
“Saya menawarkan diri menjadi calon pengantin Anda, Kenan Prasetyo.”
Ken terkejut mendapati tawaran yang terdengar santai dan angkuh itu. Perempuan ini sepertinya berpikir dia akan menerimanya dengan tangan terbuka. Senyum itu tersemat tanpa malu. Unjuk diri dengan dada yang membusung.
Sedang Bu Kila menahan senyum. Di samping sang anak. Matanya penuh ambisi besar. Ah siapa yang tidak mau berbesan dengan keluarga Prasetyo.
Keluarga yang terkenal tajir melintir. Sungguh sebuah anugrah bagi mereka jika bisa ikut bergabung dengan keluarga Prasetyo.
Bu Kila tidak kuasa menahan senyumnya, dia bahkan menutup senyumnya dengan tangannya.
Hans mengamati situasi. Raut wajahnya terlihat tidak suka sama sekali. Dia tidak suka cara perempuan itu yang menyodorkan diri.
Anggun sudah merencanakan ini. Dia sudah sangat yakin tawarannya tidak akan ditolak Ken. Dari segi manapun dia sudah sempurna. Info yang di dapatnya mengenai Ken sangat detail.
Dia sudah mempersiapkan diri sesuai dengan keinginan Ken.
Saat senyum anggun semakin melebar...
Tidak hanya itu matanya pun sekarang ikut MELEBAR! Bukan karena dia mendapat jawaban yang diinginkannya dari Ken. Melainkan...
Sikap Ken yang tiba-tiba saja menarik gadis di sampingnya.
Apa? Apaan ini?!
Ken memandang lurus pada Anggun dan memeluk Ayana dengan erat. Kedua lengan Ken memeluk seputaran bahu Ayana. Melingkar sempurna disana. Senyum Ken segera mengembang.
Angel sang mommy terkejut melihat itu. Sama halnya dengan Hans. Dia tidak percaya anaknya akan menjawab melalui tindakan.
Ayana terpaku. Dia tidak bisa lepas dari pelukan Ken.
“Apa yang kamu lakukan Ken,” bisiknya pelan, dan hal itu hanya terdengar oleh Ken. Sebab gerak bibirnya pun tidak jelas sama sekali.
Ayana bisa menangkap raut wajah menegang dari semua orang. Bukan hanya di perkumpulan mereka. Dari setiap sudut ruangan dia disoroti dengan tatapan memebalalak. Tiba-tiba tubuhnya merasa menggigil.
Dia tidak nyaman dengan situasi ini.
Apa yang Ken sedang lakukan. Kenapa dia malah memelukku. Gigi Ayana bergemeltuk tidak senang. Tangannya menjadi dingin.
Dia tidak suka disoroti. Diteliti, dan diamati. Namun hal itu di dapatkannya sekarang.
“A-apa yang Anda lakukan sekarang?” Anggun mengeram. Dia tidak sama sekali memindai Ayana sebagai saingannya. Namun sajian adengan di depannya sekarang. Sungguh patut dipertanyakan.
Ken tidak mungkin bertindak begitu hanya karena ingin. Pasti ada yang ingin ia tunjukkan. Dan itu terarah padanya.
Gadis itu tidak punya sinar sama sekali, menurut penilaian Anggun. Bahkan orang mungkin hanya sekali melihat kearahnya kemudian mengacuhkannya. Berbanding terbalik dengan Anggun yang selalu disoroti oleh orang-orang.
“Apa ini kurang jelas?”
“Apa perlu adengan ciuman di sini?” Ujar Ken.
Hal itu merupakan ucapan telak. Bahwa gadis yang ada di pelukannya ini bukan gadis sembarangan.
Tubuh Ayana menengang. Dia memejamkan matanya.
“Saya sudah memiliki calon pengantin, nona anggun. Dan tawaran Anda saya tolak.” Ken berucap dengan sangat tenang. Namun hal itu mengguncang dan serasa mempermalukan Anggun.
Sebab semua perhatian tertuju ke arah mereka sekarang. Alex menggeleng dari jauh melihat aksi wanita itu.
Dia melakukan hal yang sia-sia. Batinnya.
Ayana membelalakan matanya terkejut. Otaknya mulai paham dengan tindakan Ken.
“Anda menolak saya karena gadis ini?” Tatapan anggun terang-terangan merendahkan Ayana.
“Gadis kucal yang bahkan tidak bisa memoles make up. Ha ha dia tidak cocok sekali dengan Anda tuan. Anda itu berkelas.”
“Jaga Bicaramu!” Ken bersuara tegas. Membuat anggun termundur karena gemetar. Tatapan Ken yang gelap membuat seluruh sendinya merasa ketakutan. Senyum yang sudah berusaha ia ulas sejak tadi memudar. Ekspresi tenang anggun yang sejak tadi berusaha ia perlihatkan lenyap.
