
Di dalam kamarnya, Xena tak henti berteriak karena para pelayan terus membuatnya merasa geli. Dimulai dari pemijatan seluruh tubuh, perawatan kuku, dicukur semua rambut-rambut pengganggu yang ada di sekujur tubuhnya, diluluri, dan hal lainnya yang diperintahkan oleh Mommy Adna agar Menantunya siap membuatkannya Cucu.
Sore harinya, barulah semua perawatan aneh itu selesai dilakukan. Masih dengan memakai jubah mandi, Xena dipaksa makan, padahal Xena tak ingin makan apa pun hari itu karena tak ingin terlihat gemuk.
Namun, Xena terpaksa makan saat Ibunya tiba dan memaksanya untuk makan walau sedikit. Selesai menghabiskan makanannya, Xena langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur karena merasa sangat lelah.
"Ibu, tubuhku terasa lebih ringan. Perawatan tadi sangat enak walau geli," ujar Xena membuat Bibi Aslin menggelengkan kepalanya.
"Enak tapi geli," Xena berucap pelan sambil berpikir keras.
"Apa yang kamu pikirkan? Dasar mesum! Sekarang bangunlah, kau masih harus di make up," Bibi Aslin menepuk paha Xena kuat.
"Aw! Sakit, Ibu!" pekik Xena langsung bangkit.
"Mari Nona," ajak seorang MUA ternama. Tak hanya ada MUA, di kamarnya juga ada Desainer dan pelayan lainnya.
Xena pun berdiri, berjalan gontai dan langsung menjatuhkan bo kongnya di atas kursi khusus. MUA kesulitan mendadani wajah Xena, lantaran Xena yang begitu aktif, tak henti berbicara apalagi bergerak.
"Kakak sudah nikah, belum?" tanya Xena pada MUA yang kini tengah menghias wajah cantiknya.
"Sudah, Nona," jawabnya tersenyum kecut, tampak kesal dengan tingkah Xena.
"Sudah punya anak?" kembali Xena bertanya penasaran.
__ADS_1
"Sudah, Nona."
"Malam pertama Kakak dan Suami bagaiamana? Apakah malu? Apakah canggung? Apakah tegang? Apakah Kakak duluan yang minta? Atau Suami Kakak yang minta? Kalau masuk semua, sakitnya seperti apa?" MUA itu menghentikan pekerjaannya kala mendapatkan pertanyaan beruntun yang tak masuk akal dari Xena.
"Kenapa Kakak diam, ayo ceritakan kepadaku, kak. Aku punya Kakak perempuan, tapi dia sangat pemalu dan tidak ingin menceritakannya kepadaku. Ayolah kak, aku perlu ilmu untuk nanti malam," desak Xena membuat Bibi Aslin menghembuskan napasnya kasar dan langsung keluar dari kamar itu, untuk kembali mempersiapkan hal lainnya.
"Maaf, Nona. Bisakah bertanya satu-satu dulu, saya bingung bagaimana menjawabnya karena tidak mengingat semua pertanyaan Nona," tutur MUA cantik itu seraya tersenyum manis.
"Ya sudah deh, satu pertanyaan aja kalau begitu," imbuh Xena sedikit kecewa.
"Silahkan, Nona," sambung MUA itu.
"Sesakit apa ketika itunya masuk semua? Coba gambarkan sakitnya seperti apa?" tanya Xena to the point.
"Seingat saya sih tidak sakit sama sekali, setelah masuk malah sangat enak," jawabnya santai.
"Bukan karena itu."
"Lalu?"
"Karena saya laki-laki," Xena membulatkan matanya sempurna saat MAU itu menunjukkan suara aslinya.
"Haha ... Tidak perlu takut Nona, hanya penampilan saja yang begini. Aslinya saya sudah punya Istri dan anak," jelas MUA kembali fokus pada wajah Xena. Xena yang masih kaget pun hanya diam hingga dirinya selesai di make up.
__ADS_1
Selesai di make up oleh MUA, kini Xena beralih untuk dipasangkan gaun pengantinnya. Sebelum itu, Xena diminta ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Ibu, Ana ke mana? Kenapa dia tidak menemaniku? Dia ke mana saja seharian ini?" tanya Xena pada Bibi Aslin yang kembali masuk ke dalam kamar Putrinya.
"Tadi dia ada di bawah bantu-bantu. Mau Ibu panggilkan?" tawar Bibi Aslin.
"Iya," jawab Xena cepat.
Tak lama setelah Bibi Aslin pergi, Ziva masuk ke dalam kamar Xena. Xena pun langsung berteriak gembira menyambut kedatangan Kakaknya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Ziva kagum akan penampilan Xena.
"Kakak juga sangat cantik, ayo duduklah, Kak," Xena mengajak Ziva duduk di pinggir ranjang, sementara dirinya tengah dipasangkan gaun pengantin yang begitu mewah.
"Kakak, kenapa aku takut, ya? Apa dulu kakak juga takut?" oceh Xena kembali bertanya tak jelas.
"Tidak, tidak sakit sama sekali," bohong Ziva agar Xena tak ketakutan seperti dirinya.
"Benarkah? Enak, ya, Kak?" tanya Xena semakin penasaran.
"Hu'um," Ziva mengangguk malu.
"Tapi, saat aku pernah masuk separuh, aku kesakitan, kak."
__ADS_1
Ziva berpikir sebentar. "Itu karena separuh, kalau full tidak akan sakit," kembali Ziva berbohong.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan takut dan aku akan menyerang dengan seluruh tenaga yang aku punya. Bukan aku yang akan kesakitan, tapi Aditlah yang akan kesakitan. Lihat saja nanti."