
"Aku ingin bertemu Xena sekarang," jawab Ziva sambil melihat keluar mobil karena tahu Lolan tidak akan mengabulkan keinginannya.
"Tapi Sayang, acaranya akan dimulai malam ini."
"Tapi aku ingin bercerita banyak hal pada Xena," jelas Ziva, Lolan pun menghela napas berat. Mendengar helaan napas Sang Suami, Ziva pun mencebikkan bibirnya.
"Baiklah, kita ke sana sekarang. Tapi, sebelum ke sana kita harus makan siang dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Lolan melihat Ziva sebentar, kemudian kembali fokus pada jalan raya yang tidak terlalu padat.
"Sushi, aku ingin makan Sushi," jawab Ziva bersemangat.
"Sayang, bukankah kamu tidak suka Sushi?" Baru saja beberapa hari lalu Lolan mengetahui bahwa Ziva tidak suka makanan mentah. Bahkan, Ziva tidak suka telur setengah matang juga sayuran seger yang masih mentah. Ziva tidak menyukai semua itu.
Namun, cukup aneh bagi Lolan mendengar Ziva ingin makan Sushi yang identik dengan ikan salmon mentah.
"Entahlah, aku sangat ingin mencobanya. Ikan salmon mentah yang digulung bersama nasi putih dan sayuran lainnya, sepertinya sangat enak," jawab Ziva yang juga kebingungan dengan dirinya yang sangat menginginkan Sushi.
__ADS_1
"Baiklah, kita ke restoran Sushi sekarang," Lolan pun langsung tancap gas menuju restoran Sushi yang paling terkenal di kota.
Tiba di restoran itu, Lolan langsung membawa Ziva masuk ke dalam sana. Kebetulan restoran itu adalah restoran favorit Mommy Nata dan Daddy Jackson. Jadi, nama keluarga Talsen Baldev tercantum adalah pelanggan terhormat berkelas super VVIP. Karena hal itulah, Lolan dan Ziva langsung di bawa ke ruangan khusus yang biasanya menjadi tempat makan romantis Daddy Jackson dan Mommy Nata.
"Silahkan Nona Tuan, selamat menikmati," ucap dua orang pelayan berpakaian rapi yang menghidangkan berbagai macam Sushi ikan salmon yang memenuhi meja.
"Hemmm ... Sepertinya benar-benar nikmat!" Ziva menghiruf aroma wangi dari hidangan Sushi itu, kemudian langsung mencobanya satu persatu. Bahkan, Ziva melupakan bahwa dia makan bersama dengan Lolan.
Suapan pertama, Ziva memejamkan mata menikmati rasa yang selama ini belum pernah dia rasakan. Suapan demi suaapan demi suapan Sushi masuk ke dalam mulut ziva. Lolan hanya terdiam sambil menelan saliva melihat tingkah tak biasa Ziva.
"Enak sekali. Yah, sudah habis ternyata. Sayang, kenapa aku merasa masih lapar?" Lolan membulatkan matanya sempurna sambil berganti menatap piring-piring kosong di atas meja, kemudian menatap Ziva lagi. Tatapannya penuh keheranan dan seakan tak percaya bahwa Ziva yang biasanya hanya makan sedikit, kini makan sangat banyak.
Ziva mencebikkan binirnya imut kala Lolan tak menanggapi ucapannya. "Ya sudah, aku sudah kenyang. Ayo kita pulang," ucap Ziva langsung berdiri dengan ekspresi cemberut.
"Tadi kamu bilang masih lapar, kan, Sayang? Sekarang duduklah, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan Susuhinya lagi," ujar Lolan cepat.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ziva antusias.
"Benar, Sayang. Aku akan memberikan seberapa banyak pun Sushi yang kamu mau," tegas Lolan membuat Ziva langsung duduk dengan patuh.
Lolan melambaikan tangannya, pelayan pun tiba sambil membawa buku catatan. "Kamu mau Sushi yang seperti apa, Sayang?" tanya Lolan lembut.
"Semuanya, aku mau semuanya yang seperti tadi," Lolan menelan saliva kasar.
"Sesuai keinginan Istri saya," lanjut Lolan.
"Baik, Tuan, Nona. Silahkan menunggu sebentar, saya akan segera kembali," ucap pelayan itu sopan sambil membungkukkan tubuhnya. Kemudian dia langsung pergi intuk menyiapkan Sushi seperti yang Ziva inginkan.
.
.
__ADS_1
.