Ia meneguk salivanya dengan keras.
“Cocok atau tidak itu adalah penilaian saya. Anda tidak punya hak sama sekali ikut Andil di dalamnya.” Tegas Ken. Hal itu malah memicu rasa kesal dalam diri Anggun.
Karena kesal dan merasa di permalukan Anggun yang tadi melihat pramusaji membawa minuman segera mengambilnya.
Minuman ini akan ia lemparkan pada wajah Ayana. Senyumnya teulas bagai iblis wanita.
“Rasakan ini.” Ucapnya sebelum melemparkan cairan itu agar mengenai Ayana. Dia sudah tertawa senang.
Namun...
Dia salah sasaran!
Tangan yang tadi memegang gelas kaca itu, tiba-tiba melemah. Tubuhnya bergetar. Mata semua orang terkejut melihat hal yang baru saja dia lakukan.
Bukan hanya semua orang! dirinya pun bahkan terkejut juga!
Sekarang Dia akan mati!
“Apa yang sedang Anda lakukan sekarang?! Berani-beraninya dirimu membuat tubuh istriku basah!” Suara Hans menggelegar! Dia tidak percaya perempuan muda itu membuat gara-gara dengan istrinya.
Ya! cairan itu mengenai Angel Rasinta Prasetyo. Istri tercinta dari Hans prasetyo. Tuan rumah dari kediaman besar ini.
Angel pun sama tercengangnya. Matanya mengedip.
“Aduh, ini air apa sayang. Mataku rasanya sakit.” Angel menggosok-gosok matanya.
Hans segera cemas dengan kondisi istrinya. Dia berusaha semampunya mengelap cairan itu dari wajah istrinya. Ken dan Ayana menghampiri posisi Angel.
Gawat!
Bu Killa dan Anggun sudah hendak kabur. Mereka sudah sangat membuat kacau sekarang.
“Mau kemana Anda berdua.” Alex sudah menghadang dan menahan dua orang itu. Membuat mereka tertahan. Tangan mereka dicekal oleh Alex.
Nara mendekat ke arah sang mommy.
__ADS_1
“Biar aku bawa mommy ke atas dad.” Ujar Nara mengambil alih.
Hans tidak melepaskan tahapan cemasnya dari sang istri. Mata Angel sulit terbuka.
“Kalau sampai mata istriku buta karena perbuatanmu! Siap-siaplah mendekam dipenjara!”
Anggun bagai tersambar petir ketika mendengarnya. Kerongkongannya sudah sangat sulit untuk meneguk saliva. Dia takut, dia gemetar.
Keriuhan karena cemas dan ingin mendekat membuat acara menjadi kacau balau.
“Usir saja dua perempun itu Lex! Mereka tidak akan bisa kemana-mana.”
Karena Hans punya kuasa.
Hans memiliki banyak koneksi. Jadi meski dua orang itu bersembunyi sekalipun Hans akan menemukannya.
Sekarang dia ingin sekali menampar dua orang itu! Kegiatannya bertambah sekarang.
“Panggil, Daren Ken.” Pinta Hans pada sang putranya itu. Ken menurut dan melakukan hal itu. Dia menaiki tangga dan menyusul sang daddy.
Hans menggendong istrinya dengan cemas.
Nara dan Ken pun sama cemasnya.
Sedang Alex mengusir Bu Killa dan Anggun dengan sangat kasar. Mereka bahkan tidak diijinkan membawa mobil yang memang mereka miliki.
Semua kekecauan itu bagai sekelabat angin lalu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Sekarang Ayana tercenung di tempat. Dia ditinggal begitu saja oleh Ken. Ken seakan lupa dengan dirinya. Ah, bukannya hal itu sudah biasa? Dia memang sering tidak di anggap.
Tiba-tiba aja dia memperhatikan kondisinya sendiri. Dia yang tampak menyedihkan.
Ayana berbalik. Semua mata nyatanya masih memiliki sorot ketertarikan padanya. Ayana tidak nyaman dengan itu. Ayana melangkah lebar-lebar ingin keluar saja dari rumah megah ini.
Ah dia di manfaatkan.
Ken tidak menyukai wanita itu, dan dia dimanfaatkan, digunakan sebagai alasan penolakan.
Meski lega karena kecemasannya tidak terjadi, namun dia tetap merasa sesak. Sejak awal dia memang tidak pernah bermimpi akan menjadi pasangan seorang Ken.
Dibawah temaran itu Ayana berdiri dalam diam. Merenungi sikapnya yang perlu diperbaiki.
