Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 33~ Di Bawah Temaran Malam


__ADS_3

“Turunkan aku Ken! Turunkan!” Ayana terus berusaha memberontak. Ken tidak mengindahkan hal itu dan masih memanggul Ayana. Keterdiaman dan cara Ayana menjauhinya membuat Ken merasa kesal sekali.


Tadi ia menahan diri agar tidak menyela di tengah pekerjaan Ayana. Namun matanya menatap galak pada dua pria yang menjadi klien Ayana.


Apa maksud dua pria itu malah mengajak bertemu di klub. Tempat dimana kubangan maksiat berlumur.


Kepala Ayana terasa pusing saat Ken menurunkannya. Alex yang saat itu di dalam mobil terkejut mendapati sang tuan muda keluar bersama Ayana.


Jadi ini yang membuat tuan muda menyuruh putar balik arah. Pantas saja terus mengumpat di perjalanan.


Ah pantas lah pikirnya.


“Kita perlu bicara ayana.” Ken berusaha mematut Ayana agar diam dan menatapnya.


Ayana berdiam memberikan Ken merengkuhnya.


Ken terdiam cukup lama sekali memandang Ayana yang terus menatap ke arah lain.


Ia meniup mata Ayana secara tiba-tiba. Membuat si pemilik mendongak kesal.


“Ken!”


“Bagus, begini seharusnya. Lihat orang yang akan berbicara denganmu.”


“Dengar Ayana. Aku, aku...maaf sekali. Aku tidak bermaksud menuduhmu berbuat hal begitu. Aku hanya frustasi kamu seharian ini tidak bisa dihubungi saat ditemukan kamu malah bersama dengan dua orang pria dan itu pun di dalam klub. Aku...aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku tadi.”


“Maaf ya sayang.” Ken bersuara lembut sekali, matanya memang menunjukkan sinar permohonan maaf. Seluruh tubuhnya benar-benar meminta maaf. Semuanya.


Ayana menggigit bibirnya. Cara Ken meminta maaf itu membuat hatinya yang tadi kesal dan amarahnya memuncak sekarang mulai melunak.


“Hem.” Ayana hanya menyahut dengan bergumam. Namun Ken menerbitkan senyumnya dan menghadiahi Ayana dengan kecupan tak berkesudahan. Membuat Alex yang tadi melirik-lirik langsung memalingkan wajah.


Mereka sudah menjadi sepasang kekasih tenyata.


“Ken, ini di muka umum.” Ayana menangkup wajah Ken agar berhenti menciuminya. Dia heran juga bagaimana bisa Ken mau mencium dirinya yang sudah kusut seharian ini.


“Kalau tidak di muka umum boleh lebih?” Ken sontak mendapat cubitan di perutnya, membuta dia mengaduh.


“Sembarangan! Sudah aku mau pulang.” Ayana berusaha menggeser Ken.


“Aku akan mengantarmu.”


“Mana bisa Ken. Aku pergi bersama Shera tadi, kami pulang bersama juga.”

__ADS_1


“Bawa saja Shera ikut, kita pergi makan malam juga.”


“Aku belum malam malam, apa kau tidak mau menemaniku?” Lanjut Ken dengan nada dan mata yang meluluhkan.


Ayana terdiam sejenak memandang Ken. Ia menghela nafas. Kemudian menggangguk pasrah.


“Aku akan bicara dulu dengan Shera.” Ujar Ayana. Ken mengekori mencari keberadaan Shera.


Sementara Shera gadis itu sedang menatap Dev dengan galak.


“Kau, apa maksudmu memberitahu keberadaan Bu Aya pada tuan itu?” Langsung bicara pada intinya saja. Sudah berada di luar klub.


Dev malah tergelak lebih dulu.


“Apa yang kau tertawakan di sini? Tidak lihat aku sedang marah sekarang!”


“Kau itu lucu gril, siapa namamu?”


Shera hampir ingin menjambak rambut Dev.


“Kau tidak perlu tau siapa namaku! Dan juga beraninya kau mengatakan aku ini lucu! Padahal aku sedang marah sekarang!” Makin kesal.


