
"Apakah siap?" tanya Adit yang kini berdiri di samping ranjang. Mendengar pertanyaan lembut Sang Suami, Xena pun menganggukkan kepalanya dengan ragu.
"Kalau pun aku mengatakan tidak siap, mana mungkin kamu akan menghentikannya," cela Xena bergidik ngeri kala menatap senjata pusaka milik Adit yang kini ukurannya berkali-kali lipat tambah besar daripada ukuran sebelumnya.
"Mana bisa dihentikan, Sayang. Namanya juga malam pertama, kalau tidak dilakukan sekarang artinya malam pertama kita gagal," perlahan Adit naik ke atas ranjang dan langsung mengukung Xena menjadi di bawah tubuhnya.
"Benda mengerikan itu, kalau tidak bisa dikecilkan. Setidaknya, jangan dibuat tambah besar lagi. Dulu saat masuk separuh, seingatku ukurannya tidak sebesar itu," lagi dan lagi Xena protes akan ukuran senjata pusaka milik Adit yang menurutnya terlalu besar.
__ADS_1
"Ingat kata Sahabatmu, makin besar makin nikmat," balas Adit tersenyum kecil.
"Kau lihat punyaku, bahkan aku tidak tahu ada lubangnya atau tidak. Sangat mengerikan kalau benda sebesar itu masuk ke dalamnya," tubuh Xena bahkan bergetar hanya karena membayangkan benda keras dan berurat itu merobek-robekan kulit tipisnya, sungguh mengerikan.
"Sayang, punya kamu itu elastis. Jangankan yang besarnya hanya segini, kepala bayi saja muat," balas Adit bukannya membuat Xena tenang, tapi malah semakin ketakutan.
"Berhenti mengatakan itu, aku ingat teman Ibuku berteriak kencang saat melahirkan, dia terlihat sangat kesakitan. Huhu ... Bisakah aku menjadi pria saja, tidak akan sakit dan hanya akan merasa enaknya saja," oceh Xena membuat Adit menghela napas berat.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, lakukan sekarang. Aku siap, aku pasrah, aku rela, aku ikhlas, huhu ... Tapi, pelan-pelan dulu ya. Kalau aku tidak sakit lagi, baru cepat-cepat," tutur Xena merentangkan tangan dan kakinya pasrah, Adit berusaha menahan tawanya karena merasa lucu dengan tingkah unik Sang Istri yang bukan hanya rada-rada oon, tapi juga plin plan akut. Sedetik siap, dua detik tidak siap, semenit menggoda, dua menit ketakutan. Sungguh unik yang luar biasa.
Melihat Xena yang memejamkan matanya paksa, Adit mengulurkan kedua tangannya, me re mas dua gundukan Sang Istri yang dia awali dengan penuh kelembutan yang lama kelamaan menjadi brutal ketika tangan laknatnya me re mas kuat, memainkan chocohipnya dengan menekan, menggeser bolak-balik, bahkan juga meme lintirnya berkali-kali, membuat Sang Pemilik bersuara semakin histeris.
Sementara bibirnya tak henti bertautan. Adit menggigit bibir bawah Xena dengan lembut hingga sang pemilik reflek membuka mulutnya. Kesempatan emas itu tidak Adit sia-siakan begitu saja, dia langsung memasuki rongga mulut Xena bermain semakin brutal di dalam sana, melu mat, menye sap, dan mengabsen satu persatu gigi Xena yang tertata rapi.
Tanpa melepaskan pertautan, tangan nakal Adit mulai bergerilya, menyentuh senti demi senti tubuh Xena tanpa ada bagian yang terlewatkan. Sedangkan bibirnya mulai turun dan berhenti tepat di ceruk leher Sang Istri.
__ADS_1
"Uuuuhhhh ..." rintihan Xena kala bibir Adit mulai bergerak membentuk pola, men yesap cuping kecil Xena, menjalarkan lidahnya di sekitar sana, membuat Xena merasakan tubuhnya seakan mengambang di udara.
Tangan nakal Adit menjalar ke perut, hingga turun semakin ke bawah dan mengusap pelan inti Xena. "Aaaaakhh ....