Ayana memutuskan untuk pulang saja. Namun sebelum itu sebuah suara memangilnya.
“Ayana.” Itu Ken. Laki-laki itu tampak terengah-engah ketika bisa berdiri di depannya.
“Maaf sekali aku melupakanmu, aku tadi terlalu cemas dengan kondisi mommy.” Jelas Ken dalam satu tarikan nafas.
“Iya ken.” Sahut Ayana singkat. Mata Ken menyipit melihat sikap Ayana.
“Aku tau kau pasti terkejut dengan yang tadi bukan?” Ken tampak menggaruk tekuknya dengan gugup.
“Begini Ayana...Aku...”
“Apa?”
“Aku tau kamu tadi hanya menggunakanku dan aku tidak masalah Ken. Senang bisa membantumu.” Iris mata Ayana tampak melemah. Kebalikan dengan kata yang terlontar dari mulutnya. Hatinya dihantam rasa sesak.
Kenapa sejak tadi hatinya jadi tidak karuan begini.
“Apa kau pikir tadi itu palsu?” Tanya Ken tidak percaya.
Ucapan Ken sontak membuat Ayana mendongak lebih agar leluasa melihat wajahnya. Raut wajah Ken terlihat kecewa.
“Tentu saja, aku paham Ken, aku paham.” Ucap Ayana. Menahan rasa sakit.
“Di depan orang tuaku Aku mengakuimu sebagai calon pengantinku! Apa kamu pikir itu main-main Ayana?” Suara Ken meninggi dan menyiratkan kekecewaan.
Ayana hampir termundur namun Ken memerangkap Ayana dalam pelukannya.
“Apa kamu pikir tadi itu sandiwara? Apa kecemasanku waktu itu juga kamu pikir sandiwara?Hem? Benar begitu Ayana?” Degup jantung Ayana dibuat tidak karuan.
Ayana menelisik raut wajah Ken.
“Ken, jangan becanda.”
“AKU TIDAK BERCANDA AYANA! AKU MAU KAMU MENJADI CALON PENGANTINKU! ” Suara Ken memekikan telinga Ayana.
Sorot kesungguhan nyata di manik mata Ken. Ayana tidak mampu berkat-kata. Ditambah dengan tubuh mereka yang saling menghimpit. Namun sebelum Ayana bisa menjawab.
Suara ponsel berdering dari tas milik Ayana.
“Le-lepaskan dulu ken.” Pinta Ayana. Untunglah Ken menurut dan melepaskan Ayana.
Ayana pikir penggilan ponsel itu adalah penyelamatnya. Namun...nyatanya itu hanya menambah kerumitan pikirannya.
Dia segera mengangkat panggilan itu.
[“Bu Aya, mohon segera datang ke rumah sakit. Ibu Anda menggila sekarang.”]
Ayana serasa dihantam oleh kesadaran. Kesadaran yang memukulnya dari alam ketenangan.
“Apa yang tejadi?”
“Ken, tolong antar aku ke Rumah sakit jiwa, Sekarang!” Pinta Ayana.
“
***
~Rumah Sakit Jiwa
Ayana melangkah lebar-lebar. Melewati lorong rumah sakit yang begitu panjang itu. Kecemasan seakan tidak surut dari manik matanya. Ken mengikuti langkah tergesa Ayana. Berkali-kali pun Ken berusaha membuat Ayana gara bejalan pelan. Ayana tidak mendengarnya.
Ken memilih mengikuti Ayana.
__ADS_1
Langkah Ayana semakin lebar ketika semakin dekat.
Dadanya rasa dipenuhi dentum-dentum ketakutan.
Suara teriakan sudah mulai ia tangkap. Matanya terpejam sebelum melangkah lebih cepat dan...
“Mana suamiku! Awas! Aku mau menemui suamiku! Lepaskan! Lepaskan aku!”
Suara itu berasal dari sana. Dari sosok yang sekarang tampak membuat semua orang kelimpungan.
Perawat terlihat hempir taejatub karena si wanita terus memberontak.
“Iya-iya nanti ketemu ya bu.” Bujuk si perawat.
“Aku maunya bertemu sekarang! Aku ingin bertemu dengan suamiku!”
Rasa panas sudah menjalar di pelupuk mata Ayana. Pintu itu terbuka lebar.
“Bu.” Panggilnya lirih. Semua orang segera melihat ke arahnya. Ayana berusaha mengulas senyum ditengah manik mata yang sekarang akan menumpahkan cairannya.
Wajah ibunya terlihat berbinar. Ayana kira ibunya akan menyambutnya. Namun...
“Hei nak, tolong nak bilang sama mereka ini tolong lepaskan saya. Saya mau keluar dan menemui suami saya. Suami saya pasti sudah pulang kerja sekarang.”
