
"Go-goyang," Ziva membulatkan matanya sempurna.
"Iya, Sayang," sahut Lolan tersenyum mematikan.
"Bagaimana?" tanya Ziva yang masih belum mengerti.
"Begini, gerakan saja tubuhmu sesuka hati," Lolan menuntun Ziva, menggerak-gerakkan sembarang tubuh mungil Ziva.
Ziva dapat merasakan sesuatu di bawah sana yang semakin lama semakin membesar, membuatnya takut, takut bila saja Lolan Khilaf dan melahapnya saat itu juga.
"Kenapa tidak pakai sabun saja?" tanya Ziva pelan.
"Apa kamu keberatan, Sayang?" tanya balik Lolan.
"Ti-tidak, tidak keberatan sama sekali," Ziva menjawab cepat.
"Terima kasih, Sayang."
Ziva pun melakukan apa yang Lolan minta, menggerakkan tubuhnya di atas pangkuan Lolan. Lolan mengambil kedua tangan Ziva, mengalungkan tangan itu di lehernya. Wajah keduanya sangat berdekatan, Ziva dapat merasakan napas segar aroma mint Lolan yang menyapu wajahnya.
__ADS_1
Kedua pipi Ziva seketika memerah saat melihat wajah Lolan yang tampak begitu menikmati. "Astaga, begini saja sudah membuatku melayang," imbuh Lolan dengan napas beratnya. Ziva tak peduli, dia hanya fokus pada urusannya. Dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri permainan aneh yang kini dia lakukan.
Lolan meraih pinggang ramping Ziva, lalu membenamkan wajah Ziva ke dalam pelukannya.
"Emm ...." tanpa sadar Ziva mend*sah ketika Lolan dengan sengaja memainkan lidah di telinganya yang memang sangat sensitif.
"Hen-tikan," pinta Ziva. Namun, Lolan tetap berbuat sesuka hatinya di sana.
Ziva yang tidak lagi menggerakkan tubuhnya, membuat Lolan sendiri yang menggerakkan tubuh Ziva. "Ge-geli," ringis Ziva mencoba mendorong kepala Lolan, tapi Lolan tak menggubrisnya sama sekali.
Karena sudah semakin tak tahan, Lolan membalikkan tubuh Ziva, hingga Ziva terbaring di atas ranjang dan Lolan berada di atas meng*kung tubuh mungil Ziva.
"Aku bisa gila, Ziva. Aku bisa gila, katakan padaku apa yang harus aku lakukan?" tutur Lolan dengan keringat yang mengucur deras. Terlihat Lolan benar-benar berada di puncak hawa nafsu. Dia tidak tahu sampai kapan dan berapa lama lagi harus menahanya. Sungguh, sungguh dirinya sangat menginginkan Ziva saat itu juga.
"Lolan a-aku—"
"Maaf karena membuatmu takut, sekarang tidurlah," Lolan menyingkir dari tubuh Ziva, merebahkan tubuhnya tepat di samping Ziva. Kemudian, Lolan menarik Ziva hingga masuk ke dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh Ziva yang mampu membuatnya tenang sekaligus tegang.
"Itu ... Bagaimana?" Ziva menengadah dan menanyakan keadaan sesuatu yang masih keras di bawah sana.
__ADS_1
"Tidak usah pedulikan, mari kita tidur saja," jawab Lolan membenamkan kepala Ziva ke dalam dada kekarnya yang bidang.
"Tapi—"
"Apalagi, Sayang?" Hampir saja Lolan ingin membentak, beruntung dia masih dapat mengendalikan diri dah berusaha menahan emosi. Berada di puncak hasrat yang membuncah, tapi tidak dapat melepaskanya. Tentu membuat Lolan gampang terpancing emosi. Jika Ziva terus bicara, maka dapat dipastikan Lolan tidak akan lagi dapat menahannya.
"Badanku lengket, aku mau mandi dulu," bukan itu sebenarnya yang ingin Ziva katakan. Dia hanya merasa tidak nyaman jika Lolan mencium aroma tubuhnya yang bagi dirinya beraroma tidak sedap. Ziva tidak tau saja, kalau senjata Lolan bisa berdiri hanya dengan menghirup aroma tubuh Ziva yang menjadi candu baginya.
"Mandinya besok saja, sekarang tidurlah," jawab Lolan dengan mata terpejam. Ziva kembali menengadah, menatap Lolan yang memang sudah terlelap. Tidak punya pilihan lain, Ziva pun terpaksa menyusul Lolan yang sudah mengarungi alam mimpi lebih dulu. Kedua sejoli itu terlelap saling mendekap erat.
.
.
.
Spill ....
"Nona harus membantu hingga Lolan keluar. Nona tidak keberatan, bukan?"
__ADS_1