
Satu-satunya transportasi yang bisa Angel gunakan untuk menempuh ke desanya yaitu kereta. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama hingga ia beberapa kali tertidur.
Matanya dibuat mengerjap saat pemberitahuan. Sampai! Dia sudah sampai. Dia harus bersentuhan dengan para penumpang lain menuju pintu keluar.
Aduh kenapa harus dorong-dorong sih, yang sabar semuanya juga mau lekas. Hampir saja aku terjatuh.
Menggerutu dalam batin kesal dengan tingkah para penumpang yang tidak Budiman sekali. Dari pada berdesakan akhirnya Angel memilih mengalah dan menunggu lenggangnya dari para manusia yang sudah tidak sabar menghirup udara.
Apa ibu dan ayah benar-benar menunggu ya. Aku sangat merindukan mereka.
Membatin lirih. Segera ia menjejal langkah, sorot mata polosnya tertuju pada pintu. Pintu itu nampak seperti pintu kebebasan. Dengan satu tangan lain ia memegang koper miliknya.
Desa yang dirindukan!! Angel datang.
Huwaa terpaaan Angin menyentuh permukaan kulitnya, gelenyar rasa dingin nan sejuk membuat dia belama untuk memejamkan mata menikmati.
“Nak.”
“Kak.”
“Anakku.”
Sumber suara menyentaknya dari keheningan. Itu dia wajah yang dirindukannya. Wajah yang selama berbulan-bulan ini hanya bisa dihubungi melalui ponsel. Rasa rindunya menyeruak hingga membuat ia berlari menuju ke arah sumber suara.
Itu ibu! Ayah dan satu lagi si tengil Juna adiknya. Matanya dipenuhi rasa haru dan hati yang menghangat.
Ia sudah menghambur memeluk ibunya.
“Selamat datang nak.” Sambutan suara lembut kembali membuat hatinya menghangat dan berbunga-bunga. Mungkin ini adalah hikmah dari musibah yang ada. Dia dipercepat untuk dipertemukan dengan orang tua tersayangnya.
“Ayah.” Beralih memeluk sang ayah. Suara berat dan elusan lembut di kepala ini, Angel betah sekali.“Iya, putri ayah kurusan ya...haha.”
“Kurus gimana sih yah, ini putri kita temukan kayaknya.” Ibu membela Angel.
Gelak tawa mewarnai penjemputan Angel. Lah si tengil cemberut mau dapat bagian pelukan juga.
“Kak...Juna dari tadi nungguin giliran, kok ayah sama ibu aja yang dipeluk.” Mengerucutkan bibir. “Aduhh duh adek ku ini sini peluk juga.” Tertawa senang sudah mendapatkan bagian pelukan.
“Sudah-susah ayo kita pulang.” Suara ayah mendapat sambutan senyum di setiap wajah. Ini lah dia keluarga kecil Angel yang sederhana. Keluarga manisnya yang hidup dalam ketenangan, dan bahagia dalam hal yang paling sederhana.
“Yah Angel rindu .”
“Duh ayah juga rindu sama putri ayah.” Suara berat namun terkesan ramah semakin membuat Angel kegirangan.
Masih sembari berjalan dan berpelukan, Angel berada di tengah dihimpit oleh ibu dan ayah, si tengil nyempil di belakang tukang bawa koper.
“Ibu?” Senyum mengambang ibu membuat Angel juga tergelak ditempat.“Ibu juga haha.”
Tawa tawa tawa tawa dan tawa.
***
Wah wah warga heboh sekali sudah seperti kedatangan artis. Ya memang sih, jika diibaratkan Angel ini bunga desa mereka. Ayah Angel juga merupakan kepala desa jadi beliau dihormati dan banyak warna sapaan menuju perjalanan menuju rumah.
Desa Angel yang arsi, berada di daerah pegunungan, Seluas mata memandang sudah di manjakan dengan pegunungan.
