
Di ruang rias khusus model ternama.
"Jadi, empat hari lagi Adit benar-benar akan menikah?" tanya Kalista dengan raut wajah yang terlihat seperti akan siap membuncahkan api kemarahan.
"Benar Nona, empat hari lagi Tuan Adit akan menikah dengan gadis yang bernama Xena itu."
"Sial!" teriak Kalista menyapu semua make up yang ada di hadapannya. Beruntung Asistennya sigap menyingkir ke samping hingga make up dengan harga selangit itu tidak melukainya.
"Beraninya mereka semua mempermainkanku!" bentaknya semakin murka. Tak berselang lama, senyuman smirik tersungging di bibir sensualnya.
"Tapi, kamu sudah berhasil menjalankan rencana, bukan?" tanyanya dengan pikiran yang dipenuhi dengan rencana licik. Calya Calista tentu tidak akan terima akan penghinaan yang dia terima.
Keluarga Jonason salah orang bila hanya menjadikan dirinya sebagai mainan. Calya Calista, dia adalah wanita licik yang akan melakukan apa pun yang dia inginkan. Dia berjanji akan melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya. Calista tidak akan membiarkan Adit dan Xena bersatu.
Rencananya telah tersusun rapi, mana mungkin akan gagal. Bila saja gagal, dia masih punya seribu rencana licik lainnya. Jangankan menyakiti orang lain, membunuh orang pun akan Calista lakukan selagi itu dapat membuatnya merasa senang.
__ADS_1
"Untuk rencana itu, sudah saya jalankan semua rencana sesuai yang Nona perintahkan. Hanya tinggal hitungan jam, kabar baiknya akan segera Nona dengarkan," jawab Asistennya yang juga tersenyum smirik.
"Bagus, aku akan menuggu berita baiknya," sahut Calista tersenyum miring.
Sore harinya.
"Lo beneran mau jenguk Ana sendirian?" tanya Cristi terlihat khawatir.
"Memangnya kenapa? Gue cuma lihat sebentar aja, kok. Siapa tahu Ana udah pulang dan ada di rumah, kalau nggak ada, ya, gue langsung pulang," jawab Xena yang kini berjalan bergandengan dengan Cristi untuk pulang ke rumah masing-masing, karena jam sekolah sudah berakhir.
Ana tinggal di kontrakan kumuh di sebuah lorong terpencil dan sepi. Dari rumah Ana, harus berjalan sekitar lima belas menit barulah menemukan keramaian. Cristi ragu Xena akan ke sana, karena jelas sebentar lagi malam akan datang dan di jalan ke sana pasti akan sangat menakutkan untuk perempuan seperti Xena. Lain bila itu Ana, Ana sudah terbiasa keluar masuk lorong itu. Bahkan, Ana kenal beberapa preman di sana. Pergaulan bebas Ana memang tidak bisa diragukan lagi.
"Gue takut, sih. Hehe ... Makanya Lo temenin gue, jobnya cansel aja dulu, kan bisa besok-besok lagi. Ana lebih penting, Cristi. Pikiran gue nggak tenang, gue merasa terjadi sesuatu yang buruk kepadanya," jelas Xena berharap Cristi akan ikut menjenguk Ana bersamanya.
"Nggak bisa di cansel, Xena. Ini pengusaha kaya raya, gue bisa dapat uang berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya, mana mungkin gue cansel. Rugi gede dong."
__ADS_1
"Ayo buruan jalannya, gue antaran sampe lorongnya, gue buru-buru ini," ajak Cristi langsung menyeret Xena untuk masuk ke dalam mobilnya.
Tiba di lorong sempit menuju rumah Ana, hari sudah mulai gelap. Cristi awalnya ragu meninggalkan Xena sendiri, namum Xena tetap keukeuh ingin menjenguk Ana.
Memberanikan dirinya, Xena mulai berjalan menuju rumah Ana. Lampu-lampu kecil tersedia di lorong kecil Itu, tapi tetap saja suasananya tetap gelap dan seram.
Xena merasa ingin mundur, karena tiba-tiba merasa takut, tapi sudah tanggung karena dia sudah berjalan separuh jalan. Tak lama lagi dia akan tiba di rumah Ana yang atapnya sudah mulai terlihat.
"Saiapa di sana? Aaaakkkh ....
.
.
.
__ADS_1