
Untunglah Ken menurunkan Ayana ketika sudah berada di depan perusahaan. Namun sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
“Ayo masuk.”
“A-aku harus kembali ke ruko Ken. Aku harus membeli makanan untuk pekerja.” Ayana membuat tubuhnya bertahan, berusaha menarik tangannya juga.
“Kalau memang begitu niatmu, kenapa kau sempatnya malah berboncengan dengan laki-laki itu?” Ken menghunus tatapan kesal.
“Aku hanya memberikan tumpangan padanya ken.”
Pembelaan diri Ayana membuat Ken berdecak.
“Tumpangan itu memberi celah untuknya, kalau saja aku tidak datang tadi mungkin kalian malah akan berkencan di cafe. Bukannya dia menawarkanmu minum tadi?”
Aaaa, dia mendengarnya rupanya. Kalau dia mendengarnya ini malah bertambah runyam. Wajahnya juga tidak mau mengalah.
Ayana cemberut. Ken menghela nafas. Lalu menatap Ayana lurus-lurus.
“Kau ingin menjadi sorot perhatian lebih lama, atau segera ikut masuk? Oh bisa juga kekasihmu ini akan kembali menggendongmu.”
“Ayo cepat.” Langsung takut dengan ancaman Ken.
Gila saja dia berniat memanggulku. Ditengah para karyawannya yang lalu lalang begini. Ah, kenapa mereka semua menyorotiku sih?
Padahal sekarang aku hanya memakai Kaos dan kelana jins. Rambut juga kucepol asal. Astaga! Mereka pasti merasa aku tidak pantas berada di dekat Ken.
Ken membawa tangan Ayana masuk dalam genggaman eratnya. Para karyawan berbisik melihat Ken yang bersikap demikian. Mereka ingat beberapa waktu lalu pernah melihat Ayana bersama Ken.
Mereka pikir Ayana hanya gadis yang muncul sebentar lalu menghilang. Semua orang terkejut mendapati Ayana lagi, apalagi terlihat lengket dengan Ken.
Ken masuk membawa ikut Ayana. Mereka sudah di dalam lift tersebut.
“Eh.” Ayana digeser secara tiba-tiba hingga berlindung di balik punggung Ken.
Sementara laki-laki itu terlihat menghunus pandang pada dua pasang mata yang tidak lain adalah karyawan perusahaan.
“Apa kalian juga ingin masuk?” Tanyanya dingin, pada dua karyawan pria itu.
“Kau! Kenapa kau menatap wanitaku?” Mata Ken berkilat penuh ancaman. Karyawan pria itu menjadi gelagapan.
Ayana mengerutkan keningnya.
Memangnya mereka melihatku ya? Kalau memang melihatku, terus kenapa?
“Ah maaf pak maaf.” Langsung membungkuk hormat, merasa wajah mereka pias.
“Ka-kami tidak ikut pak. Kami akan naik lift selanjutnya.” Mengeluarkan suara pun menjadi terbata. Sekalipun di perusahaan ini, mereka yang karyawan rendah tidak pernah berinteraksi dengan sang CEO. Namun sekalinya berinteraksi, mereka malah mendapat hunusan tatapan tajam dan peringatan.
Karena sudah berani, menatap wanita milik CEO!
“Baguslah. Bekerja dengan benar. Jangan menatap yang bukan milik kalian. Mengerti?” Ken akan membuat dua orang ini memahami bahwa gadisnya tak boleh dipandang sepuasnya.
Ken mungkin tidak mempertimbangkan dampaknya. Sebab gosip akan segera beredar.
“Me-mengerti pak!” Menjawab bersamaan. Tau bahwa itu peringatan keras.
“Pergi sana bekerja.” Usir Ken. Tak perlu disuruh pun mereka sudah ingin menjauh. Segera mereka melesat menjauh.
“Kenapa kau bersikap ketus begitu Ken dengan karyawanmu? Kalau mereka tidak menyukaimu bagaimana?” Ayana bertanya dengan mata polosnya.