__ADS_1
Wah Angel semakin bersemangat ingin menikmati waktu di desa seperti dulu.
Perhatian tertuju ke arah Angel. Ini bagaikan sebuah pameran, wajah Angel sungguh mahal untuk dilihat. Tatap beberapa detik saja mata pak kepala desa sudah menghunus tajam.
Para pemuda yang sedang nongkrong di warung kopi nampak membicarakan Angel.
“Wah itu Angel kan.”
“Iya makin cantik ya.”
“Itu wajahnya murni sekali, memang pantas jadi bunga desa kita.”
“Memang cantik sekali, tapi kepala desa membuat nyaliku ciut untuk mendekatinya.”
“Iya ,pak kepala desa kan tegas sekali, dari dulu aku tidak berani menggoda anaknya karena beliau.”
Wah baru saja lewat si bunga desa sudah makin banyak pengagumnya. Namun jangan disangka mudah mendekati anak pak kepala desa.
Beteng bak pertahanan Korut Ayah letakkan. Bahkan saat Angel tinggal di kota beliau tak pernah lelah menghubungi sang anak. Walaupun perjuangan naik genteng cari sinyal yang bagus.
Para kandidat pria, mundurkan jika nyali kalian seperti kapas. Mudah tertiup melayang dan terhempas.
***
Pintu ruangan di buka, tidak berbeda dengan saat ia tinggalkan semua benda tatap berada pada tempat yang sama. juga kamarnya yang bersih. “Pasti ibu yang membersihkan.”
“Hmm kamarku.Aku merindukanmu, huwaa kasur kesayanganku.”
Menghambur merebahkan diri di atas kasur. Si Juna menjadi pembawa koper dadakan, masuk nyelonong dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan si kakak.
“Sungguh kekanakan sekali. Apa sebegitu senangnya melihat kasur.” Gumam-gumam mencibir.
“Makasih ya adek ku sayang.” Uluh-uluh jangan harap bisa sayang-sayangan jika nanti sang pemilik tiba, Babang Hans prasetyo cemberut tingkat dewa nanti. Sudah bisa dibayangkan raut wajah Hans yang pastinya melotot sudah terpasang.
“Iya...Ehm oleh-olehnya mana.” Duh pantas saja tadi manusia sekali waktu di kereta.“Biar Juna yang bawa kak.” Membusungkan dada. Rupanya ada maunya.
Kekehan geli keluar dari mulut Angel. Juna begitu bersemangat.“Asyik...kakak beliin yang aku mau kan.”
“Gak tuh.” Hah?! Juna langsung lesu tak berminat lagi bongkar koper si kakak.
Angel menahan tawanya.“Gak kakak beliin...tapi kak Hans yang beliin tada.”
Mengangkat sebuah kotak yang entah apa isinya Angel tidak paham.
“Wah ini kan keluaran terbaru...wah wah wah...gak nyangka!! ” Di bolak-balik lihat, senyum,ketawa. “Calon kakak ipar hebat.” Berteriak kencang.
Mata Angel dibuat membulat seketika, Langsung saja tangan Angel reflek menutup mulut Juna.“Sttt kamu ini ya dek, jangan berisik gitu, nanti ayah denger. Bisa gawat.”
Mata Angel melihat ke arah pintu takut jika saja ayah sudah mendobrak karena mendengar seruan Juna.
“Kakak belum cerita tentang kak hans. Jadi jangan ribut. Kakak Hans nya juga belum perkenalan diri sama ayah.” Juna membuat gerakan mulut mengerti dan mengangguk.
“Maaf.” Angel menghembus nafas lega. Tidak ada tanda pendobrakan pintu. Juna lirik-lirik takut ke arah kakak kesayangan.
Memangnya apa bedanya, ayah juga sudah tau kan baju yang banyak kemarin di introgasi sama pak kepala. Aku dituduh mencuri sama ayah udah dibawain golok. Terpaksa Juna cerita deh kak...maaf kak juna tidak setia.
