Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 188


__ADS_3

"Baiklah, kamu tidak perlu takut, Sayang. Kemarilah," bujuk Adit agar Xena mau mendekat padanya agar dia bisa memastikan apakah benar Istrinya itu tengah berbadan dua. Xena menengadah menatap Ziva dengan tangisannya yang belum reda.


"Sayang kamu harus diperiksa, mendekatlah pada Suamimu," titah Ziva dan Xena pun beringsut mendekat pada Adit walau dengan raut wajahnya yang terlihat ragu-ragu.


"Kemarikan tanganmu, Sayang," pinta Adit dan Xena langsung mengulurkan pergelangan tangannya. Adit memeriksa Xena dengan detail. Setelah memeriksa denyut nadi Sang Istri. Adit membuka satu persatu kancing piyama yang Xena kenakan. Sedangkan Lolan telah membalikkan badannya sedari tadi.


"Tarik napas yang dalam lalu hembuskan dengan perlahan," Xena patuh melakukannya. Adit menekan-nekan pelan perut bagian bawah Xena.


"Bagaimana, Adit?" tanya Ziva tak sabaran. Adit menghela napas berat, kemudian mengancingkan kembali piyama Sang Istri.


"Iya. Xena benar-benar hamil," jawab Adit dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Keget, senang, sedih sekaliagus takut bercambur aduk membuatnya terlihat begitu linglung. Kedua mata indah Xena kembali berkaca-kaca, walau sudah menebak reaksi Suaminya akan begitu. Tetap saja Xena merasa sedih.


"Kamu apakah tidak bahagia?" tanya Ziva seraya mengerutkan alisnya.


"Senang, tentu saja sangat senang," balas Adit cepat.


"Ekspresimu sangat tidak meyakinkan," cela Lolan.


"Ada apa dengan ekspresiku?, wajahku memang selalu begini," jelas Adit beralasan.


"Sudahlah, kalian berdua temani Xena sebentar, aku akan memberitahu Mommy dan Daddy tentang kehamilan Xena agar mereka segera pulang," tutur Adit langsung pergi begitu saja membuat Xena kembali meluncurkan air matanya sambil memeluk Ziva erat.


"Dia bahkan tidak memelukku, menciumku, tidak mengucapkan selamat dan terima kasih seperti yang Kakak ipar Lolan lakukan kepada Kakak. Hiks ... Dia tidak menginginkan calon bayiku," tangis Xena semakin menjadi, Ziva langsung membalas pelukan Xena tak kalah eratnya, sedangkan Lolan berjalan menuju sofa dan duduk santai di sana.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, ya, kamu akan menyakiti calon bayimu bila menangis begini," Ziva berusaha membujuk Xena.


"Aw!" pekik Xena tiba-tiba.


"Ada apa, Sayang? Apa ada bagian yang sakit?" tanya Ziva panik.


"Tidak apa-apa, Kak. Hanya perutku saja yang mendadak terasa kram," ucap Xena yang sudah tak lagi merasakan kram sekilas tadi.


"Astaga, kram di awal kehamilan itu berbahaya, Sayang," kata Ziva semakin panik.


"Lolan Sayang, cepat panggil kembali Adit," titah Ziva mendesak dan Lolan langsung keluar dari kamar untuk memanggil Adit.


"Aku baik-baik saja, Kakak."


"Tidak bisa, kram itu berbahaya, Xena. Ini pasti karena kamu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Sekarang berbaringlah kembali," Ziva menuntun Xena hingga kembali berbaring dengan nyaman.


"Ada apa? Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Adit yang baru tiba dengan keringat membanjiri wajahnya dan napas yang tersengal.


"Kram," ketus Xena langsung mengalihkan pandangannya, Adit menghela napas kasar, kemudian memberi isarat pada Lolan agar membawa Ziva ke luar dan memberikannya waktu berdua bersama Sang Istri.


"Ayo, Sayang. Kita tunggu di luar saja," ajak Lolan.


"Ta-tapi—" Lolan tetap menuntun Sang Istri untuk pergi.


Setelah kepergian Lolan dan Ziva, Adit pun naik ke atas ranjang, kemudian duduk di samping tubub Xena sambil mengelus lembut punggung Sang Istri.


