
Beberapa bulan kemudian, tak terasa kandungan Ziva dan Xena sama-sama telah membesar dan membulat sempurna. Itu artinya, tak lama lagi keduanya akan segera melahirkan keturunan masing-masing.
Satu keluarga Talsen Baldev juga sangat bahagia akan kesembuhan Menantu mereka yaitu Ziva yang telah sembuh dari penyakitnya yang selama ini diidapnya.
Pagi itu, Ziva bangun dengan merintih kesakitan. Lolan seketika panik karena tahu apa yang terjadi kepada Istrinya saat ini. Saat itu juga, Lolan segera turun dari ranjang, mengangkat tubuh berat Ziva dan membawanya keluar dari kamar sambil berteriak memanggil Mommy dan Daddynya.
Beruntung kini mereka pindah ke lantai bawah, atas perintah Mommy Nata sendiri, sebegai persiapan agar tak kesulitan untuk membawa Ziva ke rumah sakit.
"Sayang, kenapa berteriak? Astaga!" Mommy Nata begitu terkejut melihat Sang Putra yang terlihat menggendong Ziva dengan berlari menuju keluar rumah.
Mommy Nata dan Daddy Jackson pun langsung ikut berlari menyusul Lolan yang telah pergi ke rumah sakit dengan Sekretaris Devil sebagai Supir. Pasangan yang tak lagi muda itu memilih berangkat dengan mobil mereka sendiri. Simone, Cucu angkat mereka juga dibawa bersama. Di dalam perjalanan, tak lupa Mommy Nata memberitahu Xena dan juga Bibi Aslin untuk menyusul ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Lolan langsung membawa Ziva menuju ruangan khusus yang telah dia pesan jauh-jauh hari. Saat masuk ke dalam ruangan, para Dokter terbaik pilihan Lolan telah siap siaga. Ziva pun langsung mereka tangani. Lolan tetap tinggal di dalam ruangan, dia mendapatkan tugas untuk memberikan semangat kepada Sang Istri.
__ADS_1
Sementara di luar ruangan sudah berkumpul Mommy Nata, Daddy Jackson dan Simone, Bibi Aslin, Mommy Adna, Daddy Jonas, dan yang pastinya Adit dan Xena. Semuanya menunjukkan ekspresi bahagia sekaligus khawatir.
Di dalam ruangan, Lolan begitu panik ketika Ziva semakin meringis kesakitan. Rintihan Ziva seakan juga dapat melukainya hingga dia juga dapat merasakan sakit meski tak separah sakit yang saat ini Ziva rasakan.
"Dokter, Istriku sudah kesakitan. Kenapa belum juga dimulai?" tanya Lolan kesal.
"Kita masih harus menunggu beberapa jam lagi hingga ke pembukaan terakhir, Tuan." jawab Dokter paruh baya itu. Di ruangan hanya Lolan sendiri yang laki-laki, dia sengaja memilih dokter perempuan untuk membantu persalinan Sang Istri tercinta.
"Benar, Tuan." Lolan langsung mengacak-acak rambutnya kasar, lalu kembali mengelap keringat Ziva yang terus bercucuran. Ziva terlihat tak peduli dengan apa pun, dia tetap fokus menikmati rasa sakit yang sebentar datang sebentar pergi.
"Sayang, maafkan aku," sesal Lolan, hatinya begitu sakit melihat perjuangan luar biasa dari Sang Istri.
"Aku baik-aik saja. Sudah tidak usah khawatir," jawab Ziva sambil mengatur napas dan berusaha menahan diri agar tidak mengejan karena belum waktunya.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu dan pembukaan pun telah sempurna, kepala bayi mulai terlihat. Dokter mulai menuntun Ziva untuk mengejan. Dari raut wajah serta genggaman erta jemarinya, Lolan bisa melihat sakit yang luar biasa Ziva rasakan. Tapi, Ziva terlihat menahannya karena tak ingin Lolan semakin mengkhawatirkannya.
"Sayang, berteriaklah agar kamu merasa lega. Katakan kepada bila sakit, aku mohon jangan menahannya," ujar Lolan sambil mengelap keringat Ziva yang semakin membanjir, wajah Ziva yang semakin pucat membuatnya merasa ingin menangis.
Mendengar ucapan Sang Suami Ziva menggelengkan kepalanya, kemudian berucap "Sakit!" sambil mengejan dengan kuat.
.
.
.
Guys, diakhir kalimat bab sebelumnya (191). Simone berucap "Dijual." Bukan "Disayang." jauh banget typonya ya Allah😭 Maksudnya Othor tu emaknya Simone dijual ama bapaknya sendiri. Typo Othor benar-benar meresahkan ya😭 Tapi sudah Othor repisi kok🤭
__ADS_1