
"Xena," panggil Dokter Adit.
"Apa? Aku sangat cantik, bukan?" tanya Xena dengan percaya dirinya sambil memutar tubuhnya di depan Dokter Adit yang masih tercengang—kala kagum dengan penampilan Xena yang memang sangatlah cantik dan terkesan berani di hari itu.
"Cantik sih, tapi lebih terlihat seperti pelakor di film-film," jawab Dokter Adit membuat Xena langsung memukulnya dengan tas yang menggantung di pundaknya.
"Biarin, bukankah Dokter sudah punya tunangan. Berarti statusku memang seorang pelakor. Huh! Lihat saja, lihat saja bagaimana caraku menghabisi tunanganmu itu. Lagipula, aku sengaja berpenampilan seperti ini, gunanya untuk mengimbangi Dokter, kan Dokter sudah tua," jawab Xena dengan angkuhnya. Dokter Adit hanya tersenyum serta menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku Xena yang benar-benar aneh.
"Dasar, tua-tua begini juga kamu suka."
"Suka dong, kan tampan," saut Xena to the point.
"Tapi, biasanya pelakor akan menang di awal dengan rencana liciknya. Dan akan kalah pada akhirnya. Bagaimana? Apa masih mau menjadi pelakor?" Dokter Adit sepertinya berniat ingin menguji seberapa serius Xena terhadap dirinya.
"Cecilia Humeera atau sekarang lebih akrab Dokter sapa dengan sebutan Mommy Nata (di novel Terjerat Nafsu CEO Miliarder). Bukankah dulunya beliau adalah seorang pelakor, sekarang lihat bagaimana suksesnya dia," jawab Xena mengedipkan sebelah mata, lalu menyingkirkan Dokter Adit dengan sebelah tangannya. Setelahnya, dia membuka pintu mobil dengan sendiri dan langsung masuk ke dalam mobil.
Dokter Adit yang awalnya ingin membukan pintu untuk Xena, kini hanya dapat memutar bola matanya jengah.
"Pelakor tidak manja, ayo segera masuk. Aku sudah tidak sabar ingin bersilahturahmi dengan Calon Mertua," Xena mengeluarkan kepalanya dari celah kaca mobil.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, terserah padamu," kata Dokter Adit sambil mendorong kepala Xena masuk. Dokter Adit memutari mobil, membuka pintu mobil, dan langsung duduk di kursi kemudi.
"Ayo tancap gas!" seru Xena bersemangat, Dokter Adit kembali menggelengkan kepala sambil melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Oh iya, operasinya akan di mulai kapan, Dokter?
"Kamu siapnya kapan?" tanya balik Dokter Adit.
"Besok juga aku siap," jawab Xena yakin.
"Kau ini, selalu tidak sabaran," balas Dokter Adit tetap fokus pada kemudinya.
"Apa kamu bener-benar siap dan ikhlas?" Jika Xena yakin, maka Dokter Adit ragu. Usia Xena yang masih sangat muda menimbulkan rasa khawatir di hatinya.
"Apa Dokter takut kehilanganku?" goda Xena.
"Tidak juga," kilah Dokter Adit.
"Aku ikhlas, Dokter. Kak Ziva sudah banyak membantuku dan aku sudah banyak menyusahkannya. Ini adalah saat yang tepat bagiku untuk menembus dosa serta membalas Budi," ucap Xena tulus, Dokter Adit juga dapat melihat ketulusan di mata indah Xena.
__ADS_1
"Tidak perlu takut, Dokter. Bukankah aku masih bisa hidup dengan satu ginjal?"
"Iya, tentu bisa. Tapi, kau tidak bisa bekeja terlalu keras," jawab Dokter Adit.
"Aku tetap bisa hamil, bukan?" tanya Xena cepat.
"Asal masih bisa dan kuat hamil tidak masalah, aku juga tidak mau bekerja. Aku ingin di rumah saja dan bermain dengan anak-anak kita nantinya," lanjut Xena langsung membayangkan masa-masa indah di masa depan.
"He'em. Masalah itu tentu saja bisa," jawab Dokter Adit entah kenapa tiba-tiba menjadi gugup.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil telah berhenti di sebuah Mansion yang tak kalah luas dan mewahnya dengan Mansion keluarga Talsen Baldev. Xena berjalan dengan menunjukkan ekspresi beraninya ketika masuk ke dalam Mansion dengan digandeng oleh Dokter Adit.
"Adit Sayang, kamu—"
.
.
.
__ADS_1