Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 41


__ADS_3

"Kau terlambat lima menit dan kau harus—" ucap Lolan terhenti kala kaget melihat Ziva yang datang bersama Daddy dan Mommy-nya.


"Harus apa?" tanya Mommy Nata memangku kedua tangan, bertanya sambil menengadah menatap Lolan dengan ekspresi menantang.


"Mom, a-aku—"


"Beraninya kamu membiarkan Ziva berjalan sendirian di hutan!" bentak Mommy Nata menarik dasi yang menggantung di leher Lolan.


"Bu-bukan be-gitu, Mom."


"Sial, gara-gara perempuan sialan itu Mommy dan Daddy memarahiku. Lihat saja nanti, lihat saja bagaimana caraku membalasnya," batin Lolan geram.


"Lalu Bagaimana?" tantang Mommy Nata lagi. Sedangkan Daddy Jackson lebih memilih memapah Ziva masuk ke dalam Mansion dan mendudukan Ziva di atas sofa. Daddy Jackson menyerahkan hukuman untuk Putranya kepada Sang Istri.


Kemudian Daddy Jackson melepaskan jasnya, membalutkannya ke tubuh Ziva yang masih mengenakan gaun pengantin yang terbuka. Setelah mengamankan Ziva, berulah Daddy Jackson menghampiri Mommy Nata dan Lolan.


"Sayang, jangan bagian itu!" Teriak Daddy Jackson menghentikan kelakukan Mommy Nata yang ingin menerjang pangkal paha Putranya.


"Kenapa? Biarkan, biar sekalian dia impoten seumur hidup! Bukankah itu yang dia inginkan! Percuma, percuma kita membantunya untuk sembuh kalau dia sendiri tidak menginginkannya!" Bentak Mommy Nata memberikan kode pada Suaminya. Ya, itu hanyalah akting pasangan itu.


Yanga benar saja, mana mungkin dirinya ingin membuat putranya impoten seumur hidup. Dia hanya ingin menggertak Lolan, terlihat Lolan menundukkan wajah merasa bersalah. Itu artinya gertakannya berhasil.


"Jangan Sayang, bagaimana pun buruknya, dia tetap Putra kita satu-satunya," bujuk Daddy Jackson mengimbangi akting istrinya.

__ADS_1


Mommy Nata menghela napas, lalu tersenyum membalas senyuman Suaminya. "Baiklah, karena ini adalah kesalahan pertamanya aku akan berbaik hati untuk memaafkannya. Tapi ingat, hanya ada satu kali dan tidak akan kedua kali," ancam Mommy Nata menurunkan kembali gaunnya, yang sebelumnya dia angkat tinggi-tinggi untuk siap menerjang Putranya itu. Nasa mengajarinya banyak hal sewaktu menjadi Cecilia. Menendang sel*ngkangan seorang pria adalah keahliannya.


"Kamu sudah berjanji untuk memberikan kesempatan selama satu tahun kepada Ziva. Daddy harap, kamu tidak melukainya hanya karena ingin bercerai darinya. Bila kamu menyia-nyiakannya, maka kamulah yang akan menyesal nantinya," tutur Daddy Jackson tegas.


"Maafkan Lolan, Mommy, Daddy. Lolan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," janji Lolan Baldev, tentu saja hanya di mulut saja.


"Melepaskanya, jangan harap!" ucap Lolan dalam hati sambil memikirkan berbagai macam rencana untuk menghukum Ziva karena sudah berani mengadu kepada kedua orangtuanya.


"Sekarang kamu bawa Ziva masuk ke kamarnya. Mommy akan ke dapur untuk memasak makanan untuknya," titah Mommy Nata dan Lolan langsung menyanggupinya.


Lolan berjalan cepat ke arah Ziva yang ada di sofa ruang tamu. Lolan memperlihatkan mata tajamnya ke arah Ziva, hal itu membuat Ziva ketakutan dan Ziva memilih menundukkan wajahnya takut.


Dengan perlahan, Lolan mengangkat tubuh mungil Ziva, kemudian dia bawa ke lantai atas menggunakan tangga. Saat sudah tak lagi terlihat oleh Daddy dan Mommy-nya, Lolan langsung menurunkan Ziva dan menyeret Ziva kasar. Beberapa kali kaki Ziva terbentur anak tangga langkah kaki Lolan yang cepat tidak mampu Ziva imbangi, apalagi dengan gaunnya menjuntai.


Tiba di kamar, Lolan menghempaskan tubuh mungil Ziva. Tubuhnya yang lemah membuat Ziva tak bisa melawan, Ziva tersungkur di samping ranjang. Beruntung perutnya yang sakit tidak terbentur sudut ranjang.


"Kau senang, bukan? Kau senang karena Daddy dan Mommy-ku membelamu. Asal kamu tau, aku tidak peduli walau mereka membelamu, silahkan mengadu apa pun. Tapi, aku tidak akan takut dan aku akan tetap mengyiksamu!" bentak Lolan mencengkram kuat dagu Ziva hingga mengalirkan darah segar di sudut kanan bibir Ziva.


Ziva memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir begitu saja tanpa sempat dia tahan. "Silahkan menangis sepuasmu. Kamu pantas menerima ini, karena kamu adalah pembawa sial dalam hidupku!" Lanjutnya lagi langsung melepaskan cengkraman di dagu Ziva.


Tok, tok, tok ....


"Sial!" umpat Lolan berdiri lalu memilih pergi ke kamar mandi daripada harus membuka pintu kamar.

__ADS_1


Ziva mengelap darah di sudut bibirnya yang terasa panas, menyeka air mata. Mencoba berdiri dari duduknya, lalu menyerat kakinya yang terasa berat, Ziva berjalan menuju pintu kamar dan segera membukanya.


"Sayang, wajahmu semakin pucat. Apa pria impoten itu menindasmu lagi?" tanya Mommy Nata khawatir saat melihat keadaan Ziva yang mengenaskan.


"Tidak Mommy, dia sedang mandi. Aku hanya kelaparan saja. Lagipula, ada Mommy di sini, mana mungkin dia berani menindasku," sahut Ziva berkilah.


"Syukurlah, Sayang. Ayo masuklah, Mommy akan menyuapimu," ajak Mommy Nata masuk dengan membawa makanan untuk Ziva.


"Mommy," panggil Lolan saat keluar dari kamar mandi dengan handuk mini melingkar di Pinggang kekarnya.


"Uhuk!" Ziva tersedak makanan saat kaget melihat penampilan seksi Lolan.


"Minumlah, Sayang," ujar Mommy Nata langsung membantu Ziva minum.


"Ada apa? Kamu mengagetkan Ziva," ketus Mommy Nata tak Lolan pedulikan, dia tetap menuju lemari, mengambil pakaian, dan memasanganya dengan santai.


"Wajahmu semakin pucat, Sayang. Kita ke rumah sakit saja, ya?" Saran Mommy Nata khawatir.


"Tidak usah, Mommy. Aku baik-baik saja, hanya perlu istirahat besok juga akan membaik," tolak Ziva sopan.


"Kalau begitu istirahatlah, Sayang. Semoga besok kondisi kamu sudah membalik karena besok adalah jadwal terapi pertama akan dimulai," ujar Mommy Nata menyelimuti Ziva yang merasa sangat lelah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2