
Ziva mengerjabkan matanya perlahan, dia terbangun hanya karena menghiruf aroma wangi yang berasal dari dalam kamar mandi. Ziva terus menghiruf aroma khas tubuh Suaminya itu, hingga sumber wangi itu semakin menggelora ketika Lolan keluar dari kamar mandi dengan handuk mini yang hanya mampu menutupi bagian sensitifnya saja.
Ziva tertegun, baru kali ini dia melihat Suaminya begitu mempesona dengan otot-otot yang luar biasa menghiasi setiap lekuk tubuhnya. Apalagi aroma wangi tubuh kekar itu, Ziva merasa ingin membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat nan wangi itu.
Ziva meneguk salivanya kasar saat wangi tubuh itu mampu membuatnya merasa panas dingin di waktu yang bersamaan. Aroma tubuh Lolan sehabis mandi bagaikan parfum semprot yang mengandung cairan sintetis dari hormon kesenangan atau oksitosin, sebuah cairan versi sintetis dari hormon ini akan membuat pria terlihat lebih menarik di mata perempuan.
Namum, Lolan tidak menggunakan parfume ilegal itu untuk membuat Ziva tertarik padanya. Lolan hanya mandi dengan sabun biasa—yang biasanya juga Ziva gunakan. Tapi, entah kenapa Ziva merasa sangat menginginkan Lolan saat ini, Ziva benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Lolan langsung menjatuhkan tubuhnya di pinggir ranjang tepat di samping Ziva yang duduk dengan wajah gugupnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Ziva reflek menggangguk cepat.
"Katakan padaku, apa yang kamu inginkan? Aku pasti akan mengabulkannya," ujar Lolan dan Ziva tanpa sadar langsung memeluk Lolan dengan begitu eratnya.
Ziva memejamkan matanya, menghiruf aroma tubuh Lolan yang dapat memabukkannya. Lolan terheran akan apa yang barusan Ziva lakukan. "A-aku i-ingin kamu!"
__ADS_1
Mendengar suara lembut Ziva yang menginginkannya, Lolan membulatkan matanya sempurna. Lolan terdiam sesaat seakan sedang berpikir, benarkah yang memeluknya kini adalah Ziva Istrinya? Sungguh Lolan merasa begitu kaget karena baru kali ini Ziva berinisiatif.
Beberapa detik kemudian, Lolan mengerjabkan matanya, seakan menyadarkan dirinya, bahwa saat ini yang memeluknya erat memang adalah Istrinya tercinta. Tapi, hal apa yang membuat Ziva menginginkanya di siang bolong begini? Apakah karena dirinya baru selesai mandi? Mungkinkah dia terlihat lebih tampan setelah mandi? Memikirkan hal itu, Lolan tersenyum smirik. Mulai hari ini, Lolan akan sering-sering mandi setiap waktu.
Lolan mengelus punggung Ziva perlahan, membuat Ziva memeluknya semakin erat. Lolan tersenyum licik saat ide liarnya berkelana, dia ingin menggoda Istrinya.
"Menginginkan apa, Sayang?" tanya Lolan berpura-pura tidak tahu.
"Ingin kamu," sahut Ziva cepat dan pelan dengan napasnya yang sudah tak beraturan.
"Kamu pasti tahu," ucap Ziva dengan suara manjanya. Lolan menyukai reaksi Ziva yang malu-malu.
"Aku bukan peramal, Sayang. Mana mungkin aku bisa tahu apa yang kamu inginkan, tanpa kamu mengatakannya," jelas Lolan semakin menggoda Ziva. Ziva mencebikkan bibirnya, Ziva ingin mudur karena mulu. Namun, dia sangat menginginkan disentuh oleh Suaminya, Lolan. Ziva merasa akan gila bila tidak mendapatkannya.
Ziva pun berniat melanjutkan keberaniannya. Ziva melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah Lolan yang kini juga menatapnya.
__ADS_1
"Aku ingin disentuh," Ziva langsung menundukkan wajahnya dalam. Lolan tersenyum puas mendengar ucapan Istrinya yang begitu imut di matanya.
"Kamu menginginkan aku menyentuhmu, Sayang?" Ziva mengangguk tapi masih menunduk.
"Menyentuh yang mana saja?" tanya Lolan membuat Ziva menunduk semakin dalam.
"Se-muannya ...."
"Baiklah, apa pun untukmu, Sayang," Lolan langsung menerkam Ziva.
.
.
.
__ADS_1