Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 146


__ADS_3

"Xena, lepaskan!" suara Adit meninggi dan langsung menahan Xena yang terus menyeretnya sedari tadi.


"Kamu nggak mau?" tanya Xena mencebikkan bibirnya, Xena langsung menepis tangan kekar yang tadinya dia genggam erat.


Adit mengulum senyum, kemudian mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. "Tentu aku mau, Sayang. Tapi, kamu mau bawa aku ke mana?" Adit tersenyum kecil hampir tak terlihat oleh Xena.


"Ke kamar, memangnya ke mana lagi? Masak iya di dapur dan di ruang tamu seperti Video di ponselmu," cetus Xena menatap tajam Adit. Adit pun tersenyum lepas dan tak lagi dia tahan.


"Apa kamu lupa kamarku di mana?" Adit tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena terlalu lepas menertawakan Istrinya.


Xena terdiam saat menyadari kebodohannya, dia lupa bahwa kamar yang ditempati oleh Kakaknya tadi adalah kamar Adit, yang artinya di sanalah seharusnya mereka memulai Action Cinta.


Hanya beberapa detik Xena terdiam, setelahnya Xena juga ikut tertawa bersama Adit. Adit kaget dan seketika menghentikan tawanya.


"Kenapa kamu ikut tertawa, Sayang? Aku memertawaimu," imbuh Adit heran.


"Sama, aku juga menertawakan diriku sendiri, haha ...."


"Astaga," Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal heran dengan keanehan Sang Istri. Namun, sepertinya asik juga bila bisa tertawa dan bahagia setiap saat.

__ADS_1


"Jadi main tidak? Apa mau tertawa terus-menerus hingga pagi datang," mendengar ucapan Adit, Xena langsung menghentikan tawanya.


"Jadi dong!" sahut Xena cepat dan bersemangat.


"Ya sudah, ayo kembali ke kamar," ajak Adit yang kini balik menyeret Xena hingga tiba di depan pintu kamar. Keduanya hanya saling menyapa saat berpapasan dengan Lolan, Ziva. Sedangkan Mommy Nata, dan Daddy Jackson memberi semangat kepada mereka berdua. Hanya saja, Adit mendapatkan peringatan keras dari Bibi Aslin yang menghentikan kedua manusia itu.


"Pelan-pelan, jangan terburu-buru. Awas saja kalau Putriku terluka!" itulah ancaman dari Bibi Aslin yang mampu membuat nyali Xena runtuh seketika. Melihat ekspresi Ibunya yang benar-benar serius, menyisakan sedikit rasa takut dan was-was di hati Xena.


"Kenapa, Sayang? Ayo jalan lagi," ajak Adit kala Xena menghentikan langkahnya.


"Tu-tunggu ... A-apakah benar-benar tidak sakit?" tanya Xena masih ragu atas jawab Ziva yang mengatakan tidak sakit sama sekali.


"Ke mana Xena pemberani dan kuat saat di atas panggung tadi? Kenapa sekarang jadi takut?" balas Adit membuat Xena merasa semakin tertantang.


"A-aku tidak takut, ha-hanya ragu sedikit," imbuh Xena tampak melemah dengan wajah pucatnya. Menatap pintu kamar di hadapannya, Xena menelan ludah susah payah.


"Apa yang ditakutkan, Sayang? Sakitnya hanya sebentar, seperti digigit semut. Setelah itu hanya akan ada kenikmatan yang akan kamu rasakan," jelas Adit terang-terangan agar Xena mengerti.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mana mungkin aku berbohong kepada Istriku yang seksi ini," tegas Adit membuat Xena berpikir keras. Tidakkah dirinya dibohongi.


"Tunggu dulu, bisakah kita berdiskusi dulu? Aku akan bertanya kepada tamu-tamu perempuan juga untuk memastikan sakit atau tidaknya," Xena membalikkan badannya cepat. Namum, Xena tak bisa melangkah saat Adit menahan tangannya.


"Kenapa? Tunggulah sebentar, aku pergi tidak akan lama."


"Kalau sakit, memangnya kamu mau melakukan apa?" tanya Adit serius.


"Emm ... Bagaimana kalau kita tunda dulu."


"Setelah diganggu, dibangunkan, dan diserang. Katakan padaku, singa mana yang hanya akan diam saja tanpa menyerang dan melahap mangsanya!" Adit yang geram langsung menggendong Xena ala bridal.


"Tunggu dulu, kita diskusikan dulu, oke."


"Tidak ada waktu untuk diskusi, kita akan berdiskusi di atas ranjang saja, aku sudah tidak tahan!"


Brakk!


Adit menendang pintu kamarnya dengan kuat, lalu menjatuhkan Xena ke atas ranjangnya.

__ADS_1


"Aaaakhhh ....


__ADS_2