperkos* anaknya?" batin Dokter Adit dengan wajah menahan sakit. Walau begitu, Dokter Adit tetap bersyukur karena pijakan Bibi Aslin mengenainya dan bukan mengenai calon Istrinya, Xena.


"Maafkan Ibu, ya, Adit. Tadi ada tikus yang menggigit kaki Ibu, Ibu mau menginjak tikus itu, eh tidak sengaja malah menginjak kakimu," ujar Bibi Aslin meminta maaf dengan tulus.


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku baik-baik saja," jawab Dokter Adit tersenyum kecut.


"Yasudah, sebagai permintaan maaf, Ibu yang akan menyiapkan makanan untukmu, ayo makanlah yang banyak."

__ADS_1


"Biar punya banyak tenaga menggempurku," sahut Xena asal, keempat manusia yang mendengar hanya dapat menggelengkan kepala dan memilih fokus pada makanan masing-masing.


"Oh iya, Kak Ziva sama Kakak Ipar akan nginap, bukan?" tanya Xena memecah lenggang.


"Iya, Kakak akan nginap, tapi pagi besok sudah akan pulang," jawab Ziva sambil melahap makanannya.


"Wah, kalau begitu. Kakak tidur di kamar aku saja, biar aku yang tidur di kamar Kakak," sahut Xena membuat semua orang menghentikan makan sambil mengerutkan alis serentak.


"Kenapa?" tanya Ziva.


"Ranjang milikku baru, jadi kuat. Ranjang Kakak belum diganti, jadi nggak kuat."


Ziva langsung melahap makanannya cepat, sementara Lolan dan Dokter Adit saling bertukar pandangan, tatapan Lolan seakan bertanya, benarkah gadis aneh itu yang akan menjadi Istri Sang Dokter? Tuhan memang adil, laki-laki kelebihan pintar dipasangkan dengan wanita kurang-kurang.


"Apa Ibu? Aku benar, bukan? Sekarang di mana lagi letak kesalahanku?" tanya Xena heran dengan orang-orang disekitarnya.


"Kamu tidak salah sama sekali Sayang. Sekarang makanlah," Dokter Adit menyuapi begitu banyak sup ikan ke mulut seksi Xena, seakan berharap Istrinya akan sedikit lebih pintar dengan ikan itu.


"Semua karena Dokter," tegas Xena dengan mulut penuhnya.


"Lah, kenapa aku yang salah?" tanya Dokter Adit tak mengerti kenapa tiba-tiba Xena malah menyalahkannya.

__ADS_1


Sedangkan Ziva dan Lolan lebih memilih melahap makanan mereka masing-masing, daripada harus mendengarkan ucapan Xena yang kemungkinan akan lebih parah lagi.


"Xena Sayang, tidak ada yang menyalahkanmu. Sekarang, ayo habiskan makananmu," bujuk Bibi Aslin dengan ucapan lembutnya.


"Tidak bisa, Ibu. Aku begini pasti gara-gara Dokter Adit," ketus Xena keukeuh.


"Aku kenapa, Sayang?"


"Aku nonton video xxx di ponsel Dokter."


.


.


.


Apa hubungannya, Xena?🀧


Oh iya guys. Terima kasih banyak atas dukungannya untuk karya ini. Pagi-pagi Othor dibuat kaget karena karya acak adul ini Alhamdulillah rangking 5 karya baru. Othor mohon dukungannya terhadap karya ini agar bisa terus naik rangkingnya, bertahan juga Alhamdulillah.


Telhalu Othor, guys😭

__ADS_1


Makasih banyak-banyak buat kalian semuaπŸ™πŸ» Mani-mani Calangeo, Guys 😍😘😘😘😘😘


__ADS_2