__ADS_1
Akhirnya beliau tau kakak udah punya pacar. Tapi ayah milih diam nunggu kakak cerita. Aduh kakaku ini kayak gak kenal sama ayah sendiri .
“Wah ini luar bisa kak...huuu ini barang yang diluar ekspektasi ku...makasih buat calon kakak ipar lagi.” Duh Juna itu juga sogokan lah.
Saking banyaknya barang yang diberikan ibu Hans, koperku jadi kembung seperti ini.
Bayangan kehebohan mama Rina terlintas di otaknya hingga membuat ia tertawa kecil.
Dia kemudian berlalu pada si adik yang berisik sekali.
“Ya, ya udah sana kakak mau istirahat.”
Mengusir si adik yang terlalu berisik membuat gendang telinga mau pecah.
***
Disinilah Angel berteduh sedari kecil, tumbuh besar dengan keluarganya. Sang ayah bernama asli Yoto namun sering dikenal sebagai kepala desa. Pun ibu Angel yang dikenal sebagai Bu Nina istrinya pak kepala desa.
Rumah Dua lantai milik keluarga Yoto ini yang paling bagus di antara yang lain di desa. Sumber paling banyak untuk rehap rumah berasal dari Angel. Gaji Angel sebagai sekretaris CEO tidak main-main. Itulah yang membuat orang tuanya bersyukur dan sangat menyayangi putri pekerja keras mereka.
Gorden jendela Angel buka. Decak kagum kerinduan ia Lesatkan. Wah inilah yang paling ia sukai di desanya.tidak perlu pergi jauh untuk mendapat pemandangan yang indah. Cukup buka jendela, sang jingga sudah menyambut.
“Indah sekali, sang jingga Angel datang!! Ayo kita mengambil gambar…” Sudah geli-geli dengan tingkahnya. Satu tangan lain sudah mulai potret-potret dari segala sudut. Sang jingga menjadi objek utama.
Setelah puas menikmati sang jingga dengan tangan bertumpu pada tepian jendela. Mata Angel mengarah ke bawah depan rumah. Dahinya mengernyit.
“Kenapa mereka berkumpul, apa ada yang menarik. Apa melihat ayah menyiram tanaman menarik ya...haha...” Heran dengan situasi di depan rumah. Banyak laki-laki dengan gaya yang berbeda hilir mudik bak model. Si tukang pentol ikut juga hilir mudik.
Duh sudahlah aneh sekali pikirnya.
Berbalik dan memilih untuk mandi.
Oh apa Hans ku bisa mengambil hati ayah ya?
Semoga saja...aku juga akan berusaha bercerita sekilas tentang kamu Hansku...jadi selama aku mencuri-curi waktu untuk bercerita tentang kita... bergegaslah kamu datang. sebelum ayah mempertanyakan keseriusan kamu.
Putri semata wayang telah diikat secara tidak resmi dalam sebuah pertuangan. Entah bagaimana nantinya respon beliau. Beliau yang selalu membuat benteng pertahanan kuat untuk melindungi sang putri. Akankah beliau menyambut Hans Prasetyo dengan lapang dada dan bersama menjadi garda terdepan bentang pertahanan. Ataukah Hans Prasetyo akan tetapi berada di luar benteng pertahanan nantinya.
***
Epilog.
Demi mau mendapat perhatian si bunga desa yang baru saja datang dari kota. Para laki-laki berbondong mencari perhatian, berjalan-jalan di sekitar rumah pak Yoto, kepala desa.
“Wah bunga desa melihatku tadi.”
“Dia melihatku.”
“Bukan!, aku yang dilihatnya.”
Sibuk berseteru padahal yang melihat dari atas hanya sepersekian detik, kemudian memilih berlalu tidak ada minat memperhatikan lebih lama.
.
.
__ADS_1
Happy reading
~Tyatyut