Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 99


__ADS_3

Di bawah umur, SKIP!


"Ranjang ini benar-benar rapuh, Sayang. Main di lantai saja, bagaimana?" tanya Lolan membentangkan kasur tipis di bawah sana.


"Main apa?" tanya Ziva yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk mini.


"Astaga Sayang, kenapa kamu secantik dan se-seksi itu," ujar Lolan kagum sambil mendekat pada Nata yang masih memakai handuk berwarna pink yang menggantung di tubuh polosnya. Pikiran Lolan seketika liar, dia merasa begitu ingin menarik handuk yang mengganggu pemandangannya itu.


"Kamu mau apa?" Ziva mengeratkan genggaman pada handuknya ketika Lolan sudah mengunci tubuhnya di dinding beton kamar.


"Tentu saja aku menginginkanmu," jawab Lolan mendekatkan wajahnya perlahan ke arah bibir Ziva.


"Tu-tunggu," Ziva menahan dada bidang Lolan.


"Ada apa?" tanya Lolan menatap bola mata indah Ziva dengan penuh hasrat membara.


"Aku takut," jawab Ziva cepat.


"Yang kedua ini tidak akan sakit lagi, Sayang. Hanya yang pertama saja," bujuk Lolan dengan napas beratnya.


"Kamu berbohong lagi."

__ADS_1


"Untuk apa aku berbohong padamu. Kali ini, aku akan menyudahinya saat kamu mengatakan sudah. Bagaimana?" Lolan memberikan penawaran.


"Sungguh?"


"Pasti," jawab Lolan mengangguk yakin.


"Pelan-pelan saja, ya."


"Janji, aku berjanji akan melakukannya pelan-pelan," janji Lolan mengusap lembut bibir ranum Ziva.


"Baiklah," jawab Ziva dengan kedua pipi yang merona.


"Baiklah apa?" goda Lolan.


"Main apa?" Lolan semakin senang menggoda Ziva, Ziva dengan raut wajah malu-malu adalah ekspresi yang paling menggairahkan baginya setelah ekspresi ketika berada di bawah tubuhnya.


"Terserah mau main apa, aku pasrah," jawab Ziva masih menutup wajahnya.


"Pasrah. Aku suka kata-kata itu," Lolan menurunkan kedua tangan Ziva yang menutupi wajahnya, hingga terlihat wajah sempurna yang mampu membuatnya menggila itu.


Lolan kembali mendekatkan wajahnya, mengikis jarak, menempelkan bibir, me lu matnya seakan tak puas menikmati kehangatan yang berada di dalam rongga mulut ziva. Ziva tak ingin kalah, dia juga sudah semakin pandai menerima dan membalas dengan gairah cinta yang terus membara.

__ADS_1


Saking menghayatinya, Ziva sampai tak sadar kapan Lolan menarik handuk di tubuhnya. Ketika Lolan melepaskannya, Ziva kaget kala tubuhnya sudah benar-benar polos, tidak ada satu helai kain pun yang menutupinya. Ziva hanya menatap sedih handuknya yang tergelatak di lantai tak jauh darinya.


Permainan lidah Lolan semakin turun ke hawah, Ziva mengira akan berhenti dan bermain-main di ceruk lehernya atau di dua gundukannya seperti permainan sebelumnya. Namun, sesuatu yang tak terduga Lolan lakukan membuat Ziva menggila.


"Emm ... Lo-lan ahhh ..." lenguh Ziva kala Lolan memainkan lidahnya di bawah sana, membuatnya merasa terbang di udara bersama jutaan kupu-kupu yang terus menggelitik perutnya.


Ziva benar-benar tidak menyangka Lolan akan melakukan itu, memang tidak sakit karena kenikmatan yang tiada taranya-lah yang malah Ziva rasakan. Lolan benar-benar tahu di mana letak ternikmat yang dapat Ziva rasakan.


"Lo-lan em ..." Ziva semakin menggila saat Lolan juga me re mas kedua gundukannya sambil tetap bermain di bawah sana. Dua kenikmatan sekaligus Ziva rasakan.


"Sssst, kecilkan suaramu, Sayang," pinta Lolan menengadah.


"Ka-kamu ahhhh," lenguh Ziva pelan saat Lolan kembali memberikannya sensasi yang luar biasa nikmatnya. Ziva menekan kepala Lolan, seakan menginginkan Lolan bermain semakin dalam.


"Ahhhhh ...." Ziva menutup mulutnya ketika pelepasan pertama dia dapatkan hanya dengan permainan lidah Lolan yang begitu ahli.


Tok, tok, tok ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2