
"XENA!" Teriak seseorang dari layar ponsel milik Adit. Xena yang kaget sendiri langsung mendorong Adit yang sebelumnya masih bermain di kedua gundukkannya. Xena langsung melempar ponsel itu ke arah Adit yang masih tercengang dan terdiam. Adit reflek menangkap ponselnya.
Seketika Adit terbelalak saat menatap wajah Mertunya yaitu Bibi Aslin yang ada di dalam layar ponselnya. Bibi Aslin menatap tajam Adit, membuat Adit begitu merasa bersalah.
Sedangkan Xena masih sibuk menaikan kembali bajunya, menutup kedua gundukannya yang masih terbuka.
"Ha-halo, Ibu," panggil Adit tersenyum kecut.
"Kamu apakan Putriku?" tanya Bibi Aslin mengintrogasi.
"Xena baik-baik saja Ibu, tadi itu hanya—"
"Hanya apa?" bentak Bibi Aslin membuat Adit mampu mengubah Adit mejadi pria lemah.
"Kita hanya latihan, Bu. Tidak masuk separuh apalagi full, hanya ciuman saja," ketus Xena yang langsung menyambar ponsel dari tangan Adit.
Lagi-lagi Adit hanya mampu menepuk jidat kala mendengar perkataan Xena yang pasti akan membuat Ibunya sendiri jantungan.
"Latihan apa? Xena ingat, kalian belum menikah!" Bibi Aslin menekan kalimatnya.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi kita akan menikah, Ibu. Adit bilang tidak apa-apa di cicil, Mommy Adna juga membolehkan. Dia ingin cepat-cepat punya Cucu," jawab Xena polos. Sedangkan Adit hanya menunjukkan ekspresi pasrahnya.
"Berikan ponselnya kepada Adit!" tegas Bibi Aslin.
"Untuk apa, Ibu? Kenapa tidak bicara denganku saja?" Xena masih mengoceh tak jelas, dia tidak tahu bahwa saat ini Ibunya sedang berada di puncak emosi.
"Berikan ponselnya kepada Adit!" lanjutnya lagi dengan menekan kalimatnya murka.
"Baik-baik," jawab Xena langsung menyerahkan ponsel itu kepada Adit. Adit menghela napas berat, kemudian barulah mengarah layar ponsel itu ke wajahnya. Kini, Adit siap menerima amukan dari Calon Mertuanya.
"Ada apa, Ibu?" tanya Adit lembut, sopan dan ramah.
"Xena berbaringlah," pinta Adit, Xena langsung berbaring di atas ranjang dengan mencebikan bibirnya. Setelahnya, Adit menyelimuti seluruh tubuh Xena dengan selimut tebal.
"Sudah?" tanya Bibi Aslin.
"Iya, Ibu. Sudah," jawab Xena membuka kembali selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Adit mengarahkan layar ponsel itu ke arah Xena yang berbaring di atas ranjang.
"Sekarang kamu tidur!" bentak Bibi Aslin, Xena tertawa kecil, lalu memaksa matanya untuk terpejam.
__ADS_1
"Sudah, Ibu. Xena sudah tidur. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Adit kembali mengarahkan layar ponsel ke wajahnya.
"Kamu tidur di sofa!" tekan Bibi Aslin.
"Baik, Ibu." Adit yang biasanya terlihat dingin dan sulit diperintah. Mendadak takluk di hadapan Ibu Mertua, gara-gara terciduk menyentuh Putrinya sebelum dia nikahi.
"Tidurlah, di sofa itu. Letakkan ponselmu mengarah ke arah Xena, Ibu akan memantaunya dua puluh empat jam, awas saja bila kamu berani menyentuhnya," meski merasa aneh, tapi Adit tetap melakukan perintah Calon Mertuanya.
Adit meletakan ponselnya mengarah kepada Xena yang sudah terlelap di atas ranjang.
"Kamu boleh tidur," kata Bibi Aslin, Adit hanya mendengar suaranya saja. Karena wajahnya hanya menghadap ke arah Xena.
"Adit berbaring di atas sofa, tanpa selimut dan bantal. Dia memaksa memejamkan matanya sambil menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, guna memenangkan senjata pusakanya di bawah sana.
Setelah merasa lebih baik, barulah Adit terlelap menyusul Xena yang telah lebih dulu mengarungi dunia mimpi. Xena tidur dengan tenang, sedangkan Adit tidak bisa tidur nyenyak karena wajah dan tubuh seksi Xena selalu masuk dalam mimpi dan membayang-bayanginya.
.
.
__ADS_1
.