Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 193


__ADS_3

"Sakit!" teriak Ziva sambil mengejan dengan kuat.


Mendengar itu, air mata yang sedari tadi Lolan bendung, bercucuran begitu saja dengan derasnya. Rasa sakit dan perjuangan Ziva dalam melahirkan bayinya akan selalu Lolan ingat dalam benaknya.


Setelah ini, Lolan berjanji akan selalu menyayangi dan tidak akan pernah menyakiti Ziva sedikit pun, Lolan juga berjanji tidak akan membuat Istrinya hamil lagi karena tak ingin melihat Ziva kesakitan lagi.


"Sakit, sangat sakit. Kapan sakitnya akan berakhir aku benar-benar tidak tahan lagi." rintih Ziva pelan dan terdengar begitu memilukan.


"Sayang bertahanlah, aku mohon bertahanlah demi bayi kita." ucap Lolan memberikan semangat.


Melihat Ziva yang telah kehabisan tenaga, Dokter pun bertindak cepat dengan menggunting agar tidak terjadi robekan besar di area perineum. Ziva berteriak lemah merasakan sakit itu, sementara Lolan bergidik ngilu ketika mendengar sendiri suara guntingan itu.


"Ayo Nona, kumpulkan kembali seluruh energi dan kembali mengejan, ini yang terakhir Nona."


Mendengar itu, Seketika Ziva kembali bersemangat. Walau sakit luar biasa yang kini dia rasakan, tapi dapat dikalahkan dengan rasa tak sabarannya ketika ingin segera melihat, memeluk dan mencium calon bayinya yang tinggal hitungan menit lagi akan segera hadir dihadapannya. Ziva tak ingin menyia-nyiakan pengorbanannya selama 9 bulan yang telah dia lalui dengan penuh suka dan duka.

__ADS_1


"Aaaakhh!"


"Oek, oek, oek ..." tangisan histeris seorang bayi berjenis kelamin laki-laki memecah hingga terdengar sampai di luar ruangan, membuat semua orang di luar saling berpelukan dengan turut menangis bahagia.


Tapi, ada satu tangisnya yang membuat semua orang terdiam. Yaitu tangisan Xena yang semakin histeris. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adit heran.


"Aku juga mau melahirkan!" teriak Xena.


"Sabar, Sayang. Jadwal kamu masih dua minggu lagi," ujar Adit yang belum menyadari bahwa Xena berkata jujur.


"Dasar Dokter bodoh! Mati saja kamu!" umpat Xena memilih langsung duduk di kursi dan berusaha mengatur napasnya kala rasa sakit yang luar biasa datang tiba-tiba.


"Pakai ditanya lagi!" bentak Xena. Melihat air ketuban yang mulai mengalir, semuanya pun panik. Adit langsung bergerak cepat membawa Xena masuk ke dalam ruangan di mana Ziva melahirkan. Beruntung Ziva telah selesai ditangani oleh Sang Dokter.


"Istriku juga ingin melahirkan!" teriak Adit langsung membaringkan Xena di ranjang sebelah Ziva yang hanya berbatas tabir.

__ADS_1


Ziva yang semula tersenyum bahagia sambil menyusui bayinya, seketika ikut panik kala khawatir akan Xena yang juga akan melahirkan.


"Dokter, cepat bantu Adik saya melahirkan!" titah Ziva dan Dokter pun langsung pergi ke ranjang sebelah untuk membantu Xena melahirkan.


"Sayang, aku ingin, aw!" ringis Ziva kala belum punya tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.


"Sayang kamu tetap di sini, percayakan semua kepada Dokter, kamu tidak usah khawatir. Adit juga Dokter dan dia pasti bisa mengatasi Istrinya."


"Aaakkhh Sayang. Sakit Sayang!" teriak Adit membuat Lolan dan Ziva sama-sama terdiam heran. Bukankah seharusnya Xena yang berteriak kesakitan? Tapi, kenapa malah Adit yang berteriak kesakitan.


"Sayang, Adit kenapa?" tanya Ziva penasaran


"Dengarkan saja, Sayang." jawab Lolan sambil menahan tawanya.


"Suami kurang ajar! Cuma ngerasain enaknya saja dan aku yang ngerasain sakitnya!" pekik Xena sambil menarik rambut Adit kuat.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu malah menyalahkanku? Aku sudah melarangmu untuk hamil, tapi kamu sendiri yang—"


"Malah menyalahkanku!"


__ADS_2