Itu bukan sambutan untuknya. Wanita itu, wanita yang sudah melahirkannya itu malah memikirkan suaminya. Suami...yang...akhh...tidak pantas di sebut suami.
“Dari pada menemui suami ibu, apa ibu tidak mau bertemu dengan anak ibu, Hem?” Ayana berkata lirih.
“Anak? Astaga aku tidak punya anak, kami baru saja menikah nak, makanya tolong bantu agar orang-orang ini melepaskan ku.” Pinta ibunya yang tampilannya sudah sangat acak-acakan.
Tamparan rasa sesak itu seakan berkali-kali lipat. Bulir air mata tak lagi menggenang, namun sudah merembes habis. Menjatuhi pipi.
“Tidak bisa kalau begitu, ibu tidak di ijinkan bertemu dengan suami ibu.” Sahut Ayana.
Dan sahutannya itu membuat sang ibu semakin menggila.
“Aku tidak butuh injinmu! Kalian semua juga, cepat lepaskan aku sekarang! Aku ingin bertemu dengan Bowo suamiku.”
Tangan Ayana terkepal. Kejadian berulang ini selalu saja menyakitinya.
“Kumohon bu!” Teriaknya membuat semua orang tertuju padanya.
Ken tercekatnya melihat apa yang tersaji di depanya.
Ayana biasanya selalu bisa menahan emosinya. Namun sekarang...
“Berhentilah berteriak begitu! Laki-laki itu tidak lagi mencintaimu! Itu semua hanya tinggal bayangnya saja! Kumohon jangan begini sadarlah!” Ayana berteriak frustasi menjerit-jerit di tengah kamar pasien milik ibunya.
“Laki-laki yang sekarang mau ibu temui itu sudah bahagia! Dia keji meninggalkan kita dan malah bersama dengan selingkuhannya! DIA SELINGKUH IBU! DIA BERSELINGKUH! ...”
Kejadian ini selalu terulang. Rasa sakit dan menyedihkan seakan membaur. Ayana selalu merasa sakit ketika melihat ibunya yang menggila sebab teringat sang ayah.
“Seharunya simpan juga kebencian dalam otak ibu, supaya tidak terlihat menyedihkan begini. Jangan lagi, menyebut nama laki-laki itu. Dia bukan lagi suamimu.”
Benar kata orang. Mencintai secukupnya saja jangan berlebihan, agar sakitnya pun seperlunya saja.
Sang ibu terpaku, terdiam. Para suster mulai sedikit merasa tenang karena tidak lagi mendapat goncangan. Namun mereka tetap siaga.
“Kumohon ditengah kegilaanmu itu, lebih baik ibu ingat saja aku. Ingatlah aku Bu. Ini aku Ayana. Coba ingat aku, anakmu ini” Ayana menepuk dadanya dengan keras. Lihatlah, seharusnya ibunya mengingat dia saja! Ingat dia yang selalu bersama sang ibu! Selalu menemani sampai-sampai rasa ingin menggila juga.
Ken menyandar pada dinding. Bisa merasakan kesedihan Ayana. Tubuhnya tidak mampu bergerak lebih.
Mata sang ibu membulat, lalu binar-binar mata penuh keceriaan tersemat di sana.
Ayana berharap kali ini dia diingat...
Dia memohon...
Semoga ibunya mengingatnya....
“Kau Ayana? Putriku.” Lirih ibunya, sepertinya sejenak ibunya teringat pada Ayana.
Tangis pilu Ayana semakin nyaring.
“Hiks...hiksss...i-iya, ini aku Bu, anak yang sudah ibu beri nama dengan begitu indah...Ayana Humaira...Putri ibu satu-satunya.” Ayana mendekat dengan tergesa.
Tangan ibunya terbuka lebar.
Setelah...
10 Tahun...
Ibunya ...baru mengingatnya lagi...
“Anakku, Ayana? Ya Tuhan hiks...kamu tumbuh besar ya nak.” Ibunya benar-benar mengelusnya. Kali pertama yang membuat rasa beban karena hidup serasa sendirian di dunia ini bagai terangkat. Elusan lembut dikepala. Dan ciuman...
Ayana harap ini bertahan lama...
Dia memeluk dalam-dalam sang ibu. Mencurahkan segenap kerinduan.
Dan detik itu juga Ayana tersadar, betapa dia sangat tidak sempurna untuk seorang Kenan Prasetyo.
Pasti Ken akan menajuhinya sekarang. Karena Ayana memiliki seorang ibu yang punya kelainan jiwa.
.
.
.
Capek nulisnya ya Allah...
Apresiasi dung...
Komen, like...vote...kasih hadiah...
__ADS_1