"Maafkan aku, Sayang. Aku bukannya tidak bahagia saat kamu mengandung anak kita. Tapi, aku hanya tidak siap melihatmu menderita seperti saat ini yang kamu rasakan, aku sangat menyayangimu hingga aku tidak ingin melihatmu melalui masa kehamilan yang kedepannya akan semakin menyusahkanmu hingga menyakitimu. Sungguh aku tidak siap melihatmu kesakitan," jelas Adit menyatakan ketakutan serta kekhawatirannya kepada Xena. Xena yang mendengar itu pun seketika tertegun.


"Kamu salah, menjadi seorang Ibu hamil adalah masa yang sangat menyenangkan di mana akan ada banyak cinta yang datang kepadaku, semua orang akan memanjakanku termasuk kamu. Membayangkan akan ada seorang anak kecil yang memanggilku Mommy mampu membuatku langsung merinding. Aku menginginkan seorang baby, Titik. Siapa pun tidak ada yang bisa menghentikan."

__ADS_1


Bersambung ....


*


*


*


Yuk baca baca Novel Populer Suami Masa Depan karya HaruMini😍😍😍😍


Suara tawa renyah dari dua anak manusia terdengar jelas dari kamar yang terbilang sangat sempit, bagaimana tidak sempit jika ukuran kamar tersebut tidak lebih dari dua kali dua meter, yang hanya terdapat tempat tidur ukuran single, lemari plastik double dengan empat susun, dan juga meja kecil yang terdapat di sisi tempat tidur, di mana ada dua orang yang berada di atas tempat tidur tersebut.


"Sayang hentikan, aku sungguh tidak tahan,"


"Tapi aku suka menggelitik kamu Mila, kamu terlihat sangat cantik jika sedang tertawa,"


Pria tersebut berhenti menggelitik wanita yang di panggilnya Mila, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Mila yang terbaring di atas tempat tidur, hingga tidak ada jarak di antara ke duanya mengingat lagi tempat tidur tersebut hanya berukuran single.


Mila yang tadi terbaring dengan tubuh terlentang, kini memiringkan tubuhnya, untuk menatap pria yang sangat di cintai nya.


"Hanya kamu yang mengatakan aku cantik sayang,"


"Memang kamu cantik, Mila sayang," sambung pria tersebut dan memiringkan tubuhnya untuk menatap Mila, yang sekarang sedang tersipu malu mendengar ucapkan dari pria yang sangat di cintai nya.


"Terima kasih sayang," Mila lalu memeluk pria yang ada di sampingnya.


"Lepaskan pelukanku Mila sayang, jangan membuat aku hilang kendali dan melahap mu,"


"Tidak masalah," ujar Mila semakin mengeratkan pelukannya.


Dan Mila yang sudah di bawah kungkungan pria yang sangat di cintanya, melepas pelukannya lalu menarik belakang leher pria tersebut untuk mendekat lalu


mencium bibirnya.


Tring tring tring tring


Suara alarm dari ponsel jadul terdengar jelas di telinga Karmila, yang biasa di sapa Mila, dan suara alarm terus berbunyi memenuhi seluruh kamar di mana dirinya berada.


Mau tidak mau Mila yang sedang bermimpi dengan pria yang sangat di cintai nya perlahan membuka matanya sambil mendengus kesal, karena mimpi indahnya harus terhenti saat suara berisik alarm dari ponsel judulnya terus berbunyi.


Mila menyingkirkan guling yang di peluknya, lalu meraih ponsel miliknya yang terdapat di meja kecil, yang terdapat di sisi tempat tidurnya.


Kemudian Mila mematikan suara alarm tersebut, dan menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul lima pagi.


Dan memang sudah saatnya Mila bangun dan memulai aktivitasnya. Lalu Mila beranjak dari tidurnya dengan enggang.


"Kapan aku bisa bangun siang dan tidur menghabiskan sisa pagi dengan nyenyak, lalu ada pelayanan yang membangunkan aku, sambil membawa sarapan," ucap Mila ketika sudah turun dari tempat tidurnya lalu merapikan tempat tidurnya.


Setelah merapikan tempat tidur Mila mendekati meja yang ada di sisi tempat tidurnya, lalu mengambil bingkai foto di mana terpasang foto pria yang sangat di cintai nya, tepatnya foto yang di ambil dari salah satu majalah bisnis oleh Mila, dan di pasang di bingkai foto yang sekarang berada di tangannya.


Mila mengukir senyum sambil mengelus foto yang ada di bingkai tersebut, foto pria yang sangat di cintai nya.


