Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 30


__ADS_3

"Kak Ziva, Kak Ziva bangun, Kak," panggil Xena berusaha membangunkan Ziva yang tak kunjung menunjukkan pergerakan. Padahal, Xena sudah lama mencoba membangunkan Kakaknya itu.


Niat hati ingin langsung beraksi membujuk Sang Kakak untuk berobat. Namun, Xena malah disuguhkan dengan pemandangan di mana Ziva tengah terkulai dengan mata terpejam.


"Astaga, apa Kak Ziva benar-benar pingsan?" tanya Xena panik. Meski begitu, Xena tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Tanpa berpikir panjang, Xena langsung mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Dokter Adit.


"Hallo, saya sedang sibuk, nanti saja telp—"


"Kak Ziva pingsan!" Potong Xena berteriak.


"Apa!" Saut Dokter Adit juga berteriak kaget.


"Kak Ziva pingsan, Dokter. Cepatlah ke sini jemput dan bawa Kak Ziva ke rumah sakit," desak Xena sambil terus mencoba membangunkan Ziva yang masih belum membuka mata.


"Tetap di sana," ujar Dokter Adit dengan napas tersengal lantaran berlari ke luar dari rumah sakit dan menuju mobil ambulan yang selalu siap sedia.

__ADS_1


"Cepatlah Dokter! Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kak Ziva!" Jawab Xena semakin mendesak.


"Saya sudah di perjalanan ke sana. Kamu tenanglah," panggilan langsung terputus saat itu juga. Xena kembali duduk di pinggir ranjang. Masih berusaha memukul pelan pundak Ziva yang tak kunjung merespon.


Rasa menyesal serta iba kini menghampiri hati Xena. Selama ini, dia sudah terlalu banyak menyusahkan Ziva, Xena tidak mengerti bagaimana Ziva dapat menyembunyikan sakitnya selama ini. Bahkan, dia selalu terlihat baik-baik saja seperti orang sehat pada umumnya.


Tidak pernah terpikirkan oleh Xena bahwa Ziva mengidap penyakit yang mematikan. Andai selama ini dia tahu, pasti Xena tidak akan bersikap terlalu buruk kepada Ziva yang selalu baik kepadanya.


Ya, Xena adalah seorang gadis yang haus akan kasih sayang. Karena dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya yang terlalu sibuk bekerja. Meski Ziva menyayanginya dan menganggapnya serta memperlakukannya sebagai adik kandung, tapi Xena tak pernah mengubris sedikit pun kebaikan-kebaikan yang Ziva lakukan kepadanya.


Beberapa menit kemudian, suara mobil ambulan terdengar oleh Xena. Xena langsung keluar dari kamarnya dengan berlari.


"Di mana Ziva?" tanya Dokter Adit khawatir.


"Ayo ikut aku," jawab Xena kembali berlari hingga masuk ke dalam kamar Ziva, Dokter Adit mengekor di belakang Xena.

__ADS_1


Tiba di kamar sempit dan pengap itu, Dokter Adit Langsung mengangkat tubuh kurus Ziva, dengan berlari dia membawa Ziva masuk ke dalam ambulan. Xena juga turut ikut kembali ke rumah sakit untuk menemani Sang Kakak.


Di dalam mobil ambulan, Dokter Adit langsung bertindak dan memeriksa keadaan Ziva. Memasangkan selang infus dan hal lainnya. "Bagaimana, Dokter? Kak Ziva baik-baik saja, bukan?" tanya Xena.


"Untuk itu belum bisa dipastikan, kamu berdoa saja," jawab Dokter mengeluarkan jarum suntikan berisi cairan insulin. Tanpa banyak bicara, Dokter Adit sigap menyingkap baju Ziva, kemudian menyuntikkan cairan insulin itu ke perut Ziva dengan sangat berhati-hati.


Setelah di suntik, Dokter Adit kembali memantau cairan infus. Tak lama berselang, Ziva pun mulia mengerjabkan matanya perlahan.


"Kak Ziva, syukurlah akhirnya Kakak sadar juga. Maafin aku Kak Ziva," tangis Xena merasa bersalah sekaligus menyesal karena sikapnya selama ini pasti membuat Ziva menderita.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2