“Aku tidak bisa membuat semua orang menyukaiku. Sudah pasti ada yang tidak menyukaiku di dunia ini.”
“Aku tidak perlu mereka yang bilang menyukaiku, namun dibelakang malah mencacimakiku. Aku tidak membutuhkan mereka yang penuh kepalsuan.”
Ken mengulas senyum tipis miris. Pandangnya lekat ke arah Ayana yang tampak polos dan mudah iba.
__ADS_1
“Kau saja sudah cukup untuk menyukaiku, tidak perlu banyak orang.”
Ayana tertegun, menatap manik mata Ken.
Lalu lift tertutup. Ayana tak bisa membantah ucapan Ken. Ken seakan berkata jujur bahwa dia dikelilingi oleh orang-orang palsu.
Dua karyawan pria yang diusir Ken tadi tampak saling menyalahkan.
“Kau yang membuat masalah! Kenapa kau malah menyenggol ku tadi!” Langsung menodong dengan nada kesal.
“Hei, kenapa kau malah menyalahkanku. Kau juga tertegun menatap wanita pak CEO. Jangan menyalahkan begitu.”
Ah pasrah dan menjambak rambut.
“Mati kita, kenapa sampai-sampai berani menatap wanita milik CEO. Ah, pak Ken kesal sekali tadi. CK.” Merasa gusar takut jika dia akan mendapat hukuman.
Mampus! Dua karyawan pria itu menjambak rambutnya. Seharusnya tadi mereka tidak spontan menatap wanita yang ada di samping sang atasan.
Sementara itu Ayana terjebak di sudut lift, Ken memaksa tangannya untuk melingkar di seputaran perut laki-laki itu.
“Apa perlu begini Ken? Aku juga tidak bisa kabur. Lift ini tidak memilki celah.” Mulai bergerak ingin memisahkan diri. Merasa tidak nyaman juga didesak di sudut lift.
“Aku masih kesal sayang, jadi hal ini sedikit meredam kekesalanku. Jadi dari pada berpikir melepaskan diri. Berpikirlah cara merayuku.”
Apa? Mata Ayana terbelalak mendengar penuturan Ken itu.
Kau ingin aku merayumu? Kenapa dia kekanakan begini sih. Astaga, bagaimana cara merayu. Hiks...
***
Mereka masuk ke dalam ruangan Ken. Belum juga Ayana bisa bernafas lega untuk duduk di sofa, Ken malah menariknya hingga Ayana malah duduk di pangkuannya.
“Ken! Bagaimana kalau ada yang melihat? Lepas!” Memukul tangan Ken.
Kenapa dia begini? Astaga, kumohon jangan menggila begini.
“Ken.” Menegur.
“Diamlah, aku sedang kesal sekali sekarang.” Malah menggigit keras pundak Ayana.
“Auu! Kenapa kamu mengigitku!” Langsung berpaling dan berusaha melarikan pundaknya. Ken menjadi aneh.
“Hukuman sayang. Dan ini belum berakhir.” Mata Ayana terbelalak. Jadi Ken memang ingin menghukumnya?
“Coba berpaling duduk menghadapku.”
Ayana meneguk ludahnya. Jangan bilang Ken ingin dia dalam posisi tetap duduk di pangkuan Ken. Namun dengan kaki yang mengangk*ng.
Dan tidak perlu ditunggu lagi Ayana sudah dibalik Ken dengan mudah. Tangan Ken mendekap tubuh Ayana dengan erat. Tak bisa membuat Ayana menghindar.
“Ka-kamu mau apa Ken?” Menjadi gugup, dan wajah Ayana memerah. Mereka sangat dekat sekali. Tangan Ayana menekan dada Ken, menahan pria itu agar tidak bertindak jauh.
“Memberi hukuman sayang.” Menyentak tangan Ayana hingga memeluk seputaran lehernya.
Ayana meneguk ludahnya hidung mereka saling menyentuh, pipi Ayana memerah.
Ken memandang lekat wajah Ayana yang terlihat sangat manis. Semburat rona merah di pipi Ayana membuat Ken merasa geli.