"Calon suamiku Milano Justin, selamat pagi i love you," ucap Mila dan sekarang mencium foto tersebut dan memeluknya.

__ADS_1


Brak!


Pintu kamar Mila di buka dengan kencang dari luar, membuat Mila terkejut, dan langsung menatap ke arah pintu.


"Dasar tuli! Selain buruk rupa ternyata sekarang kamu bolot!" ucap kesal wanita paruh yang masih terlihat cantik di usianya, ketika sudah masuk ke dalam kamar Mila.


"Bibi Maria,"


"Apa!" bentak wanita yang di panggil bibi Maria oleh Mila. "Apa kamu lupa, dengan yang kemarin aku katakan padamu, sarapan sudah harus siap pukul lima pagi. Kamu tahu Angel hari ini dapat pekerjaan baru sebagai sekretaris di perusahaan kontruksi terbesar di kota ini, tapi kamu malah masih enak enakan di kamar, kamu pikir tinggal di rumah ini gratis! Ingat hutang ke dua orang tua kamu tidak akan pernah lunas meskipun kamu bekerja di rumah ini seumur hidup!"


Mila menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan bibi Maria, sudah dua tahun lebih sejak ke dua orang tuanya meninggal, dirinya harus bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah bibinya sendiri tanpa imbalan, dengan alasan ke dua orang tuanya memiliki hutang pada bibi Maria yang tidak sedikit jumlahnya.


Bukan hanya tidak mendapat imbalan, Mila juga di perlakukan dengan tidak baik oleh bibi Maria, dan Mila yang tidak memiliki pilihan menerima apa pun yang di lakukan oleh sang bibi.


Karena Mila sadar, dirinya tidak berpendidikan tinggi, apa lagi dengan fisik yang di bawah rata rata, akan sulit untuk mencari pekerjaan di luar.


"Mila kenapa masih diam saja. Cepat kerjakan pekerjaan kamu jangan sampai–"


"Mama, kenapa pagi buta sudah marah marah," ujar sosok wanita cantik yang masuk ke dalam kamar Mila menghampiri sang mama dan menghentikan ucapannya.


"Angel sayang, bagaimana mama tidak marah marah, lihat si burik ini, jam segini masih enak enakan di kamar,"


"Oh itu, dia juga belum menyiapkan air mandi untukku Ma," sambung Angel sambil menunjuk ke arah Mila.


Mendengar ucapan sang putri, Maria menatap tajam ke arah Mila, yang masih memeluk bingkai foto.


Lalu Maria mengambil paksa bingkai foto tersebut kemudian menyunggingkan senyum sinis setelah menatap foto tersebut.


"Bibi jangan!" ucap Mila dan ingin mengambil bingkai foto tersebut, namun Maria mendorong tubuh Mila dengan kencang hingga Mila terduduk di atas tempat tidurnya.


"Angel sayang Lihatlah," Maria menunjukkan foto yang berada di tangannya ke arah sang putri.


Angel membulatkan matanya sempurna saat melihat foto tersebut kemudian mengambil foto tersebut dari tangan sang mama.


"Dasar gila. Untuk apa si burik menyimpan foto calon bos aku Ma,"


"Entahlah, mungkin dia sudah gila, karena tidak ada pria yang mau dengan dia," ucap Maria dan menyunggingkan senyum sinis sambil menatap Mila yang sekarang sudah beranjak dari duduknya.


"Jangan!" teriak Mila saat foto yang ada bingkai di lepas oleh Angel.


"Wow Ma, lihatlah dia sudah berani berteriak pada kita," ucap Angel sambil menyunggingkan senyum sinis.


Dan Maria yang tidak terima karena Mila untuk pertama kalinya berteriak padanya, langsung mendekati Mila lalu menarik rambutnya.


"Berani sekali kamu berteriak pada kita, apa kamu sudah bosan hidup!" ancam Maria dan terus menarik rambut Mila.


"Lepaskan!" teriak Mila lalu melepas tangan Maria kemudian mendorong tubuhnya hingga Maria jatuh tersungkur di atas lantai.


Dan ini untuk pertama kalinya Mila memiliki keberanian untuk melawan sang bibi yang selama ini berbuat semena mena pada dirinya.


"Kurang ajar kamu Mila!"


Plak!

__ADS_1


Bersambung............................



__ADS_2