
"Pergi kamu!" bentak Adit membuat Xena kaget.
"Tuan," Sekretaris Ryan ingin menghentikan amukan Tuannya.
"Diam!" Sekretaris Ryan pun terdiam seribu bahasa dan langsung keluar dari ruangan karena takut akan amukan Tuannya.
Sedangkan Xena malah mendekat pada Sang Suami yang masih berdiri di tempat dengan raut wajah yang terlihat begitu emosi. "Sayang, ada denganmu?"
"Keluar dari ruanganku sekarang juga," usir Adit menekan kalimatnya, Xena semakin bingung dibuatnya.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun." Bukannya menjauh dari singa yang sedang mengamuk. Tapi, Xena justru malah berjalan semakin maju hingga berada tepat di hadapan Sang Suami, Adit.
__ADS_1
"Kenapa mengusirku? Apa salahku?" tanya Xena menatap bola mata Adit dengan lembut. Hati Xena benar-benar terasa nyeri, perihnya bagaikan disayat sembilu. Xena tak menyangka kalau Adit akan setega itu mengusirnya tanpa mengatakan terlebih dahulu apa kesalahannya.
Adit melihat Xena yang seakan menantang dirinya dengan berdiri tepat di depannya. Adit mengulurkan tangannya, mencengkram kuat dagu Xena, Xena memejamkan matanya, meringis menahan sakit.
"Siapa yang memberimu izin untuk pergi bersamanya!" bentak Adit sambil melemparkan foto-foto itu ke wajah Xena, tanpa melepaskan cengkraman kuatnya.
Xena mengerti apa yang telah terjadi saat ini, ketika dia melihat foto pertemuannya dan Aldri ada di tangan Adit. Adit mengirim orang suruhannya untuk menguntitnya, tidak masalah bagi Xena bila tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini. Tapi, ini benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin penguntit hanya mengambil gambar tanpa menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Ini, kamu lihat dan dengarkan rekaman ini dulu, setelah itu baru boleh menyakitiku bila aku memang bersalah. Tapi, sekali lagi kamu menyakitiku, jangan harapkan kata maaf dariku!" bentak Xena sambil menghentakkan kuat sebuah flashdisk ke atas meja kerja Adit. Setelahnya, Xena langsung pergi begitu saja.
Melihat Xena yang pergi, barulah Adit menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya dia melakukan itu kepada Xena, tidak seharusnya dia menyakiti wanita yang paling berharga dalam hidupnya hanya karena cemburu. Tapi, Adit tanpa sadar melakukan semua itu, cemburu adalah penyakit berbahaya baginya. Adit takut, takut Xena akan sama dengan wanita di masa lalu yang juga berkhianat padanya.
__ADS_1
Adit ingin mengejar Xena dan memohon maaf padanya, tapi hal itu urung Adit lakukan lantaran penasaran dengan flashdisk yang Xena tinggalkan. Adit bergerak cepat menancapkan flashdisk itu ke cpu komputernya, dan tampillah sebuah video yang memperlihatkan Xena dan Aldri di layar monitor komputer canggihnya. Bahkan, Adit dapat mendengarkan semua yang mereka katakan.
Di balik rasa bersalahnya yang begitu besar terhadap Xena, Adit tak kuasa menahan diri untuk tidak menyunggingkan senyumnya kala bangga dengan kehebatan Sang Istri saat berhadapan dengan Aldri.
"Benarkah dia Istriku, Xena?" tanya Adit heran, dia tampak merasa begitu puas dengan tingkah Xena yang membuat Aldri tak dapat berkutik. Bahkan, Adit tertawa terbahak-bahak ketika Xena menjelekkan Aldri. Adit juga merasa terbang sekaligus terharu saat mendengar pengakuan Xena kalau hanya dirinya yang dia cintai. Adit benar-benar merasa bangga.
Puas menonton kehebatan Sang Istri, Adit langsung meraih kunci mobil, ponsel, dan dompetnya. Setelah itu langsung keluar dari ruangannya secara terburu-buru.
"Ryan, batalkan semua pertemuan hari ini!" seru Adit langsung pergi.
"Dasar pengantin baru, sebentar mengusir, sebentar mengejar," celoteh Ryan menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1