“Cium aku.”
“A-apa?”
Ayana tidak salah dengar kan.
Dia ingin aku menciumnya? Dalam posisi ini?
__ADS_1
“Kalau kau terus mengulur waktu maka durasi hukumannya akan menjadi lebih lama.”
“Ja-jangan!” Langsung setengah berteriak.
Ken mengulas senyum kemenangan. Lalu dia mengecup bibir Ayana dan menyesapnya sejenak. Merasa tidak tahan dengan kedekatan mereka.
“Kapan kau akan memulainya sayang?” Tanya Ken dengan nada jahil.
Dia benar-benar keterlaluan.
Ayana dengan ragu mendekatkan bibirnya ke arah Ken. Dia tidak pernah sekalipun ia memimpin ciuman mereka. Biasanya Ken yang selalu lebih dulu menciumnya. Dan ia membalasnya dengan segala pengajaran ken yang lihai.
Ken tersenyum, bibir Ayana yang lembut menyentuh permukaan bibirnya. Bibir itu dengan malu-malu dan lembut, melum*at bibir kan. Bibir atas, lalu bibir bawah, dan kemudian Ayana meraup bibir Ken dalam satu *******.
Ken menggeram dan semakin membuat Ayana masuk dalam pelukannya. Mengelus punggung Ayana. Merasa tidak tahan dengan cara ciuman Ayana yang begitu lembut dan berhati-hati.
Ken mengambil alih, ia menyergap bibir Ayana. Menyesapnya dengan kuat, membuat mata Ayana terbelalak. Namun kemudian tangan Ayana begetar menahan diri ia meletakan tangan mungilnya di leher Ken.
Decapan ciuman itu memenuhi ruangan. Ken yang lihai mengambil alih. Lalu setelah terlepas. Nafas mereka saling menderu. Wajah Ayana sangat merah, bibirnya terlihat bengkak akibat Ken yang begitu kuat menciumnya.
Ken tergelak, lalu menciumi seluruh permukaan wajah Ayana.
Cup...cup...cup...cup...cup...
Kening, kelopak mata, hidung, pipi, dagu dan bibir. Semuanya tidak luput dari ciuman Ken.
“Jangan membuatku kesal lagi sayang. Jangan terlihat berdekatan dengan pria lain. Aku paling tidak suka hal itu.”
Ayana hanya bisa mengangguk menanggapi Ken. Supaya semuanya cepat selesai itulah pikirnya.
Ayana dan Ken masih berusaha mengembalikan nafas mereka yang tak teratur. Mereka saling pandang. Dan Ken tidak tahan ingin kembali menyergap Ayana dalam ciuman yang hebat.
Namun...
Dan tanpa diduga, pintu ruangan itu terbuka.
Brak!
“Siapa yang membuka...” Pintu tanpa ijin...
Mata Ken terbelalak sama halnya dengan Ayana. Disana mereka melihat dua sosok yang syok melihat posisi mereka.
Ayana segera turun dari pangkuan Ken. Sungguh sekalipun ia tidak pernah menyangka akan bertemu dua sosok itu kembali dalam situasi sedang duduk di atas pangkuan Ken.
Ken menjadi gelagapan. Sementara keringat dingin mulai memenuhi keningnya, merasa tatapan yang salah satu sosok itu menghunus tajam sekali.
Ia meneguk ludahnya sebelum berbicara dengan nada syok.
“Mommy, Daddy? Ke-kenapa kalian ke sini?”
Benar sekali! Disana yang sedang berdiri dan membuka kasar pintu. Orang itu tidak lain adalah sang mommy Angel, dan snag Daddy Hans.
Ini adalah hari paling gila yang pernah Ayana alami. Dua pasang mata itu masih tampak terdiam. Hans dan Angel menatap putra sulung mereka dengan tatapan tajam.
.
.
.
Jangan lupa kunjungi Ig khusus novelku...
Disana aku akan kasih info seputaran novelku...
Cus yok
__ADS_1
IG: _tya_1013