
“Ken, tumben kamu turun dari kamar sepagi ini?” Angel menatap heran putra kesayangannya itu. Dia menghentikan jari tangannya yang tadi mengoles selai kacang pada roti.
Ken mengulas senyum dan mencium pipi sang mami.
“Lagi bersemangat aja mom.” Sahut Ken santai.
“Semangat kenapa ini?” Hans sang Daddy pun baru turun dari kamar, menghampiri sang istri lalu menciumi Angel, melebihi cara Ken memberikan kecupan selamat pagi.
“Sudah-sudah.” Angel menghentikan tindakan suaminya itu.
Selalu saja memberikan ciuman bombardir kalau anaknya sedang memberikan salam pagi. Hei tolonglah Hans Prasetyo kurang-kurangi tingkahmu itu.
Ken hanya memutar bola mata melihat itu.
“Ya semangat aja Dad.” Sahut Ken.
“Roti pertama untukku sayang.”
Angel tidak jadi menyerahkan roti pada Ken.
Ken mendengus, sedang Angel sang mommy hanya geleng-geleng kepala. Sejak Ken beranjak dewasa Hans tidak mau mengalah pada putranya itu, selalu ingin dijadikan yang pertama oleh istrinya.
“Apa? Sudah cukup masa kecilmu itu menguasai istriku. Sekarang tidak lagi.” Hans bersungut.
“Dad, aku tu mikir ya, jangan sampai ada kembaran Daddy di dunia ini.”
“Lah emangnya kenapa Ken?” Nara bertanya heran, sejak tadi dia hanya leha-leha menunggu bibi pembantu selesai menyajikan yang ia inginkan.
“Iya memangnya kenapa? Malah bagus kan laki-laki seperti Daddy ini Unlemeted Edition. Mommy Angelmu bahkan senang sekali ketika mendapatkan Daddy di hari pernikahan.”
“Hans!” Angel merasa malu dengan penuturan super percaya diri suaminya itu. Padahal Angel ingat sekali di waktu pernikahan dirinya memang tidak punya pilihan lain menjawab sangat bersyukur karena mendapat laki-laki yang paling di inginkan di abad ini.
Lihatlah sekarang, Hans selalu bercerita dengan kedua anaknya itu seperti dirinya di masa muda yang begitu menggilai Hans. Padahal semuanya itu pun tidak dipercayai oleh kedua anaknya. Mereka bisa menilai bahwa Daddy Hans mereka yang paling mencintai mommy Angel, bukan sebaliknya.
“Itu hanya sebagian kebanggan yang mommy dapat, Dad. Kalau sampai benar-benar ada kembaran Daddy di dunia ini, yang memiliki sifat narsis dan posesif yang sama. Maka aku perlu merasa kasihan dengan wanita yang akan menjadi pendampingnya.”
__ADS_1
“Bukannya kamu duplikat daddymu Ken.” Sela Angel.
“Mana ada mom!” Segera membantah, Ken memang sejak kecil tidak mau disama-samakan dengan Daddynya.
“Iya anakmu memang mirip denganku sayang. Jadi tampaknya kita perlu mengasihani dirinya.”
Nara, Angel dan Hans tergelak di meja makan. Sedang Ken memasang raut wajah masam.
“Daddy!” Tidak terima.
“Sudah-sudah Ken. Sekarang mommy mau tanya gimana kamu udah mulai mencari calon istri untuk kamu kan?”
“Calon istri? Kamu lagi cari calon istri?” Nara mematikan terkejut.
“Iya, mommy kebelet.”
“Ken, gunakan kata yang tepat.” Hans memperingati. Hans sudah tau bahwa istrinya itu ingin sang putranya segera mendapatkan istri tidak tenggelam dalam kesendirian.
Sudah cukup putri kita tidak punya semangat untuk menikah. Jangan sampai piutang kita pun ikut.
Itulah penuturan Angel ketika Dirinya ingin membantah niat Angel yang seperti menyudutkan putranya. Ternyata hal itu di dasari oleh putri mereka Nara. Ah mengingat Nara, Hans jadi mengingat sesosok laki-laki kurang ajar yang menyakiti anaknya di masa lalu.
“Apa? Secepat itu?” Angel mendekati putranya dan meneliti raut wajah putranya itu.
“Kamu jangan main-main ya Ken. Awas saja membawa wanita tidak baik ke rumah hanya karena Mommy minta kamu segera mencari pendampinging.”
“Iya Ken, jangan main-main ini mengenai masa depan kamu.” Hana berucap serius. Menghujam penuh kesibukan pada manik mata anak kebanggaannya itu.
“Tenang aja mom, calon menantu mommy ini bahkan sudah Ken kenal sejak dulu. Sekarang hanya perlu beberapa proses lagi.” Ken tersenyum misterius. Senyum yang Angel lihat ketika Hans di masa muda meringseknya dengan segala tindakan. Membuat Angel terhimpit dan tidak bisa berpaling dari sosok Hans. Dan pada akhirnya Angel menjadi istri Hans.
Hei, tampaknya wanita yang menjadi targetnya akan bernasib sama denganku di masa muda.
.
.
__ADS_1
.
Epilog
Malam setelah aksi mencubit pipi Ayana, Ken meminta dipanggilkan Aldo putra dari omnya Daren. Yang sekarang menjadi dokter pribadi keluarga mereka.
“Kau yakin? Apa benar tidak ada yang salah dengan syaraf tubuhku?” Menatap serius pada Aldo.
Aldo merasa kesabarannya terkikis, di malam buta yang sebagian orang jadikan sebagai waktu untuk istirahat—, dirinya malah harus terjebak melayani tuan muda dari keluarga Prasetyo ini hanya karena—,Pasal tangan yang mencubit. iya gerakan tangan wajar yang mengapit bagian pipi.
“Iya Ken tidak ada yang salah, itu tindakan implusifmu sendiri yang berasal dari otakmu.”
Berhenti berdebat atau kau ku berikan obat agar mati secara perlahan.
“Coba kau periksa sekali lagi.” Menyodorkan tangannya.
“Hei kau sekarang dinyatakan baik-baik saja, kenapa malah ingin mendapat diagnosa memiliki kelainan syaraf. Kalau aku mendiagnosanya begitu maka akan ada kemungkinan kau gila. Karena syaraf mu terganggu ”
“Kau yang gila! Sembarangan mendiagnosa.”
Iya aku gila, aku gila menghadapai keluarga Prasetyo. Ah tampaknya papa memang sangat bekerja keras dalam mengabdi dengan keluarga Prasetyo.
Sial tenyata ini yang dimaksud papa, kau akan dibuat gila oleh keluarga itu jadi kau harus menahannya.
“Papa!!”
.
.
.
Jangan Lupa pencet like ya semua...
Terima kasih yang bersedia ngasih like..
__ADS_1
Baca novelnya jangan ditumpuk ya, solarnya itu akan berpengaruh pada level novelnya. Bayu yok menaikan progres novel, kasih like, kaish komen...
Ayo kita kawal novel Ken sama Ayana sampe tamat.🤗