“Awas saja sampai nanti kita bertemu dan kau membuat kekacauan lagi. Akan ku banting tubuhmu!” Ancam Shera tak main-main.


“Banting tubuhku.” Lanjut Dev.


Memang serasa memprovokasi Shera.


“Oh kau meremehkan kemampuanku ya.” Shera sudah pasang ancang-ancang akan menjungkirbalikkan balikan Dev.


Ia mengambil tangan kanan Dev dan akan menggulingkannya namun tubuh Dev keras sekali dan tidak bisa disentak.


Shera malah terkejut data laki-laki itu memeluknya dan mengangkat Shera hingga naik dari atas tanah.


“Aaaaaa! Turunkan sialan!” Shera berusaha memberontak.


“Siapa namamu?” Tanya Dev tenang. Merasa semakin lucu dengan tingkah pemberani Shera.


“Kau tidak perlu tau! Turunkan aku!” Ketus Shera.


“Tidak akan sebelum kau menyebutkan namamu gril. Atau kau lebih senang dipanggil dengan nama buatanku saja.” Goda Dev.


“Markonah! Namaku markonah puas! Turunkan aku.” Bohong sekali Shera.

__ADS_1


“Jangan berbohong atau kau akan tetap memggantung di sini semalaman, atau bisa juga kau malah terperangkap di kamar milikku.”


“Sialan! Namaku Shera oke! Turunkan aku.”


“Nice, sesuai namanya.” Namun saat Shera merasa dia akan terbebas, matanya terbelalak saat Dev membalikan tubuhnya dan malah mencium bibirnya.


Sontak saja dia menampar Dev!


“Berani sekali kau menciumku sembarangan!” Shera marah sekali. Matanya tampak membara.


“Kau laki-laki sialan!” Shera menunjuk Dev dengan jari tengahnya.


“Shera.” Suara Ayana terdengar, membuat dia segera menatap ke arah suara.


“Iya bu.” Berusaha menormalkan rasa keslanya. Tangannya terkepal di balik punggung. Ken yang melihat Dev sudah paham situasi.


“Kamu mau ikut dengan kami tidak? Kami akan makan malam dulu, kamu belum makan malam juga kan? Motornya nanti aja ngambilnya.”


“Tidak Bu, saya pulang saja dan makan di rumah. Saya permisi kalau begitu.” Sempat-smepatnya Shera melambungkan tasnya hingga hampir mengenai Dev kalau saja tidak menghindar.


“Ya sudah ayo ken.” Ajak Ayana. Tadi sempat juga melayangkan tatapan curiga pada Dev. Kenapa rasanya Ayana berpikir Dev sedang membuat Shera kesal.


“Sudah jangan menatap mata playboy itu, ayo.” Ken membawa Ayana menuju Dev. Dev hanya menggeleng pelan melihat hal itu.


***


Ken dan Ayana memasuki restoran. Alex memekikan reservasi tempat. Kaca-kaca besar mengelilingi tempat itu. Membuat segala penjuru terlihat transparan.


“Makanlah Ken, kenapa kamu malah melihatku.” Ayana heran sekali. Katanya Ken lapar tapi malam terus memandanginya.


Ken hanya mengulas senyum dan segera makan. Santai sekali mereka makan ditemani keheningan malam. Ayana pun merasa makanan restoran ini cocok sekali dengan mulutnya.


Mata Ayana menjelajah berpaling dan menatap sekitar. Matanya menyipit ketika mendapati sesosok yang dia kenal sedang berdiri di bawah temaran malam. Dekat dengan parkiran mobil.


Laki-laki itu! Tubuh Ayana menegang. Laki-laki itu yang membuat Ayana harus mematikan ponselnya seharian ini. Sebab merasa terkena teror.


“Hei kamu kenapa?” Ken menyentak Ayana.


“Itu...” Namun sosok itu sudah menghilang.


“Ti-tidak ada ken.” Ayana menggeleng lemah. Dia bisa mengurusnya sendiri. Tidak perlu melibatkan Ken.


Ken merasakan kecurigaan dengan gerak gerik Ayana. Dia hanya membatin dan coba mengamati situasi.

__ADS_1


__ADS_2